Alhamdulillah bertemu lagi dengan ramadhan 1442 H

Alhamdulillah dipertemukan lagi dengan ramadhan. Ramadhan kali ini berada di tahun 1442 H. Alhamdulillah sudah berbeda dengan tahun lalu. Ini terkait dalam merespon pandemi covid 19. Tahun ini pemerintah sudah agak longgar dalam mengizinkan kaum muslim untuk melaksanakan shalat tarwih berjamaah di masjid. 

Pihak yang paling longgar lagi adalah masyarakat. Tanpa disuruh untuk taat pada protokol kesehatan pun masyarakat tidak peduli lagi. Orang-orang jenuh dengan keberadaan pandemi yang membatasi gerak gerik manusia di ruang publik ini. Karenanya bagi umat muslim yang senang menyambut bulan ramadhan mulai antusia ke masjid untuk tawih berjamaah. Berbeda dengan tahun lalu dimana pemerintah begitu ketat dalam aturan shalat berjamaah. Sekarang seperti yang saya katakan tadi bahwa pemerintah sudah melonggarkan kebijakannya.

Ramadhan memang suasananya berbeda dengan bulan-bulan lain. Ada sesuatu yang unik. Ada aura dengan rasa yang khas. Misalnya di sore hari jika kita berada di kota, kita akan melihat banyak penjual takjil (menu buka puasa) yang berjejer di ruas jalan tertentu. Ada juga yang saling berbagi buka puasa. Makan sahur bareng. Ke masjid sama-sama, bahkan memantau cewek-cewek bagi lelaki jomblo siapa tau nanti dapat jodoh karena salah satu nilai plus shalat tarwih adalah tempat berkumpulnya ukhti-ukhti kompleks. Kalimat yang barusan pernah saya baca, entah dimana. Serta segala hal yang sering dirindukan ketika bulan ini beranjak pergi.

Bagi saya, ramadhan adalah bulan interupsi (teguran). Bulan yang mengajak kita untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk kehidupan dunia yang memikat. Kita diajak untuk “kembali” ke Allah yang selama ini mungkin kita abaikan. Kita tempatkan dia di daftar prioritas paling bawah. Dia bukan nomor satu. Padahal, hidup tidak harus seperti itu. Hidup adalah upaya untuk menempatkan Allah pada prioritas tertinggi. Tidak ada yang boleh melebihiNya.

Jika bekerja maka seharusnya gaji misalnya, tidak boleh jadi tujuan utama. Tempatkan niat di lubuk hati terdalam bahwa kerja adalah ibadah yakni perintah dari Allah. Adapun uang yang diperoleh itu hanya plus. Sebenarnya, menurut saya, bisa saja niat kerja cari uang. Asalkan uangnya diniatkan akan digunakan untuk kebaikan. Insya Allah akan dapat pahala. Wallahualam. Tapi bagi saya perjuangan untuk meluruskan niat atau menempatkan Allah dalam nomor satu diniat kita adalah pekerjaan yang berat dan butuh latihan serta konsistensi.

Lebih lanjut, Allah menyuruh kita untuk meningkatkan ibadah (taqwa) di bulan ini. Pahala pun dilipatgandakan. Makanya, dalam Al Quran, Allah menyebutkan tujuan puasa adalah agar kita sebagai muslim menjadi makhluk yang taat. Wallahualam. Ukuran taat bukan hanya di bulan ramadhan, melainkan di semua bulan. Jangan sampai rajin sedekah di bulan puasa tetapi setelah keluar dari bulan ini kita jadi manusia yang kikir. Oleh karenanya hasilnya akan terlihat ketika kita keluar dari ramadhan. Apakah benar-benar konsisten dalam kebaikan atau tidak. Jika khilaf kita harus kembali sadar untuk kembali tidak melakukan salah. Dengan serius tentunya. Ayo.

Saya tidak menggurui. Saya hanya saling mengingatkan. Maafkan lahir batiku. Selamat berpuasa dan ibadah-ibadah lainnya. Allah merahmati kita semua. 

~2 ramadhan 1442 H dan sekarang masih 13 April 2021. 1 Ramadhan jatuh pada 13 April 2021. Bingung? Cari sendiri.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Idealisme vs Pragmatisme

berpuasa tontonan untuk kreativitas (tentang film kera sakti)

Cerita dengan kawan dari timor leste