Senin, 02 Agustus 2010

DPR Malas

Dalam kehidupan demokrasi Indonesia, DPR (dewan perwakilan rakyat) adalah sala-satu lembaga pemerintahan yang merupakan elemen penyokong tegaknya demokrasi sejati. Demokrasi dapat terwujud apabila elemen penopang ini memiki reputasi yang baik. Jika yang terjadi sebaliknya maka konsekuensinya demokrasi sejati tidak akan tercapai.

DPR adalah pengejewantahan dari seluruh aspirasi rakyat Indonesia. Identitas ini menjelaskan kepada kita semua bahwa DPR lah yang seharusnya menjadi corong suara-suara harapan rakyat Indonesia. Segala tindakan yang mereka kerjakan adalah representasi dari seluruh rakyat Indonesia. Ketika reputasi lembaga ini bercitrakan baik maka sesungguhnya itulah gambaran masyarakat Indonesia. Sebaliknya, jika citra ini tercedrai maka itulah gambaran rakyat Indonesia.

Betapa kepercayaan besar rakyat Indonesia memilihnya (baca: wakil rakyat) untuk memperjuangkan keluhan mereka untuk sebuah keadilan. Namun ketika harapan ini tidak diwujudkan maka sungguh kepercayaan mereka telah dikhianati. Penghianatan inilah yang tengah terjadi pada rakyat Indonesia oleh DPR. Ketidakseriusan mereka menjalankan tugas dan tanggung jawab membuat mereka mengikis kepesrcayaannya sendiri di hadapan rakyat Indonesia.

Dalam kabinet 'Indonesia bersatu' jilid II, tergolong DPR mengalami penurunan drastis dalam kinerjanya. Ini sangat ironis karna seharusnya berjalannya waktu membuat lembaga ini semakin matang namun yang terjadi malah sebaliknya. Kalau begini adanya, bagaimana kondisi lembaga ini kedepan? Dan bagaimana nantinya nasib Indonesia kedepan?

Realitas memalukan telah mencuat di publik. Salah-satu tugas dan tanggung jawab anggota DPR untuk mengadakan berbagai rapat ternyata tidak dihadiri hampir 50% dari total anggota. Belum lagi, wakil rakyat yang hadir tidak semua mengikuti jalannya rapat secara serius. Padahal kita ketahui bersama para wakil rakat yang duduk di lembaga ini bukanlah anak-anak yang harus diatur dan diajari tentang kedisiplinan. Keberadaan mereka dilembaga ini adalah sebuah bertanda bahwa merekalah manusia-manusia yang terpilih dari sekian banyak masyarakat Indonesia untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat Indonesia yang diwakilinya. Namun lagi-lagi manusia-manusia terpilih itu hanyalah sebuah label yang membungkus ketidak-becusan mereka.

‘DPR bagai taman kanak-kanak’ demikian perkataan mantan presiden RI, KH Abdurrahman Wahid. Sungguh tepat dengan wajah DPR hari ini. Ketika hal ini telah terjadi maka dimanakah tempat rakyat akan mengaduh? Karna tidak mungkin lagi untuk mengaduh kepada 'taman kanak-kanak'. Meskipun tidak semua anggota DPR melakukan berbagai tindakan memalukan ini namun tetap lembagalah yang menjadi sasaran. Stereotip ini adalah sebuah tantangan besar bagi lembaga penegak demokrasi ini.

Apa yang dilakukan oleh oknum wakil rakyat ini bukan hanya mennggambarkan kondisi lembaga legislatif yang menaungi mereka. Dibalik itu kita tidak bisa lepaskan dari background partai politik tempat mereka bernaung. Karna mereka adalah kader partai yang membawa cita-cita (pemikiran/ideologi) dari partai politik yang merupakan alat perjuangan mereka. Dengan kata lain selain menggambarkan wajah lembaga legislatif (DPR) juga menggambarkan wajah dari partai politik Indonesia sekarang. Dan tak kalah pentingnya juga inilah kepribadian individu para wakil rakyat.

Inilah sedikit gambaran tentang para wakil rakyat. Bagaimana jadinya nasib masa depan negri tercinta ini???
Saatnya rakyat mengadili dan saatnya gerakan rakyat (people movement) dibangun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar