Selasa, 21 Juni 2016

Ibu penjual warung pinggir jalan, berkah ekonomi dan bulan ramadhan

Ramdahan memang bulan pernuh berkah. Bukan hanya dikenal sebagi bulan suci dimana umat islam di ajak untuk lebih mensucikan diri dari niat dan prilaku yang jahat atau tidak manusiawi. Sehingga umat islam diharapkan untuk lebih beribadah mengabdi kepada Tuhan dan bermanfaat bagi sesama serta alam semesta.
 
suasana pasar sentral makassar, ramadhan 1437 H
Namun, disatu sisi ada kebaikan duniawi yang lahir karena ramdhan, yakni keberkahan ekonomi bagi masyarakat muslim dan non muslim. Karena umat islam di Indonesia adalah penduduk yang mayoritas maka kebaikan itu memberik efek pada kebaikan ekonomi nasioanal. Angka-angka ekonomi dan survey lembaga yang kompeten selalu mengofirmasi itu. Tapi sebenarnya untuk membuktikan itu, kita tidak perlu menggunakan penelitian angka statistik yang rumit. Cukup lihat realitas yang terjadi di masyarakat. Bagiamana aktivitas ekonomi saat ramadhan kian menggeliat berikut perputaran ekonomi pun ikut meningkat.

Di tengah lesuhnya pertumbuhan ekonomi dunia yang kemudian mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia, ramadhan sesungguhnya lahir sebagai salah satu solusi. Dalam teori ekonomi semakin banyak konsumsi, menandakan tingkat pertumbuhan ekonomi juga meningkat. Jika semakin banyak masyarakat Indonesia yang berbelanja dan menjual maka semakin baik ekonomi dalam negeri, dan sebaliknya. Sehingga dalam hitung-hitungan ekonomi makro, konsumsi atau jual-beli masyrakat Indonesia adalah salah salah satu parameter untuk menentukan baik dan buruknya ekonomi bangsa. 

Inilah alasan kenapa ekonomi Indonesia bisa dikategorikan stabil dalam lebih dari satu decade terakhir, terhitung setelah reformasi. Padahal di banyak kawasan di dunia telah mengalami berkali-kali krsisis ekonomi bahkan ada yang menuju negara gagal karena ketidak mampuan dalam menghadapi masalah-masalah ekonomi yang mucul. Inilah yang terjadi pada beberapa negara-negara Uni Eropa, Amerika latin dan negara-negara di kawasan lain. Sedangkan Indonesia di dukung oleh kuatnya konsumsi (belanja) penduduknya yang berjumlah kurang lebih 240 juta jiwa.

Tidak salah pemerintah selalu menaruh harapan pada ramadhan, karena tingkat konsumsi pada bulan ini cukup menukik tajam. Pemerintah menginginkan aktivitas jual-beli selama ramadhan bisa lancar sehingga melancarkan pertumbuhan ekonomi. Mungkin ada yang berpikir bahwa ramadhan merupakan bulan dimana mayoritas penduduk Indonesia akan mengurangi konsumsi karena sedang berpuasa. Namun, ternyata teori ini tidak terpat karena realitas yang tampak justru umat islam di bulan ramadhan gemar berbelanja dan menjual. 

Tak perlu berbicara panjang lebar. Lihat gambar yang saya tampilkan. Gambar ini adalah apa yang terjadi di pasar sentral Kota Makassar. Dari namanya “pasar sentral” yang secara gamblang diartikan sebagai pusat aktitivitas jual dan beli dimana penjual dan pembeli bertemu di tempat ini. Di tempat ini berbagai masyarakat yang datang dari banyak kawasan di Indonesia berkumpul. Ada yang dari Sulawesi tengara, Maluku, Sulawesi selatan dan sebagainya. Apalagi Makassar merupakan kota terbesar dan pintu perdagangan untuk kawasan tengah dan timur Indonesia serta menghubungkan perdagangan ke kawasan barat Indonesia. 

Memang, di hari-hari biasa di luar bulan ramadhan, pasar ini cukup ramai pengunjung. Namun, ramadhan menjadikannya jauh lebih ramai. Pengunjung semakin bertambah dan barang-barang yang di jual pun semakin bervariasi bahkan penjualnya ikut bervariasi. Ada barang yang sebelumnya tidak di jual atau sedikit beredar dalam pasaran tapi kini menjadi ada dan cukup banyak. Ada yang dahulu tidak berprofesi sebagai penjual, tiba-tiba jadi penjual. Ada yang dahulu malas ke pasar sentral, sekarang sudah rajin ke pasar sentral.

Peristiwa seperti ini tidak hanya terjadi di pasar sentral kota Makassar ini, melainkan di banyak titik-titik di kota Makassar ramai oleh penjual dan pembeli yang sebelumnya tidak ada. Terutama menjelang buka puasa, kita dapat melihat geliat ekonomi yang cukup baik. Banyak penjual makanan dan minuman buka puasa (takjil), warung-warung makan sudah menyiapkan konsumsi untuk dibeli oleh yang berbuka puasa serta yang lainnya. 

Jangan pikir konsumsi akan berkurang saat bulan ramadhan ini, justru sebaliknya. Penelitian ekonomi dan realitas sudah memperlihatkannya. Apalagi soal makanan dan minuman, saat buka puasa setelah buka puasa dan saat sahur adalah momen-momen yang sangat krusial dimana orang-orang akan melampiaskan hasrat dahaga dan laparnya melebihi hari-hari di luar bulan ramadhan. Jadi tidak perlu takut jualan anda akan tidak laku. Yakin saja, Tuhan sudah menyiapkan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah, salah satunya adalah berkah ekonomi.

Ah, saya teringat pada kasus ibu penjual warung di pinggir jalan di kota serang itu. Apakah memang makanan dan minumnya akan tidak atau kurang laku jika beliau menjual pada saat sore hari, saat berbuka puasa, setelah berbuka puasa dan saat sahur??? Entahlah… 

Selamat berpuasa. Berkah…

*pengembara dalam sunyi

~13 Ramadhan 1437 H / 18 Juni 2016

Selasa, 14 Juni 2016

Politik minyak dan persaingan kawasan timur tengah

Energi yang di dalamnya termasuk minyak dan gas, salah satu sektor yg cukup penting dalam peta perpolitikan global. Setiap negara berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga pasokan energinya agar selalu mencukupi kebutuhan dalam negeri. Serta usaha2 lain demi terciptanya kedaulatan energi.

Hari ini yg cukup mengemukan adalah kondisi minyak yg anjlok dlm kisaran US$ 30-50 per barel. Ini merupakan bagian dari titik terendah dalam sejarah perdagangan minyak dunia. Kejatuhan harga minyak ini diikuti dgn terpukulnya negara2 produsen minyak dunia (OPEC) yg menjadikan sumber utama penerimaan APBN dari minyak. Krisis keuangan dan ekonomi menjadi hal yg tak terelakan. Lihat Rusia yg tengah bertahan dlm situasi ekonomi yg buruk, venezuela dgn situasi politik dan ekonomi yg pelik membuat rakyatnta stengah mati termasuk hanya untuk membeli harga2 kebutuhan pokok harian atau arab saudi yg cukup takut atas efek revolusi di tengah sapuan "revolusi arab" terhadap beberapa negara arab.

Mari melihat arab saudi. Persaingan geopolitik kawasan dgn rivalnya Iran membuat negara yg kaya minyak ini cukup khawatir. Setelah keberhasilan kesepakatan nuklir Iran, secara perlahan sanksi ekonomi atas negara ini dicabut. Iran pun mulai bangkit sebagai kekuatan ekonomi politik kawasan meskipun sebelumnya berjuang untk keluar dr krisis ekonomi yg salah satunya krna kemerosotan hrga minyak. Namun Iran memiliki infrastruktur ekonomi yg cukup baik di banding Arab saudi yg hanya fokus pd penghasilan dari minyak. 

Sebelum kesepakan nuklir, Iran meminta agar negara2 anggota OPEC mengendalikan pasokan minyak dlm pasar global agar minyak dunia bisa bangkit. Namun, hari ini Iran membiarkan situasi keterpurukan hrga minyak ini. Tidak lain krna telah berhasil meliberalisasi beberapa sektor untuk dikelolah melalui investasi asing untk memacu pertumbuhan ekonominya. Selain itu, sikap bertahan iran jg ditujukan untuk menekan ekonomi arab saudi yg terdesak krna tdk cukup memiliki strategi ekonomi yg baik dlm merespon kejatuhan hrga minyak. Juga, arah sikap iran ini agar menjadi kekuatan pemenang mngalahkan arab saudi dlm persaingan politik kawasan timur tengah yg dirundung konflik yg blum usai.

