Safara

Masjid Ashabirin Tomia, lagi doa-doa untuk Safara

Saat saya membaca berita kompas.id di rubrik internasional pada rabu (6 Oktober 2021), seketika ingatanku diseret ke tradisi yang ada di kampungku. Berita yang saya baca saat itu adalah tradisi masyarakat India yang mandi di sungai gangga. 

Tradisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari ajaran hindu budha yang dianut oleh mayoritas penduduk India atau dengan kata lain tradisi tersebut adalah ajaran agama hindu budha. Tujuan dari ritual itu adalah untuk menghapus dosa. Dari cerita yang sering saya dengar, dengan mandi di sungai gangga maka dosa-dosa akan bersih. Demikian ajaran yang mereka yakini.

Kenapa pikiran saya langsung menuju kampung saya? Karena pada hari rabu di tanggal yang sama juga terjadi kegiatan yang mirip. Kami menyebutnya “Safara”. Dari perbincangan sekilas dengan salah satu tokoh adat di kampung, dikatakan bahwa tradisi safara adalah sisa peninggalan tradisi Hindu Budha. 

Sebagai tokoh adat dan juga tetua kampung di bidang agama, beliau tidak lagi mengikuti tradisi tersebut karena ikut dalam tradisi tersebut sama saja dengan mengikuti ajaran Hindu Budha. Seperti jamak diketahui oleh banyak orang, sebelum islam masuk ke Indonesia termasuk ke kampung saya, agama hindu budha lebih duluan dianut. Sehingga banyak jejak-jejak ritualnya masih bisa ditemukan.

Meskipun dari hindu budha, tradisi safara juga telah mengalami pencampuran (sinkretisme) dengan ajaran islam. Saat usai shalat zuhur di Masjid, saya melihat ibu-ibu paruh bayah membawa bingkisan dan beberapa wadah yang memiliki isi tetapi saya tidak tahu persis apa isinya. Tapi barang-barang tersebut itu didatangkan untuk didoakan oleh beberapa orang tua yang ikut shalat di masjid. 

Doanya, tentu, adalah doa-doa yang biasa digunakan dalam kegiatan-kegiatan islam. Usai doa dibacakan maka orang-orang akan turun ke laut untuk mandi dan saling menyiram. Namun sebelumnya, di laut akan ada orang yang diminta untuk membaca doa sebelum acara siram menyiram dilakukan.

Tradisi lain yang dilakukan minimal sehari sebelum safara dilaksanakan adalah masyarakat akan membuat “Tombole”. Tombole adalah makanan khas yang bahan dasarnya adalah ubi kayu atau singkong. Ubi kayu tersebut akan diparut, diperas airnya kemudian dikeringkan. Setelah itu dibungkus dengan dedaunan. 

Ada juga memvariasikan rasanya dengan menambahkan gula atau perasa lain yang diinginkan. Setelah dibungkus rapi dan yakin bungkusannya tidak akan terbuka, maka akan dibakar dengan ditindih dengan batu-batu panas yang sudah dibakar. Saya masih ingat lebih dari dekade silam (saya tidak tahu persis tahun berapa), saya ikut membuat tombole karena keluarga saya membuatnya.

Saya bertanya kepada tokoh adat tadi alasan harus membuat tombole. Namun, beliau tidak tahu. Saya rencana akan melakukan “investigasi” lebih lanjut terkait ini. Aamiin.

~Tomia, 8 Oktober 2021 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Idealisme vs Pragmatisme

Hujan, dingin dan ayam di malam hari

berpuasa tontonan untuk kreativitas (tentang film kera sakti)