Postingan

Jogging di Jalan beraspal

Gambar
Sudah berapa kali saya diajak oleh teman-teman untuk  jogging pagi saat Ramadhan. Aktivitas ini menghindarkan saya dari tidur. Pasalnya, usai subuh ditunaikan, rasa kantuk menghampiri dengan sangat. Bahkan sering tidak sadar akhirnya terpulas juga meski dalam keadaan duduk. 
Kami berjalan santai ke arah bandara Tomia di jalan sebelah utaranya. Jalannya bagus dan beraspal hasil pengerjaan proyek pemerintah. Tidak hanya kami yang berjalan lewat jalan itu, melainkan juga ada rombongan lain terutama rombongan bapak-bapak paruh baya yang mulai senja. 
Tujuan kami semua sama yakni untuk membuat badan lebih sehat sehingga imun tubuh kuat. Daya tahan tubuh yang kuat akan bisa membantu melawan penyakit atau virus seperti covid19, penyakit yang menyusahkan miliaran manusia di muka bumi.
Mulai berubah

Di sisi-sisi jalan yang kami lalui masih banyak rerumputan dan pohon-pohon hijau. Rumah-rumah juga ada tapi masih terbilang sedikit. Sehingga tidak salah jika udaranya ikut bersih dan segar, terlebih d…

Covid19 dan Ketakutan Berlebihan

Gambar
Pada suatu malam tersiar kabar bahwa telur yang dimasak setengah matang bisa mencegah penyakit covid19. Kabar itu sebelum ramadhan tiba dan akan segerah tiba. Kabar yang tersiar di media sosial ini dengan cepat bagai api yang membakar semak belukar di musim kemarau. 
Hampir semua telinga orang tergemakan oleh pesan berantai ini, tidak terkecuali di salah satu pulau kecil di ujung Sulawesi Tenggara: Pulau Tomia.
Saya terlambat mendengar kabar ini. Saat pagi saat membuka media sosial, warga internet (netizen) ramai-ramai membicarakan ini. Tapi topiknya lebih kepada lelucon agar semua orang tertawa. Menertawakan dampak dari perihal ini terutama pada korbannya yakni masyarakat. 
Kenapa korban? Yes, telur sebagai obat pencegah bahkan penyembuh itu adalah kabar palsu alias hoax. Sayangnya, sebelum diketahui sebagai berita palsu, sangat banyak orang di seantero nusantara begitu mempercayainya. Banyangkan saja – setelah saya melakukan penulusuran - di kampung saya, orang rela bangun tengah malam…

Tekanan sosial

Karena pademi covid19, karakter masyarakat Tomia dalam melakukan tekanan sosial cukup terasa. Hal itu bisa dilihat ketika saya pulang kampung sekitar tiga minggu yang lalu. Saat itu dan sekarang juga masih berlangsung, covid19 masih terus berkecamuk. 
Pasien yang disebabkan penyakit ini kian hari kian meningkat. Untuk korban sekarang di Indonesia (saat menulis artikel ini) sudah lebih 14 ribu dan di dunia sudah lebih 4 juta orang. Dan info terbaru untuk hari ini dinyatakan bahwa ada 6 orang positif di Kabupater saya, Wakatobi tepatnya di Pulau Binongko. Ini kasus positif pertama di kabupaten saya secara bersamaan. 
Pembicaraan tentang penyakit ini cukup marak di masyarakat tak terkecuali di kampug saya, Pulau Tomia. Salah satu faktornya adalah media di Indonesia baik nasional maupun lokal cukup menjejali mata, telinga dan pikiran masyarakat. Apalagi berita-berita yang disampaikan selama ini, lebih banyak yang menakutkan. “Bad news is good news”. Wacana yang terus menerus ini akhirnya…

Internet di kampung halamanku

Gambar
Salah satu masalah yang ada di kampung saya adalah sinyal internet. Masalah ini akan sangat dirasakan bagi perantau terutama pelajar dan atau mahasiswa yang belajar di kota kemudian kembali ke kampung.

