Postingan

Cara Belajar Siswa SD di Kampungku di Era Covid 19

Gambar
Beberapa hari yang lalu di pagi hari saya melewati jalan dekat Sekolah Dasar (SD) 1 Usuku dan SD 4 Usuku, tempat saya sekolah dulu. Kedua sekolah ini memang bersampingan. Sekolah tampak libur karena tidak ada aktivitas belajar mengajar di situ meskipun di kalender pendidikan sekolah tidak libur. 
Memang benar, sekolah tidak libur. Hanya saja siswa-siswa diwajibkan tidak ke sekolah. Kebijakan ini terjadi demi menghindari penularan penyakit covid 19.
Metode belajarnya adalah anak-anak sekolah belajar dari rumah. Guru-gurunya akan mendatangi mereka, tapi terlebih dahulu mereka membuat grup agar gurunya bisa gampang mengontrol. 
Misalnya di satu rumah, ada 5-7 siswa, kemudian mereka setiap pagi akan dikunjungi oleh guru untuk belajar. Tentunya mereka juga harus berpakaian seragam sekolah. Jadi tampak lucu karena pemandangan ini adalah hal yang baru dan terkesan aneh.
Tadi juga, saat lagi asiknya duduk di teras rumah, anak-anak yang berpakaian seragam olahraga yang lagi bermain di samping ruma…

Saling Menjadi Tetangga yang Baik

Gambar
Pagi belum terlalu lama. Saya mulai rutinitas dengan meminum kopi di pintu rumah belakang. Baru berapa kali saya menyeruput, seorang ibu tetangga rumah datang dengan membawa sesuatu. Ada siput laut yang semalam di ambil oleh suaminya saat melaut. 
Jika dijual harganya lumayan. Apalagi jika dijual di kota, makanan ini cukup merongoh kantung cukup dalam. Biasanya di kota makanan ini tergolong “elite” dan hanya orang-orang yang berpunyalah yang bisa membelinya. 
Si ibu tidak datang untuk menjual. Melainkan untuk diberikan kepada kami. Padahal keluarganya juga masih membutuhkan uang untuk mengepulkan asap dapurnya. Tapi ternyata ia lebih suka memberi dibanding menjualnya.
Saya cukup terharu dengan pemberian ini. Di saat kesulitan ekonomi terlebih karena pandemi Covid 19 yang telah menghambat aktivitas ekonomi, si ibu justru lebih mengedepankan persaudaraan dari pada menjualnya.
Di kampung saya memang tradisi ini bukanlah hal yang baru. Telah lama saling beri memberi dilakukan oleh orang-orang…

Lupa kalau sedang berpuasa

Gambar
Suatu siang saya ke rumah teman karena suatu urusan. Tiba di sana, teman tersebut sementara makan siang. Sesuai dengan adat kesopanan masyarakat Tomia, saya disuruh untuk makan. Tapi saya menolak untuk makan makanan berat. Saya memilih roti yang terhidang di atas meja.
“Saya makan roti saja” ujarku. 
Di teras rumah, beberapa teman menunggu. Mereka datang bersama saya. Oleh tuan rumah, mereka diminta untuk masuk dan makan. Saya keluar memanggil mereka untuk memenuhi permintaan tersebut. Sambil mengunyah roti, saya meminta mereka untuk masuk dan makan roti bersama.
“Ayo masuk dulu. Makan roti dulu, kemudian kita pulang”
“Saya lagi puasa arafah, duluan saja” balas seorang teman.
Saya kaget. Saya baru sadar hari itu adalah puasa arafah. Puasa sunnah di hari dimana orang-orang yang sedang beribadah hajji di mekkah sedang wukuf di arafah sebagai salah satu rukun haji. Saat itu juga saya baru sadar bahwa saya sedang berpuasa arafah. 
Segerah saya buang makanan yang sementara terkunyah. Saya keluar…

Idul Adha 1441 H di kampungku yang cukup ramai

“Idul Adha kali ini lebih ramai dari Idul Fitrih baru-baru ini” kata temanku.
Saya cukup setuju dengan apa yang dikatakan oleh kawan saya tersebut. Idul Adha 1441 H/2020 M kali ini agak berbeda dan tampak sedikit meriah dibanding perayaan-perayaan idul adha sebelumnya. Bahkan sedikit lebih meriah dibanding idul fitrih 1441 H yang belum terlalu lama juga dilaksanakan. 
Hal yang membedakan dengan idul fitrih adalah Idul adha kali ini dilaksakan di Masjid setelah ada larangan untuk menjalankan shalat idul fitri 1441 H di tempat umum seperti masjid dan lapangan. Penyebabnya adalah untuk mencegah penularan penyakit covid 19 yang sedang melanda dunia.
Seperti ada kerinduan untuk menjalankan perayaan hari besar umat islam ini secara bersamaan. Kini baru mendapat momentum sehingga orang-orang bersuka cita untuk kumpul di masjid untuk shalat idul adha. 
Di idul adha kali ini juga, kampung saya agak ramai oleh para perantau. Hal ini disebabkan karena para perantau Tomia cukup banyak yang pulang kam…

Buat mereka nyaman dengan masjid

Hampir saban magrib anak-anak sudah mulai berkumpul di masjid. Mereka akan melaksanakan shalat magrib secara berjamaah. Tadinya mereka hanya berapa orang tapi tiap malam semakin banyak bagai bola salju yang semakin bergelinding semakin besar. 
Berbeda dengan masjid lain, Masjid Haji Tarmidzi ini selalu ramai oleh anak-anak. Bahkan anak-anak yang biasanya shalat di masjid lain beralih untuk shalat di masjid yang ramai oleh anak-anak ini.
Alasan mereka satu yakni mereka lebih bebas bermain di masjid. Tabiat anak-anak memang demikian, suka bermain. Bermain sebenarnya bukan tujuan awal mereka. Sebagian besar dari mereka, awalnya ingin mengaji. Tapi dalam perkembangannya, mereka lebih suka bermain. 
Saking dibebaskan untuk bermain, level kebebasan sering kelewatan. Masjid tidak lagi seperti tempat yang sakral atau tempat yang dianggap selama ini hanya tempat untuk sembahyang. Mereka menggapnya sebagai tempat bermain layaknya tempat bermain selain masjid.
Meskipun saya sering menegur untuk tida…

Pertama Kali Jadi Khatib

Karena kondisi yang memaksa akhirnya jumat kemarin ((17/07) saya menjadi pembaca khutbah (khatib). Ini pengalaman pertama saya. Kebetulan di masjid yang biasa saya kunjungi (Masjid Haji Tarmidzi) untuk shalat kekurangan khatib. Para khatib biasanya ditunjuk dari para pemuda. Sehingga pada gilirannya, saya mendapat giliran. 
Masjid tempat kami shalat ini agak fleksibel dalam urusan penunjukan khatib. Para jamaah terutama para orang tua memberi kebebasan penuh kepada pemuda untuk tampil. Berbeda dengan beberapa masjid lain yang harus orang tua sebagai pembaca khutbah. Kalau dalam perkiraanku, alasannya adalah mereka tidak terima kalau anak muda memberi nasihat dalam setiap sahalat jumat tersebut. 
Bagi saya, cara berpikir demikian tidaklah cocok karena para orang tua terkesan menganggap diri mereka adalah sumber kebenaran, sedangkan anak muda tidak. Padahal banyak anak muda yang memiliki pengetahuan agama yang tidak kalah dibanding para orang tua tersebut. 
Belum lagi jika dilihat dari bag…

LAPAK GEMBIRA: Sebuah Gelombang Literasi, Kearifan Lokal dan Ekonomi dari Bahari untuk Kita Semua

Mungkin judul di atas terkesan “garang”. Tapi mari coba kita uraikan pelan-pelan. Silahkan seduh kopi/teh/susu dan pisang gorengnya. Jangan tegang. Hehe. Seperti dalam pamphlet (publikasi) yang beredar sebelum kegiatan ini dan mungkin masih bertengger di postingan-postingan media sosial. Bahwa kegiatan ini diselenggarakan di Alun-Alun Bahari (Pasar Lama) sabtu (11/07) tepat usai shalat ashar hingga pukul 23:00, oleh organisasi (dan komunitas) yakni Karang Taruna Bahari Jaya (kelurahan bahari), Taman Baca Antopulu (TBA) Tomia, Zona Literasi dan Hengge Gallery. Empat organisasi ini bermarkas di Kelurahan Bahari. Kegiatan ini mengangkat tema “Lapak Gembira” dengan item-item kegiatan: baca-baca buku, diskusi buku, tula-tula, nyanyi lagu daerah, puisi, tari-tarian, nonton film dokumenter salah satu tokoh Tomia, jajanan aneka makanan minuman (kuliner) dari industri UMKM (usaha mikro kecil menengah) meskipun skalanya masih kecil serta berbagai kegiatan menarik lain. Banyak Pujian Jelas …