Postingan

Taliban dan Yahudi

Kemenangan Taliban di Afghanistan atas Amerika dan Pemerintahan Afgahnistan sebelumnya melahirkan perbincangan di seluruh dunia. Berbagai perpektif muncul untuk membahas ini yang salah satunya muncul dari media Jerusalem post. Media ini mengangkat keterkaitan antara Yahudi dan Taliban. Taliban sebagaimana di ketahui di dominasi dari suku pastun di Afghanistan.  Dari pembahasan yang diangkat oleh Jerusalem post dikatakan bahwa ada indikasi atau bukti bahwa suku pastun merupakan keturunan dari Yahudi. Nenek moyang mereka dahulu adalah Yahudi yang kini mayoritas tinggal di Israel. Beberapa pernyataan dari akademisi terkait ini baik dari kalangan islam maupun barat. Di sisi DNA, salah satu risert mengungkapkan, DNA warga yahudi di Israel memiliki hubungan yang kuat dengan salah satu klan suku pastun. Namun, Taliban berusaha untuk menghapus sejarah terkait itu. Apalagi meskipun bukti benar-benar mengungkapkan fakta kebenaran bahwa nenek moyang Pastun adalah Yahudi, maka tidak akan merubah k

20 tahun 9/11

Gambar
Sumber foto: Roberto Robanne/AP Hari ini telah 20 tahun, Amerika akhirnya menyelesaikan pendudukannya di Afghanistan. Awalnya mereka ingin memburu Osama bin Laden pimpinan organisasi esktrimis Al Qaida dan menggulingkan pemerintahan Taliban yang sedang berkuasa saat itu di Afghanistan. Namun, dalam pidato penegasan penarikan mundur seluruh pasukan Amerika di Afghanistan, Joe Biden, Presiden Amerika, mengatakan bahwa tujuan utama mereka untuk mengurangi ancaman terrorism di bumi Amerika.  Amerika menyakini selama ini Afghanistan dijadikan ladang persemaian bibit-bibit terrorism, seperti pelaku pemboman gedung WTC sebagai simbol kapitalisme Amerika yang dikenal dengan peristiwa 9/11. Pelaku yang bertanggung jawab adalah organisasi Al Qaida.  Biden mengklaim apa yang telah dilakukan oleh Amerika di Afghanistan telah sukses. Benar, data menunjukan aksi terror dari kelompok ekstrimis islam di Amerika mengalami penurunan yang signifikan. Aksi terror yang paling banyak terjadi, berjumlah 2/3

Selamat datang hal yang tidak ideal tapi kita butuh yang ideal

Semester tiga dimulai. Kuliah masih online. Tidak ada perubahan dari dua semester sebelumnya. Awalnya ada rencana kuliah ‘hybrid’ atau kuliah kombinasi online dan offline tapi karena perkembangan covid19 dengan munculnya varian baru yang lebih membahayakan, maka akhirnya rencara itu diurungkan.  Kampus tidak mau ambil resiko. Tentunya kampus yang dimaksud adalah keputusan rektor setelah berdiskusi dengan pihak-pihak terkait. Apalagi kampus saya, Universitas Indonesia, terletak di kota dimana terjadi banyak korban dari penyakit menular secara global ini. Entah sampai kapan pandemi ini berakhir. Dunia telah dan sementara berjuang untuk mengatasi masalah ini. Vaksin yang dianggap sebagai obat ternyata tidak sepenuhnya efektif. Belum lagi masalah-masalah atau efek samping yang dihasilkan. Selain itu, performa vaksin pun ternyata, menurut hasil penelitian, tidak maksimal. Bahkan mengalami penurunan kemampuan. Di sisi virus, terjadi juga mutasi ke jenis yang lebih kuat dari sebelumnya.  Kend

Covid 19; baiknya sekolah dibuka saja

Gambar
Acara pernikahan diizinkan sedangkan sekolah diliburkan. Hal ini yang terjadi di kampung saya. Banyak orang tua yang mengeluh tentang perihal ini. Alasannya Karena anak-anak mereka tidak lagi bisa belajar secara efektif. “Anak-anak akan bodoh”, kata salah satu orangtua dengan kecewa.   Pernyataan tersebut benar karena belajar langsung di kelas (offline) merupakan model belajar yang paling cocok untuk anak-anak di kampung saya. Model belajar secara online sangat tidak cocok. Banyak masalah tentunya. Salah satunya anak-anak lebih banyak menggunakan “smart phone”nya untuk game online dibanding belajar. Kurang lebih sejam yang lalu, saya menonton televisi. Tidak sengaja saya berpindah ke acara diskusi terkait pendidikan di era pandemi covid 19. Topiknya adalah “Sekolah dibuka: orang tua dan guru ‘was-was’”. Membaca topik ini, pikiran saya terlintas “Waduh, akan online lagi ini. Tambah bodoh anak-anak sekolah”.   Terus terang, saya ingin agar sekolah di kampong saya di buka saja. Apapun kon

