Postingan

Tokoh dan Topeng

Terus terang perasaan apatis saya terhadap politik berada pada level tinggi. Apatis dalam hal tidak ingin lagi menonton, mendengar dan membaca apapun tentang politik di Indonesia. Hal-hal yang ideal yang harus terjadi, tapi tidak terjadi. Malah diplintir oleh kekuasaan.  Kekuasaan bisa didefinisikan dalam banyak hal. Tidak hanya kekuasaan politik. Melainkan juga kekuasaan ekonomi, media dan lain sebagainya. Bersatunya semua kekuasaan-kekuasaan ini, bisa dikatakan semua selesai. Tidak ada lawan. Mampus hadapi mereka. Kendati demikian, tidak berarti tidak bisa dikalahkan.  Dalam agama saya: islam, kekuasaan-kekuasaan tersebut hanya makhluk kecil yang kalah dengan kekuasaan Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah Maha Besar. Jadi minta padaNya saja. Kendati demikian saya juga butuh dan terkadang membaca berita untuk tau apa yang sedang terjadi. Sayangnya, berita yang saya dari kemarin adalah berita yang memuakan bagi saya. Kalau kata kawanku: “bangsat”.  Berita tentang seorang

Tidak tau mau menulis apa

Hari ini seharian di rumah, tidak keluar-keluar. Palingan cuman jemur pakaian sembari sesekali cek apakah awan hitam benar-benar akan menurunkan hujan atau tidak. Selain takut hujan, alasan untuk tidak keluar rumah adalah karena memang tidak ada keperluan yang mendesak. Selain itu, memang rasa malas untuk keluar sedang memberatkan jiwa dan ragaku.  Stagnasi dalam rumah atau tempat itu-itu saja akan membuat kita, eh saya, bisa kering inspirasi, termasuk inspirasi untuk menulis. Benar, inspirasi bisa didapatkan di tempat-tempat baru bahkan di tempat yang mungkin dianggap oleh orang lain sebagai tempat biasa. Bahkan tidak dianggap sama sekali sebagai tempat yang bisa melahirkan inspirasi.  Misalnya, tempat sampah yang kotor. Tempat ini bisa melahirkan banyak deratan kalimat. Mulai membahas kenapa harus ada tong sampah. Kenapa ada yang buang sampah di tempat itu. Siapa yang sering datang mengais-ais sampah di tempat itu. Untuk apa. Dan apapun yang kira-kira bisa menjadi bahan diskusi dalam

Legalizing investment of alcohol

Pro and con come to the Indonesian public after the government, President Jokowi, issued a decision to legalize the investment of alcohol. Indeed, the government aims to help the economy amid pandemic covid 19 which has been slowing down economic growth even destroy the economy.  Every single country including Indonesia faces economic problems and struggles for recovering its economy. Those especially Islamic adherents who disagree with the government policy commonly see in the Islamic perspective. Islamic teaching says that alcohol and other similar drinks are forbidden to drink. A new perspective to criticize the government which considers that the investment in alcohol will help increase the economy comes from Drajat wibowo, a researcher in a think tank. Investment in alcohol, according to him cited from a national mass media, can hurt the economy. He bases his statement based on research conducted in some countries like America and the other countries.  The research explains that l

Orang baik dan orang jahat

Banyak yang kaget dengan tertangkapnya oleh penegak hukum KPK (komisi pemberantas korupsi) orang yang selama ini dianggap baik oleh kebanyakan orang. Kasus ini terjadi di Sulawesi Selatan yakni pada Gubernurnya yang selama ini memiliki prestasi yang baik.  Tapi apa mau dikata, penangkapan yang dilakukan oleh KPK tersebut membuat bangunan kepercayaan yang selama ini telah dibangun akhirnya harus runtuh seketika. Memang benar, bahwa penetapan tersangka, tidak serta merta pasti salah.  Dalam hukum di Indonesia, status tersangka adalah masih didefinisikan “dugaan” atau belum bersalah. Salah tidaknya akan dibuktikan di pengadilan nanti. Tapi kalau pengalaman-pengalaman yang sudah ada, operasi tangkap tangan biasanya membuat orang yang tertuduh tersebut susah mengelak. Alias benar-benar salah. Tapi kita tunggu proses hukum bekerja.  Selain itu, banyak masyarakat yang tidak paham dengan status tersangka. Seolah sudah pasti salah. Tersangka berarti salah. Akhirnya persepsi publik terhadap sang