Realitas ini memaksa Arab saudi untuk mngambil kebijakan yg tdk populis dgn memotong subsidi minyak dlm negeri. sehingga warga arab saudi yg selama ini menikmati hrga minyak yg murah kini harus mmbayar lebih. ini semata-mata untk memenuhi defisit APBN yg selama ini sangat tergantung pada minyak. 

Situasi ini jg memaksa arab saudi harus merevisi strategi ekonomi dlm beberpa dekade kedepan. Cetak biru (blue print) ekonomi telah dibuat. Salah satunya adalah melepas ketergantungan pada minyak yg selama ini sebagai sumber utama pemasukan negara. Reformasi ekonomi dilakukan dgn mengundang investor2 asing untk terlibat dlm pembangunan ekonomi dlm negeri. Liberalisasi yg cukup luas akhirnya diambil sebagai jalan itu.

***

Ini pelajaran yg cukup penting bagi Indonesia. Minyak adalah komponen penting bagi setiap negara krna ketergantungan kita pada sektor ini cukup besar. Bahkan ada adagium "secanggih dan sebanyak apapun tekhnologi suatu negara jika tdk memiliki minyak (energi) maka teknologi itu akan lumpuh krna sulit bhkan tdk bisa digunakan". Selain itu harga minyak sangat memengaruhi sektor lain terutama harga2 bahan makan pokok (sembako) krna banyak barang yg dihasilkan melalui indusrialisasi yg mmbutuhkan minyak.

Karenanya minyak selalu menjadi alat politik untk menekan negara lain. Krisis minyak akan berefek pada memburuknya situasi ekonomi. Dari ekonomi yg buruk akan menimbulkan gejolak sosial. Ini yg sedang terjadi di venezuela hari ini, negeri yg ingin menjalankan cita2 komunisme. Presidennya dlm situasi terjepit akibat krisis ekonomi krna merosotnya hrga minyak dunia.

Tidak salah jika panglima TNI kita yg skrang sering mengingatkan bahwa perang masa depan adlah perang yg salah satunya dipicu krna persaingan memperebutkan minyak (energi).

Itulah alasan arab saudi melakukan reformasi ekonomi agar tdk terlalu tergantung pada minyak... Indonesia jg harus segra membangun kedaulatan energi itu ;)
Selamat berpuasa... berkah...


~4 Ramadhan 1437 H / 9 Juni 2016

subuh dan anak-anak anjing

Pagi masih buta. Mentari belum menampakan senyumnya. Dia belum merekah. Embun masih cukup dingin. Saat itu, berjalanlah saya di sekitar kompleks. Bertemu anjing. Dia anak anjing. Masih belia. Mungkin kalau manusia, dia masih anak umur tiga tahunan.

Dia lagi bermain ria. Mungkin merasa terusik dgn kehadiranku. Dia menggonggong. Saya kaget. Ingin lari. Tapi kata orang2, lari justru akan semakin dikejar. Bahaya, pikirku. Ingin saya mengusirnya. Tapi ini bukan pilihan tepat. Lagian ada perasaan was2 juga takut yg muncul. Terlebih, dia tidak sendiri. Dia punya kawan2. Jumlah mungkin skitar 4-5 ekor. Kalau sy mengusir, kawan2nya akan membantu. Ini bahaya.

Berhenti. Berdiri sejenak. Itu yg saya lakukan. Membiarkannya menggonggong. Teringat kata orang2. Santai dan jangan lari jika tidak ingin dikejar. Mungkin ini terkait kata pepatah: anjing menggonggong, kafilah pun berlalu. Saya pake rumus ini. 

Ku arahkan pandanganku padanya dan pada kawan2nya. Dia tetap menggonggong sembari menghadapku. Kami saling tatap-bertatapan sejenak. Tetap diam. Perlahan... saya melangkan kaki. Pelan, selangkah demi selangkah. Saya berjalan. Berhasil. Berhasil. Dia mulai diam, tak menggonggong. Kawan2nya diam. Saya berlalu. Kafila pun berlalu.

***

Mungkin ini pembelajaran. Jangan hiraukan orang yg mengganggumu jika akan lebih buruk yg terjadi. Jangan membalas marah dengan marah. Hadapi dengan tenang dan sabar serta penuh cinta. Bila perlu jangan membalas. Kata Tuhan: "perputaran siang dan malam, ada tanda2 (hikmah) bagi orang2 yg berpikir". Kawanan anak2 anjing mengajarkan itu. Mereka mengajarkan pembelajaran dalam berpuasa. Silahkan serap pembelajaran yg baiknya (hikmahnya).

Selamat berpuasa......terimakasih anak2 anjing... berkah...

‪#‎SerbaSerbiPuasaRamadhan‬

~makassar, 4 Ramadhan 1437 H

Ramadhan bulan pembersih sekulerisme

Ada sesuatu yg berbeda. Ibarat manusia, ada orang spesial. Terserah siapa tapi minimal dia adalah orangtua yg melahirkan kita. Jika minggu adalah jumat maka bulan adalah ramadhan. Tuhan memang telah menciptakannya dalam keadaan beda. Agar kita mampu membedakannya dgn jejak-jejak tertentu.

Coba berhenti sejenak. Ambil waktu dan termenung. Sejauh mana kaki melangkah, otak berpikir, hati merasakan serta niat tertuju. Dalam keseharian yg diperhadapkan dengan pergulatan hidup yg modernitas, kita kadang melupakan pertanyaan-pertanyaan ini. Modernitas telah melahirkan sekuleritas/sekulerisme. Kita dipapar olehnya. 
Suasana shalat tarwih di Masjid Raya Makassar

Sekulerisme pada prinsipnya adalah bagaiamana memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Aktivitas keduniaan tak perlu dicampur baurkan dengan hal "keakhiratan", misalnya kalau berbisnis tdk perlu membawa agama karna bisnis hanya persoalan interaksi keuntungan keduniaan sedangkan agama punya urusan sendiri yakni hanya hubungan individual-vertikal antara manusia dan Tuhan. Atas pijakan berpikir sedemikian, bisnis hanya sebatas untung dan rugi secara ekonomi. Praktek-prakter riba dan kecurangan lainnya pun sering tak terelakan. Bisnis menjadi pertarungan menghalalkan segala cara demi keuntungan sebesar-besarnya. Pertimbangan agama tersingkir. Akhirnya kita terjebak pada praktek kapitalisme ekstrim. Dalam sekulerisme, Cak Nur menyebutkan bahwa pada puncaknya, sekulerisme yg ekstrim adalah ateis, ketiada-percayaan pada Tuhan.
Itu hanya sedikit contoh dari limpah ruah kejadian keduniaan kita. Tuhan memang Maha Tahu melihat apa yg akan terjadi hari ini dan masa depan. Hadirlah ramadhan sebagai bulan interupsi. Bulan yg mengajak agar mengingat akan hakekat kehidupan. Bahwa hidup bukan berhenti pada pesoalan dunia saja karena dunia hanyalah terminal persinggahan dalam perjalan ke negri akhirat. Hakekat hidup bagaiamana urusan dunia diniatkan untuk urusan akhirat. Sehingga bisnis bukan hanya persoalan mencari keuntungan dunia saja melainkan bagaiamana diniatkan untuk mencari pahala ke negri akhirat nanti. 

Tidak salah ramadhan dikenal dengan bulan suci. Bulan untuk membersihkan kehidupan keduniaan kita atas niat yg hanya "dunia dan dunia" (sekuler). Kita diharapkan agar menyertakan semua aktivitas keduniaan dengan niat akhirat sehingga keuntungan dunia didapatkan dan bonus akhiratpun kita raih. Ramadhan sesungguhnya mengajarkan kita untuk memasuki relung terdalam kebatinan untuk menyelami makna dan hakekat kehidupan. Dengannya kita akan tahu dari mana kita berasal, untuk apa hidup dan akan kemana kehidupan keduniaan ini setelahnya. Beruntunglah bagi yg memahaminya.