Cerita dengan dua nenek penjual

Dua hari yang lalu, saya ke pasar mengantar ibu. Sekalian saya membeli beberapa barang yang selama ini telah saya rencanakan. Sering juga barang yang tidak saya rencanakan. Hal ini adalah sesuatu yang wajar karena saya sering tertarik membeli suatu barang ketika barang itu terlihat. Pasar Laelangi. Demikian pasar ini dikenal. Setelah mutar-mutar mencari barang yang dicari ibu, kami akhirnya sampai di area penjual sepatu. Cukup banyak sepatu yang dijejer di situ. Penjualnya pun juga demikian, meski pasti lebih banyak sepatu yang berjejer tersebut.  Saya memang ingin membeli sepatu. Lebih tepatnya sepatu yang mungkin bisa dikatakan semi sepatu. Pasalnya, saya bisa gunakan layaknya sandal. Tapi sepatu tersebut bisa juga difungsikan sebagai sepatu layaknya sepatu pada umumnya, bahkan bisa dipakai dalam ruang-ruang formal. “Ini berapa harganya?” tanyaku ke seorang nenek, meskipun belum renta. Sebenarnya agak ragu juga sih menyebut mereka nenek. Beliau cukup enerjik dari tampakan dan caranya

Sayur tanpa garam, Merdeka !!!

Gambar
Hari ini tanggal 17 agustus 2021. Semarak peringatan kemerdekaan Indonesia terjadi di banyak tempat di Indonesia. Di media sosial, hal-hal tersebut dapat dilihat. Orang-orang tidak sedikit yang menyiarkannya. Hal ini juga membuat atmosfernya semakin terasa. Biasanya di setiap kelurahan atau desa termasuk di dalamnya adalah RT dan RW, sering ditemukan berbagai perayaan. Banyak hal yang biasa dilakukan misalnya mengadakan pertandingan dan perlombaan antar warga. Salah satunya terjadi di kampung saya.  Sayangnya tahun ini tidak diselenggarakan. Lagi-lagi Karena pandemic Covid19. Pemerintah yang biasanya sebagai penyelenggara kegiatan-kegiatan tersebut tidak melaksanakannya.  Kalau di kampung saya, tanggal 17 agustus adalah puncak segala kegiatan perayaan tersebut. Bagi kompetisi yang belum selesai akan segera diselesaikan. Di hari ini tanggal 17 juga biasanya akan ditutup dengan gerak jalan indah yang diikuti oleh banyak pihak baik sekolah maupun masyarakat. Malamnya (malam tanggal 18 agu

Hujan dan CLBK

Gambar
bocah yang sedang bermain di bawah hujan. ada seorang lagi tapi tidak sempat tertangkap kamera Hujan. Cucianku tidak segera kering. Padahal awalnya saya optimis akan segera kering karena matahari tampak terik. Entah kenapa tiba-tiba cuaca berubah drastis. Awan tiba-tiba berkerumun di langit dan menutupi mentari. Sinarnya pun terhalangi untuk sampai di bumi. Cucianku yang sedari tadi bersedia menerima teriknya, akhirnya tampak lunglai.  Saya seketika teringat Voldemort dalam serial film Harry Potter. Tokoh jahat yang merupakan musuh Potter ini biasanya kalau datang maka langit akan seketika mendung. Aura gelap dan menakutkan akan menyelimuti bumi. Potter segera waspada. Demikian juga kawan-kawannya seperti Ron dan Harmoni (maaf kalau penulisan nama dan gelar tidak sesuai. Undangan? Wkwk). Kira-kira seperti itu suasananya, meskipun tidak sama persis dengan kedatangan Voldemort. Wkwkwk Saat awan gelap itu mulai tampak, keraguan datang menghampiriku. Kakiku enggan menuju jemuran untuk meng