Dua kalimat yang menginspirasi

Entah kenapa beberapa malam yang lalu dan tentunya sampai sekarang, saya cukup suka dengan dua kalimat ini: “satu pintu akan membuka pintu lain” dan “pantaskan diri untuk memperoleh yang pantas”. Sebenarnya dua kalimat tersebut bukan hal yang baru bagi saya. Saya sudah sering mendengarnya. Bahkan sering muncul dari pengalaman-pengalaman dan perenungan hidup yang saya alami. Tapi memang terkadang belum masuk menusuk ke sanubari hati yang paling dalam. Saya yakin karena ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat suatu kalimat yang mungkin sebelumnya tampak biasa, namun dikondisi tertentu bisa menjadi luar biasa.

Kalimat pertama tadi, saat seorang teman (senior) menuliskan di salah satu grup media sosial WhatsApp. Dia mengomentari suatu informasi yang berisi ajakan. Dia mengatakan bahwa kalimat itu dia dapatkan dari pengalaman hidupnya. Mungkin kalau ditafsirkan kira-kira maksudnya seperti ini: satu pintu adalah satu pencapaian. Setelah mencapai satu pencapaian (sukses pada suatu event atau bidang) tersebut akan membuka peluang (pintu) lain. Tafsiran ini sebenarnya juga dari hasil perenungan saya sebelum senior tadi menulis kalimat inspirasi di atas. Ini tidak sombong. Saya percaya pembaca blog ini (kalau kebetulan tidak sengaja membaca atau benar-benar sengaja) pernah juga mengalami apa yang saya renungkan.

Jadi kalau misalnya kita berhasil mengikuti suatu kegiatan dimana kegiatan tersebut butuh perjuangan untuk meraihnya, maka disitulah “nama” kita akan muncul. Atau brand. Atau prestasi. Orang-orang akan melihat kita. Setelah itu akan mendorong orang atau pihak lain untuk mempercayakan kita untuk melaksanakan sesuatu. 

Mungkin barusan terlalu filosofis. Jadi begini: senior saya tadi mengikuti program pertukaran pemuda muslim ke luar negeri selama beberapa minggu. Dia terpilih menjadi peserta yang mengalahkan banyak competitor. Dia juga sukses mengikuti semua kegiatannya dalam pertukaran tersebut. Dari situ, dia sudah dikenal oleh orang. Kualitas dirinya dengan berbagai potensi yang dimiliki mulai memancar sehingga semakin dikenal orang. Orang lain mulai mempercayakannya untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan khusus, misalnya dipanggil jadi pembicara dan lain sebagainya. Dia berhasil membuka satu pintu dan dari situ pintu-pintu lain mulai terbuka.  Kira-kira begitu maksudnya.

Kemudian yang kedua adalah “pantaskan dirimu untuk memperoleh yang pantas”. Kalimat ini saya dapat dari salah satu komentar di media sosial. Memang sering sesuatu yang berharga terdapat di tempat-tempat yang dianggap orang biasa saja. Jadi kalau saran saya sih, selalu jadikan tempat adalah perpustakaan dan orang adalah guru. Iqra !!! Bacalah !!!. 

Kembali ke topik, Orang tersebut mengatakan sebelumnya dia gagal meraih apa yang dia inginkan. Belakang dia sadar bahwa dia tidak berhasil karena kualitas dirinya belum pantas meraih itu. Karenanya, dia berusaha memantaskan diri untuk sesuatu yang dia inginkan. Dia memantaskan diri untuk sesuatu yang pantas.

Contoh kalimat kedua ini adalah jika ada lowongan kerja untuk jadi pemandu wisata dengan skill bahasa inggris yang bagus misalnya, maka jika sudah punya pengalaman dan memiliki keahlian berbahasa inggris yang baik maka peluang kita diterima sangat besar. Kita sudah memantaskan diri untuk sesuatu yang pantas atas diri kita. 

Saya kira ini berlaku pada semua bidang, termasuk dalam dunia tulis menulis juga. Bahkan dalam perihal jodoh. Kata ustad, jika kamu ingin menemukan jodoh yang baik maka baikkan dirimu. Jodoh yang pantas untuk orang yang pantas. Laki-laki/perempuan yang baik untuk laki-laki/perempuan yang baik juga. Untuk ukuran baik dan buruk atas seseorang, Allah yang paling tau takarannya. Waduh, kok lari ke jodoh ya? Pokoknya pantaskan diri saja deh untuk sesuatu yang pantas.

Saya sering mendapatkan kata-kata motivasi. Sering sekali. Saya juga sering mengingatkan bahkan mungkin menasihati teman dengan kalimat-kalimat inspirasi dan motivasi yang memukau. Tapi tidak berarti saya mudah melaksanakannya. Atau bahkan tidak berarti saya sudah melakukannya. Saya hanya berbagi saja. Seperti juga dua kalimat inspirasi di atas. Kita saling mengingatkan.

Ada satu hal lagi, bahwa sebanyak apapun kalimat motivasi/inspirasi yang didapatkan, semua itu akan sia-sia jika tidak dilaksanakan sekarang. Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan konsistensi. Aamiin.

~Baubau, 7 Ramadhan 1442 H / 19 April 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Idealisme vs Pragmatisme

berpuasa tontonan untuk kreativitas (tentang film kera sakti)

Cerita dengan kawan dari timor leste