Saling mengingatkan dan mengajak pada kebaikan

Kabar di kampung tentang pergaulan bebas serta prostitusi yang melibatkan masyarakatnya semakin santer terdengar. Hal ini menjadi desas desus yang semakin membesar. Apalagi telah beredar beberapa video yang tak senonoh tersebut.  Dan menurut informasi yang beredar, video yang serupa masih ada lagi. Ibarat gunung es. Sesuatu yang kelihatan dipermukaan tampak sedikit tapi yang masih di bawah laut (yang tidak tampak) justru sangat banyak. Hanya saja, video-video itu belumlah muncul.  Terkait ini sebenarnya telah tampak begitu jelas. Sebenarnya juga bukan hanya sex bebas melainkan minuman keras, perselingkungan dan tindakan melanggar normas sosial dan hukum lainnya. Namun, kasus-kasus tersebut bisa dikatakan baru heboh sekarang karena mungkin levelnya sudah memprihatinkan. Dan mengusik masyarakat lain, terutama ibu-ibu. Dari sekian kasus, pergaulan bebas dan prostitusi yang cukup mendapat tempat dalam pembicaraan masyarakat. Pasalnya, di kampungku, hal ini masih merupakan hal yang sangat t

Awal kuliah semester dua

Minggu ini saya memulai kuliah semester dua di program magister di Universitas Indonesia. Kuliah masih dengan cara online karena pandemi Covid 19 belum kunjung redah. Entah sampai kapan.  Terus terang kuliah online lebih sulit dari kuliah secara off line dimana saya akan duduk di dalam kelas sembari berinteraksi secara langsung dengan dosen dan teman-teman. Awalnya saya berpikir sebaliknya bahwa dengan kuliah jarak jauh dari rumah akan lebih santai. Padahal tidak demikian.  Otak harus dipaksa bekerja lebih keras. Belum lagi distraksi (gangguan) begitu banyak misalnya menoleh ke kanan, ke kiri atau beranjak dari tempat duduk untuk memastikan “meong” adalah benar-benar suara kucing dan lain sebagainya.  Gangguan teknis juga sering menjadi masalah. Sebab, kuliah online sangat tergantung pada tekhnologi seperti leptop atau smart phone serta jaringan internet yang bagus. Kalau tidak demikian, yah, tidak akan bisa menjalaninya. Saya pikir, semester ini akan tampak lebih santai di banding sem

Bincang-bincang santai

Pagi tadi saya sengaja singgah di perkmpulan beberapa orangtua yang sedang duduk santai sebelum memulai pekerjaannya membuat sebuah rumah. Saya nimbrung dalam percakapan mereka. Cukup betah saya di situ. Pasalnya mereka sedang menceritakan pengalamannya masing-masing. Pengalaman yang sulit ditemukan di ruang-ruang sekolah formal. Yang mereka ceritakan bukan tentang teori-teori akademik, melainkan kisah hidup yang pernah mereka jalani.  Hal yang membuat perbincangan mereka menarik untuk di dengar adalah nilai-nilai hidup yang terkandung dalam cerita. Cerita mereka penuh dengan perjuangan. Hidup mereka cukup keras untuk membuat asap dapur terus mengepul. Hal lain adalah banyak sejarah hidup yang terungkap dalam cerita mereka. Sehingga selalu menarik untuk dinikmati. Bagi orang yang cukup banyak bersentuhan dengan dunia akademis, apalagi saya yang sekarang sedang melanjutkan studi magister, kisah-kisah mereka cukup memukau. Dari cerita tersebut seoalah membuat saya semakin tersadar untuk