Internet sangat penting bagi para pelajar tersebut untuk keperluan akses informasi. Apalagi sekarang di tengah pandemi covid19 pelajar diminta untuk belajar dari rumah atau belajar online. 
Tentunya untuk mewujudkan dan memudahkan tujuan itu, fasilitas internet yang bagus amat diperlukan. Inilah yang menjadi masalah sekarang. Internet di kampungku tidak bagus. Hal ini yang akan membuat ketimpangan persebaran informasi terjadi. Orang-orang di kampung dengan internet yang lemah akan ketinggalan dari pelajar yang ada di daerah dengan akses internet yang cepat, terutama di kota.
Dengan kata lain, belajar dari rumah tidak akan efektif atau tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Jika ini tidak segera diatasi oleh pemerintah atau pemangku kepentingan (stakeholders) yang terkait maka kita…

Pulang Kampung di Ramadhan 1441 H

Gambar
Akhirnya saya berada di kampung halaman. Insya Allah saya akan full beramadhan di sini. Sudah lebih dari sedekade saya tidak berada di kampung di bulan ramadahan secara full. Rata-rata saya berada di tanah rantauan terlebih dahulu kemudian baru pulang kampung. 
Palingan seminggu atau dua minggu bahkan sehari menjelang idul fitrih (lebaran), saya baru berada di kampung. Tapi bulan ini saya memutuskan untuk kembali menikmati ramadhan di kampung halaman. 
Rencana awal tidak demikian yakni menjelang lebaran baru akan pulang kampung. Tapi karena satu dan lain hal terutama gara-gara pandemic covid19 yang disebabkan oleh virus sar cov2 (orang-orang populer menyebutnya corona), rencana tersebut berubah. 

Makassar sebagai tempat rantauan saya selama ini adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki pasien covid19 yang cukup tinggi. Karenanya, kota ini akan segerah melaksakan kebijakan yang cukup ketat seperti halnya Jakarta yang lebih dahulu menerapkannya yakni pembatasan sosial berskala besa…

Ibu penjual nasi kuning dan penjual pakaian

Gambar
Sambil duduk di kursi sebuah jualan di area pondokan Kampus Unhas, saya berdialog dengan Ibu penjual nasi kuning. Kursi itu memang miliki si Ibu yang diperuntukan untuk pelanggannya. Tapi saya dipersilahkan untuk menggunakan salah satu di antara deretan kursi yang kosong melompong itu.
Pagi itu saya baru selesai jogging di Unhas dengan kedua temanku. Mereka yang merupakan pengurus inti komunitas MAKES, Arman sebagai ketua umum dan Kaswal sebagai ketua harian, lagi ke mini market untuk membeli sesuatu.
“Sepi ya bu?” tanyaku untuk mengonfirmasi keadaan yang benar-benar sepi. Sebenarnya tidak sepi sama sekali karena ada seorang pelanggan yang sementara makan. “Iya, nak,” jawabnya yang dilanjutkan dengan guyonan. Memang bawaan si Ibu suka bercanda.
Kata si Ibu, semenjak ada virus corona yang menyebabkan penyakit covid19 jualannya menjadi sepi pengunjung. Nasi yang biasanya Ia masak 8 sampai 10 liter sehari, kini tinggal 2 liter. 
“Ayam juga, tadinya 3 ekor sehari. Sekarang seekor untuk d…

Jangan lupa bahagia

Gambar
Hai, saya kadang bertanya kenapa saya tidak bosan dengan tempat ini (di gambar)? Ini di danau Kampus Unhas (Universitas Hasanuddin), almamater saya. Sudah lebih se-dekade saya di kampus ini (maksudnya beraktivitas di kampus ini) tapi saya tidak pernah bosan dengan tempat ini (baca: danau). 
Datang kesinipun sudah berkali-kali. Tapi selalu ada daya tarik tersendiri yang tidak menjenuhkan untuk harus kesini.
Setelah saya pikir-pikir, karena pemandangannya yang cantik jelita. Hening suasanya. Air danau yang tenang dan rerumputan serta tanaman lain yang begitu segar dan hijau. Mata sangat termanjakan oleh ini. 

Bagai oase di padang pasir. Tempat ini adalah salah satu bagian dari ruang publik dengan konsep hutan, selain kantor Gubernur Sulawesi Selatan yang ukurannya tidak sebesar Unhas dan keindahannya pun tidak melebih indahnya Unhas. Yah, Hutan Kota. 
Jadi, saya mungkin perjelas lagi. Hutan Kotanya adalah Kampus Unhas dan Danau adalah ada dalam Unhas. Paham kan? Pertanyaan ini untuk orang y…