Sabtu, 24 Februari 2018

Toko Buku Membuat Tak Angkuh

Saya di ajak oleh seorang kawan ke salah satu toko buku besar dan mungkin terbesar di kota Makassar. Cukup jarang saya berkunjung tempat ini meskipun saya punya hobi membaca. Banyak alasan tentunya, salah satunya adalah jarak yang cukup jauh dari tempat tinggal. Padahal bagi bagi pecinta buku, tempat ini sangat tepat untuk disambangi.
Kami memiliki kendaraan pribadi masing-masing tapi malam itu saya sengaja meminta untuk menggunakan satu kendaraan saja agar bisa berhemat uang dan lebih menyayangi alam-mengurangi penggunaan bahan bakar minyak dan polusi. saat itu kami tidak memiliki waktu yang cukup lama lagi. Sekitar satu stengah jam lagi tokoh buku akan ditutup. Durasi ini, bagiku, cukup singkat untuk menikmati buku-buku di tempat itu. Apalagi lokasinya di moll yang mau tidak mau harus mengikuti jadwal operasionalnya.

Saya tidak ada rencana membeli buku tapi biasanya kalau sudah berada di dalam (baca: toko buku), saya akan terprovokasi untuk membeli. Betapa tidak, setelah melangkah melewati pintu masuk maka kita akan melihat hamparan buku-buku yang di pajang di etalase-etalase dengan cukup rapih dan menarik. Judul-judul buku terbaru pun tampil menggairahkan intelektual untuk membacanya berikut ingin memilikinya. Belum lagi buku-buku lama yang belum dibaca masih belum kehilangan daya magis untuk ‘dilahap’.


Sayangnya uang selalu menjadi hambatan terbesar untuk memilikinya. Apalagi harga terbilang cukup mahal karena berbagai pajak yang menyertainya. Mulai dari pajak kertas, distribusi hingga pajak masuk ke moll serta pajak-pajak lainnya. Perihal pajak, perlu intervensi pemerintah untuk menekan pajak dibidang ini agar buku mudah terjangkau. Alasan lainnya adalah waktu luang. Terlampau banyak kegiatan yang menghambat untuk membaca buku. Belum lagi di era revolusi digital hari ini, smartphone mulai menggantikan peran buku dalam menyuguhkan bahan bacaan kepada pembaca. 


Tapi terlepas dari itu, hal yang penting adalah bertandang ke toko buku akan menstimulus dan memacu hasrat membaca. Melihat banyak karya-karya intelektual yang di pajang membuat diri semakin “kecil” dan sadar betapa ilmu kita belum ada apa-apanya di banding orang lain terlebih jika dibandingkan dengan sang Maha berilmu (Mengetahui). Apalagi jika melihat buku tebal kemudian berjilid-jilid, pikiran seketika membayangkan betapa hebatnya si penulis. Bagiamana si penulis menemukan fakta dan menciptakan pikiran-pikiran yang dituang dalam buku yang ditulisnya.


Saya teringat perkataan Umar bin Khatab terkait ilmu. Khalifah kedua di era Khulafaur Rasyidin ini mengatakan: ilmu memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama, jika dia masuk akan membuat orang sombong. Tingkatan kedua, masuknya ilmu pada seseorang akan membuat orang tersebut rendah hati. Dan ketiga, jika ilmu masuk maka orang tersebut akan merasa tidak ada apa-apanya. Inilah salah satu hikmah dari berkunjung ke toko buku yang akan membuat kita semakin tidak ada apa-apapnya sehingga kita akan terhindar dari sifat angkuh. Semoga.


~Makassar, 24 Februari 2018

Jumat, 16 Februari 2018

Hujan Malam, Hotel dan Angka 13

Malam itu hujan tak kunjung usai. Awan hitam mengepul dan langit semakin gelap menelan bulan dan bintang-bintang. Titik air di jeket yang ku kenakan semakin membentuk nokta hitam yang tebal. Semakin lama semakin memenuhi seolah hujan berlomba memeluk erat kain yang ku kenakan. Saya memutuskan untuk memenuhi ajakan kawan.

Sampailah. Saya naik lift bersamanya. Sebuah lift hotel yang kami berdua di dalamnya, tak ada orang lain. Sepi dan sunyi. Setelah kami melangkahkan kaki ke dalam maka sesuai prosedur, tombol nomor lantai harus ditekan sesuai tujuan, lantai keberapa. Kawanku yang menekan karena dia yang tau tujuan lantai yang diinginkan. Saya diam saja sembari memperhatikan papan tombol yang ada. Namun, ditengah kebisuan, ada kejanggalan yang saya temui. 


                                                                ***  


Pernakah kalian menggunakan lift di sebuah gedung tinggi? Gedung yang lebih dari 13 lantai. Saya menyertakan angka 13 karena hal ini yang menurut saya janggal. Sebenarnya bukan hal yang asing karena cerita tentang angka 13 sudah sering terdengar. Banyak bangunan tinggi yang memiliki lantai 13 biasanya tidak menuliskan angka 13 untuk menandai lantai ke -13. Termasuk hotel yang saya maksud dimana papan tombol lift itu tidak ada angka 13 sebagai penanda lantai ke -13 melaikan diganti dengan angka 15. Di banyak bangunan biasanya angka 13 diganti dengan angka lain sesuai kesukaan pemilik bangunan.


Bisa dilihat di gambar yang saya cantumkan. Selain angka ini, sebenarnya ada juga angka lain yang dimitoskan oleh kalangan tertentu tapi yang umum adalah angka 13. Tidak hanya di Indonesia yang punya tradisi mistisme yang kental, melainkan juga di masyarakat barat, hal ini juga masih kuat diyakini.


Banyak cerita kenapa mitos angka khususnya angka 13. Bagi banyak kalangan menganggap angka ini adalah angka kesialan. Siapa yang menggunakannya akan mengalami kesialan. Dalam banyak cerita yang diyakini masyarakat barat bahwa Yesus meninggal pada tanggal 13 atau murid Yesus ke 13 melakukan penghinatan terhadap gurunya. Dalam peristiwa buruk di peradaban barat modern pun banyak (kebetulan) terjadi pada tanggal 13. Hal ini yang memperkuat keyakinan bahwa angka 13 mengandung makna yang tidak bagus.


Kendati demikian, banyak orang yang meyakini angka 13 sebagai angka magis dan keberuntungan, terutama bagi kelompok masyarakat yahudi. Dalam banyak simbol yang digunakan dalam masyarakat barat jika telusuri maka angka 13 sering digunakan, lambang negara Amerika misalnya, akan ditemui hal-hal yang berjumlah 13.


Terlepas dari alasan-alasan di atas, saya semakin yakin bahwa mistisme selalu memiliki ruang dalam kemanusiaan kita. Peradaban berganti, sisi ini (baca: mistisme) tidak akan hilang. Dia fitrah yang melekat. Masyarakat barat yang identik dengan paradigma ilmiah yang harus dapat dibuktikan secara empiris (kasat mata) akhirnya harus tunduk pada aturan mistisme yang sulit dirasionalkan. Harusnya, mistisme tidak mendapatkan ruang kebenaran dalam tradisi peradaban barat. Mistisme tidak kasat mata bersifat spiritual bahkan dongeng tidak dapat dibuktikan dengan metode ilmiah. Namun, faktanya dia tetap di percayai. Apalagi masyarakat timur yang memang akrab dengan hal-hal yang mitos (spiritual).


Tesis ini semakin memperjelas bahwa kebutuhan akan keber-Tuhan-an adalah naluriah. Semodern apapun cara berpikir dan pembangunan peradaban namun kebutuhan transendental (hal yang melampapui fisik/materi) memang diperlukan. Nomor-nomor hotel (angka 13) adalah contoh. Secara ilmiah, hal semaca ini tidak masuk akal tapi pada faktanya sangat sulit untuk mengingkari sisi kemanusiaan kita untuk meyakininya. Manusia tetap akan mengakui hal yang ghaib di luar rasionalitasnya.


                                                                  ***

Akhirnya pintu lift terbuka. Lantai 5. Kami sampai. Tapi, kami turun kembali ke lantai 2. Di sana ada Mushallah.


~Makassar, 16 Februari 2018


Rabu, 14 Februari 2018

Nongkrong di Pengajian Akbar Ustad Hanan Attaki

Tablik Akbar di Makassar sering diadakan. Saya kurang tau definisi pasti perihal “tablik akbar” tapi kalau boleh membuat definisi maka isitilah ini dapat diartikan Pengajian Akbar (besar) yang di hadiri oleh tokoh agama (islam). Sesuai definisinya maka pengajian ini biasa dilakukan di ruangan yang besar dan dihadiri oleh banyak orang.