Akhirnya, ramadhan adalah bulan kasih sayang yg diciptakan Tuhan untuk manusia. Kasih sayang dengan keunikannya. Sehingga pada ramadhan hadir suasana kebatinan tersendiri yg tidak dimiliki bulan-bulan lain. Sungguh indah bagi yg menikmatinya.

Selamat berpuasa. Berkah...

#SerbaSerbiPuasaRamadhan

~Renungan pagi, 9 Ramadhan 1437 H / 14 Juni 2016

*Pengembara dalam kesunyian

Selasa, 07 Juni 2016

berpuasa tontonan untuk kreativitas (tentang film kera sakti)

Masih ingatkah dengan kisah pencarian kitab suci ke barat oleh sekawan manusia? Mereka dipimpin oleh seorang guru yang suci. Ini program tivi yang pernah ada dalam dunia pertelevisian kita. Saya cukup tertarik menonton program ini, “kera sakti”, meskipun berulang kali ditayangkan baik dalam versi yang masih sama maupun dengan versi yang berbeda. 

Film ini cukup memacu imajinasi yang liar bagi yang menontonya. Kelakuan “sunggukong” yang nakal dan sesuka hati sebagai pemeran utamanya menjadi hal yang cukup menarik. Dia melakukan apa saja yang dikehendakinya. Terbang, mengunjungi kahyangan, bertandang ke suraga atau neraka, menentukan jodoh manusia dengan mengintervensi dewa jodoh dan segala kegilaan yang dimiliknya bahkan hidup dan matipun bisa diaturnya.
 
                                                              [ sunggokong si kera sakti ]

Refleksi dari film ini bisa memacu kreativitas. Kita bisa berimajinasi untuk mencipta apa yang kita inginkan. Mungkin bagi kebanyakan, jika orang memikirkan hal-hal yang “tidak mungkin” atau kurang diterima oleh rasionalitas adalah perkara yang omong kosong. Bahkan orang akan mengatakan ini kegilaan. Tapi tahukah? Bahwa dari kegilaan itu orang bisa mencipta sesuatu yang “wah” sehingga orang akan terkagum-kagum?

Inilah cara berpikir di luar mainstream. Cara berpikir “out of the box”. Cara berpikir yang membiarkan akal untuk berfantasi sesukanya diluar koridor yang biasa. Cara berpikir yang selama ini tidak biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Cara berpikir yang menurut orang lain aneh dan gila.
Coba bayangkan, adakah orang yang percaya ketika ada yang berpikir untuk menerbangkan logam/besi? Mungkin saat itu, hampir semua orang akan mengatakan tidak mungkin bahkan ada yang mengatakan gila karena bagaiamana mungkin logam yang berat bisa terbang kemudian mengangkut orang dan barang dari satu tempat ke tempat yang lainnya?. Tapi atas keliaran berfikir dan kekuatan keyakinan sehingga menggiatkannya untuk membuat pesawat terbang.

Mari kita lakukan perbandingan, bagaiamana dengan kondisi program pertelevisian di negeri kita sekarang. Kita diselimuti dengan program tivi yang menghadirkan acara yang miskin imajinatif. Jangankan imajinatif, nilai kehidupan dan moralitas pun mulai terpinggirkan. Kearifan budayaan lokal diabaikan dengan menayangkan program tontonan yang hanya fokus pada urusan bagaiamana menaikan “rating” atau bisnis, meskipun pesan-pesan kebaikan mendapat porsi yang sangat sedikit. Ini semua tentang uang dan keuntungan materi.

Saya masih berkeyakinan, masa depan kita akan ditentukan salah satunya adalah apa yang kita saksikan. Jika program tivi kita menayangkan hal yang memacu imajinasi, maka sarat menjadi manusia kreatif dan pencipta akan kita miliki. Sebaliknya, jika program tivi kita hanya menyuguhkan hal yang miskin substansi dan hanya mengejar kepentingan bisnis dan materi, maka kita akan menjadi manusia yang miskin substansi dan hanya fokus pada kepentingan bisnis dan materi meskipun kepentingan kemanusiaan tergadaikan.

Mari berpuasa atas tontonan yang kurang penting. Selamat berpuasa…

‪#‎SerbaSerbiPuasaRamadhan‬

~Makassar, 2 Ramadhan 1437 H / 7 Mei 2016