Inilah yang terjadi beberapa malam yang lalu (malam minggu, 10/02/2018). Pengajian akbar dengan menghadirkan Ustad Hanan Attaki, Ustad muda yang lagi tren yang punya penggemar yang cukup banyak. Saya kebetulan hadir di acara ini karena saya gemar mendengar ceramah-ceramah beliau di media sosial: facebook dan youtube. Selain saya, ada begitu banyak peserta yang bisa dikatakan semuanya adalah anak muda.


Suasana pengajian Ustad Hanan Attadi di Masjid Al Markas Makassar

Menarik untuk ditilik mengapa ustad ini begitu banyak digemari oleh banyak pemuda? Mengapa ustad lain tidak seperti beliau? Atau kenepa panitia tidak mengundang ustad yang lain? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mungkin kita dapat melihat konten ceramahnya. Ustad asal Aceh ini umumnya berceramah masalah-masalah yang dihadapi anak muda zaman sekarang misalnya persoalan jodoh, galau, cinta atau sejenisnya. Meskipun banyak juga ceramah yang diperuntukan untuk kalangan umum atau persoalan-persoalan hidup universal yang biasa dihadapi oleh kebanyak orang misalnya bagaimana pentingnya doa, sabar atau yang sejenis pula. 


Belum lagi bahasa yang digunakan adalah sangat “anak muda” seperti bagaimana isi ceramah dikemas dengan istilah gaul atau bahasa yang akrab dengan anak muda. Beliau mampu menghadirkan islam dengan wajah yang asik, tidak kaku, realistis dan solutif. Dari tampilan Ustad Hanan, juga tidak formal (kaku) seperti banyak penceramah lain yang menampakan simbol-simbol islam seperti songkok atau jubah. Beliau berpakaian laiknya anak muda. Bukan berarti pemakaian simbol-simbol ini dilarang tapi ini hanya persoalan strategi menggait konsumen ceramah. Beliau sengaja melakukan itu, sebagaimana pengakuannya, untuk menyasar segmen anak muda. Dahulu sebelum beliau merubah strategi bercemah, beliau menggunakan sorban tapi akhirnya dirubah dengan pertimbangan tersebut.


Tidaklah mengherankan tablik akbar ini dihadiri oleh banyak pemuda dan pemudi hingga ruangan masjid pun tidak mampu menampung. Seperti gambar yang saya tampilkan yakni suasana saat kegiatan berlangsung di Masjid Al Makas Al Islami Makassar, salah satu Masjid Raya Makassar. Mereka hadir karena ingin melihat dan mendengar langsung tokoh agama panutan mereka yang selama ini hanya disaksikan melalui dunia maya.
Melihat fenomena ini maka hemat saya, para penceramah lain perlu belajar bagaimana Ustad Hanan Attaki “menyentuh” hati anak-anak muda. Memang tidak bisa dimungkiri, ada juga penceramah-penceramah lain yang punya banyak penggemar dan punya karakter tersendiri. Mereka juga punya spesialisasi dan segmen konsumen (pendengar/jamaah) tersendiri. 


Saya sering mendengar dan mengamati banyak ceramah-ceramah islam baik di mimbar-mimbar masjid maupun di media sosial. Terus terang, banyak ceramah yang membosankan. Bukannya ustadnya yang kurang kompeten tapi ustadnya tidak mampu membawa ceramah yang dapat membuat pendengar betah untuk mendengar. Misalnya ceramah yang terlalu normatif (umum) dan tidak menghadirkan contoh kasus yang terjadi dikehidupan sehari-hari. 


Berbeda Ustad Hanan, beliau memaparkan bagaimana kalau ada rasa cinta pada lawan jenis dan bagaimana mengatasinya dalam kaca mata islam atau bagaimana menghadapi masalah dalam hidup dengan mengangkat kasus keseharian kemudian dihubungkan dengan ajaran islam tentang sabar dan doa. Hal-hal seperti ini cukup ringan dan menarik untuk didengar oleh anak-anak muda karena sekali lagi cukup apilikatif dan realistis sehingga mudah diingat. Tidak heran banyak penggemarnya datang dari anak-anak muda dengan berbagai masalah zaman yang mereka hadapi termasuk saya. hehe.


Tentunya banyak faktor kenapa penceramah-penceramah tertentu digemari banyak orang. Bukan hanya yang saya sebutkan di atas meskipun bagi saya, hal di atas cukup subtansial untuk diperhatikan banyak penceramah lain. Ruang tulisan ini akan cukup panjang akan menuliskannya. Nanti pembaca bosan. Hehe. Semoga ada semangat, ilmu dan kesempatan untuk mengurainya lebih dalam.


~Makassar, 14 Februari 2018

Sabtu, 10 Februari 2018

Perlu Ruang Publik dan Keahlian Seni Fotografi

Hujan masih penuh tanda tanya apakah akan benar-benar turun dengan deras atau tidak. Memang inilah yang terjadi dengan hujan di Makassar seminggu terakhir ini yang kadang menjadi batu sandungan untuk melakukan aktivitas out door.

Matahari mulai menampakan wajahnya meskipun mulai menuju ke kaki-kaki langit di ufuk barat. Pada saat yang sama, awan-awan hitam saja terus berseliweran di langit. Tampak seolah ada kompetisi untuk siapa yang akan menguasai langit saat itu. Tiba-tiba seorang kawan menanyakan keberadaanku melalui aplikasi WhatShapp. “Posisi?”. Di mabes (markas besar). Balasku. 



Singkat cerita, kami menyepakati suatu tempat yang bagus untuk nongkrong. Memang moment saat itu adalah saat dimana orang-orang mulai usai dari aktivitas hariannya. Benarnya saja, tempat tujuan kami itu memang dipadati orang dari berbagai latar belakang. Mereka sama dengan kami: Refreshing. 


Universitas Hasanuddin (Unhas). Inilah salah satu destinasi wisata bagi masyarakat Makassar dan mungkin juga orang-orang luar Makassar. Unhas memang salah satu lembaga pendidikan artinya aktivitas utama dalam peruntukannya adalah untuk pendidikan. Tapi konsep penataan lingkungannya dengan pohon-pohon yang begitu rimbun sehingga menjadikannya bukan hanya sebagai kawasan pendidikan melainkan wisata. Saya sering kali menanyakan pendapat banyak orang tentang suasana lingkungan Unhas, diluar masalah pendidikan Universitas ini. Semua jawaban yang saya dapatkan adalah Unhas punya suasana yang rindang dan banyak tempat yang membuat orang nyaman untuk menikmatinya. Bahkan hal ini membuat Unhas dimasuk dalam program Pemerintah Kota Makassar sebagai kawasan Hutan Kota.


Melihat fungsinya sebagai ruang publik dimana orang-orang dapat bertemu, bersosialisasi atau sekedar datang bereakreasi untuk rehat dari rutinitas, maka penting untuk menghadirkan banyak tempat seperti ini. Sayangnya ruang publik seperti ini kurang menjadi prioritas di kota ini. Itu bisa dilihat dari perbandingan jumlah ruang publik dan jumlah penduduk di suatu kota. Terlebih lagi, hari ini pola kehidupan manusia bergerak menuju masyarakat yang individual dan secara perlahan kebersamaan dalam dunia rill - akibat massifnya tekhnologi dengan segala perangkatnya semisal media sosial dimana orang-orang cenderung hanya bertemu di dunia maya - semakin terkikis. Maka perlu digalakan keberadaan ruang publik sebagai wadah untuk pertemuan dan sosialisasi untuk mengimbangi gerak masyarakat yang meninggalkan pola hidup kebersamaan. 


Terlepas dari itu, saya apresiasi Unhas yang mendesain dirinya bukan hanya sekadar lembaga pendidikan tapi juga sebagai tempat rekreasi. Saya katakan rekreasi karena memiliki banyak hal yang mengundang daya tarik banyak orang untuk berkunjung menikmati suasana lingkungannya. 


Karena alasan inilah saya dan kawan berkunjung kesini (baca: Unhas) meskipun saya bisa dikatakan tiap hari berada di kampus ini tapi sulit untuk menemui kejenuhan. Salah satu kebutuhan manusia modern di era industrialisasi adalah hiburan dan juga aktualisasi. Salah satu perwujudan aktualisasi adalah mengambil gambar kemudian diabadikan dalam jepretan-jepretan kamera dan pada akhirnya di upload di media sosial untuk disaksikan oleh kawan-kawan di media sosial. Tentunya untuk mendapatkan gambar yang bagus, salah satu faktor penentunya adalah keahlian fotografer. Maka berjalanlah dengan orang yang ahli dibidang ini agar gambar diinginkan sesuai harapan. 


Saya pernah punya pengalaman berjalan/rekreasi/berpetualang dengan kawan-kawan yang tidak punya skill dan seni di bidang fotografi, sementara saya punya skill dan seni di bidang ini (hehe..). Konsekuensinya adalah saya menjadi fotografer bagi mereka dan gambar mereka pun lumayan bagus dan kebalikan dengan saya. Tapi untungnya direkreasi kali ini, saya dan kawanku sama-sama punya keahlian dalam memotret. Harus diakui. Haha.


~Makassar, 10 Februari 2018

Rabu, 07 Februari 2018

Sekedar Pengantar di Awal 2018

Bismillahirrohmanirrohiim

Saya mulai mengaktifkan kembali atau menulis lagi di blog ini setelah bisa dikatakan lebih dari setahun blog ini mati suri. Selama ini bukannya tidak menulis, hanya saja saya mengekspresikan ide-ide saya di wadah lain misalnya di facebook atau blog/portal berita. Banyak ide yang berseliweran di pikiran. Kadang saya terhentak untuk menuangkan dalam blog tapi kadang rasa malas menantangku untuk sekedar membuka leptop, duduk dan merangkai kata demi kata, dan akhirnya saya menyerah pada sifat buruk ini (baca: malas).

Sebenarnya, selain di beberapa medium yang saya sebutkan di atas untuk menuliskan banyak ide yang saya miliki, saya juga memilki buku tulis. Saya suka menulis pikiran-pikiran saya dengan secara manual seperti ketika tekhnologi yang seperti mesin tik belum ditemukan. Tapi umumnya, saya menulis dengan menggunakan bahasa inggris dan tentunya untuk meningkatkan kemampuan mengekspresikan ide saya dalam bahasa inggris. Saya sengaja menggunakan alat tulis manual karena metode ini memiliki manfaat dibanding menulis menggunakan tekhnologi modern seperti smartphone atau leptop. Salah satunya akan meningkatkan kecerdasan.

Saya kurang ingat bagaimana penjelasan perihal ini, tapi salah satunya, kalau tidak salah, dengan menulis secara manual maka otak kita akan lebih bekerja membentuk bentuk-bentuk huruf dan sebagainya. Berbeda dengan menulis di leptop misalnya, dimana huruf-huruf sudah terbentuk dalam program yang telah didesain. Kita tinggal menekan tombol-tombol yang disediakan kemudian munculah tulisan yang hendak kita sampaikan. Perbedaan ini yang banyak orang tidak sadari tapi sebenarnya memiliki pengaruh yang besar. Kalau tidak percaya, silahkan dicoba kemudian rasakan.

Sebenarnya sejak awal januari ingin mulai mengaktifkan blog ini dan bagian dari resolusiku meskipun sifatnya tidak memaksa. Mungkin bukan prioritas dibanding resolusi yang lain. Tapi saya mulai berpikir bahwa mengasah kemampuan menulis akan penting bagi kepentingan masa depan saya. Apalagi saya sadar masih banyak hal yang perlu saya kembangkan dalam bidang tulis-menulis. 

Apalagi menulis adalah minat/bakat/hal yang saya senangi (passion). Bahkan saya berharap karir saya kedepan akan selalu erat kaitannya dengan dunia tulis-menulis. Hal ini juga yang menjadi alasan kenapa saya harus mulai menulis di blog ini. Rencananya, blog ini akan di isi dengan hal-hal yang “remeh temeh” dan mungkin juga ada yang bersifat pribadi tapi dengan syarat punya nilai-nilai positif (hikmah) yang perlu dipetik. 

Mungkin ini sekedar pengantar untuk mengawali aktivitas saya di blog ini di tahun 2018. Selanjutnya adalah komitmen (istiqomah) untuk menulis karna dalam perjuangan, yang berat itu bukan rindu tapi juga beristiqomah. Semoga Allah selalu memberikan saya kemampuan untuk istiqomah dan tentunya siapapun yang membaca tulisan ini. Aamin. Salam menulis dan membacašŸ˜Š

~Makassar, 7 Februari 2018