Jumat, 16 Februari 2018

Hujan Malam, Hotel dan Angka 13

Malam itu hujan tak kunjung usai. Awan hitam mengepul dan langit semakin gelap menelan bulan dan bintang-bintang. Titik air di jeket yang ku kenakan semakin membentuk nokta hitam yang tebal. Semakin lama semakin memenuhi seolah hujan berlomba memeluk erat kain yang ku kenakan. Saya memutuskan untuk memenuhi ajakan kawan.

Sampailah. Saya naik lift bersamanya. Sebuah lift hotel yang kami berdua di dalamnya, tak ada orang lain. Sepi dan sunyi. Setelah kami melangkahkan kaki ke dalam maka sesuai prosedur, tombol nomor lantai harus ditekan sesuai tujuan, lantai keberapa. Kawanku yang menekan karena dia yang tau tujuan lantai yang diinginkan. Saya diam saja sembari memperhatikan papan tombol yang ada. Namun, ditengah kebisuan, ada kejanggalan yang saya temui. 


                                                                ***  


Pernakah kalian menggunakan lift di sebuah gedung tinggi? Gedung yang lebih dari 13 lantai. Saya menyertakan angka 13 karena hal ini yang menurut saya janggal. Sebenarnya bukan hal yang asing karena cerita tentang angka 13 sudah sering terdengar. Banyak bangunan tinggi yang memiliki lantai 13 biasanya tidak menuliskan angka 13 untuk menandai lantai ke -13. Termasuk hotel yang saya maksud dimana papan tombol lift itu tidak ada angka 13 sebagai penanda lantai ke -13 melaikan diganti dengan angka 15. Di banyak bangunan biasanya angka 13 diganti dengan angka lain sesuai kesukaan pemilik bangunan.


Bisa dilihat di gambar yang saya cantumkan. Selain angka ini, sebenarnya ada juga angka lain yang dimitoskan oleh kalangan tertentu tapi yang umum adalah angka 13. Tidak hanya di Indonesia yang punya tradisi mistisme yang kental, melainkan juga di masyarakat barat, hal ini juga masih kuat diyakini.


Banyak cerita kenapa mitos angka khususnya angka 13. Bagi banyak kalangan menganggap angka ini adalah angka kesialan. Siapa yang menggunakannya akan mengalami kesialan. Dalam banyak cerita yang diyakini masyarakat barat bahwa Yesus meninggal pada tanggal 13 atau murid Yesus ke 13 melakukan penghinatan terhadap gurunya. Dalam peristiwa buruk di peradaban barat modern pun banyak (kebetulan) terjadi pada tanggal 13. Hal ini yang memperkuat keyakinan bahwa angka 13 mengandung makna yang tidak bagus.


Kendati demikian, banyak orang yang meyakini angka 13 sebagai angka magis dan keberuntungan, terutama bagi kelompok masyarakat yahudi. Dalam banyak simbol yang digunakan dalam masyarakat barat jika telusuri maka angka 13 sering digunakan, lambang negara Amerika misalnya, akan ditemui hal-hal yang berjumlah 13.


Terlepas dari alasan-alasan di atas, saya semakin yakin bahwa mistisme selalu memiliki ruang dalam kemanusiaan kita. Peradaban berganti, sisi ini (baca: mistisme) tidak akan hilang. Dia fitrah yang melekat. Masyarakat barat yang identik dengan paradigma ilmiah yang harus dapat dibuktikan secara empiris (kasat mata) akhirnya harus tunduk pada aturan mistisme yang sulit dirasionalkan. Harusnya, mistisme tidak mendapatkan ruang kebenaran dalam tradisi peradaban barat. Mistisme tidak kasat mata bersifat spiritual bahkan dongeng tidak dapat dibuktikan dengan metode ilmiah. Namun, faktanya dia tetap di percayai. Apalagi masyarakat timur yang memang akrab dengan hal-hal yang mitos (spiritual).


Tesis ini semakin memperjelas bahwa kebutuhan akan keber-Tuhan-an adalah naluriah. Semodern apapun cara berpikir dan pembangunan peradaban namun kebutuhan transendental (hal yang melampapui fisik/materi) memang diperlukan. Nomor-nomor hotel (angka 13) adalah contoh. Secara ilmiah, hal semaca ini tidak masuk akal tapi pada faktanya sangat sulit untuk mengingkari sisi kemanusiaan kita untuk meyakininya. Manusia tetap akan mengakui hal yang ghaib di luar rasionalitasnya.


                                                                  ***

Akhirnya pintu lift terbuka. Lantai 5. Kami sampai. Tapi, kami turun kembali ke lantai 2. Di sana ada Mushallah.


~Makassar, 16 Februari 2018


Rabu, 14 Februari 2018

Nongkrong di Pengajian Akbar Ustad Hanan Attaki

Tablik Akbar di Makassar sering diadakan. Saya kurang tau definisi pasti perihal “tablik akbar” tapi kalau boleh membuat definisi maka isitilah ini dapat diartikan Pengajian Akbar (besar) yang di hadiri oleh tokoh agama (islam). Sesuai definisinya maka pengajian ini biasa dilakukan di ruangan yang besar dan dihadiri oleh banyak orang.

Inilah yang terjadi beberapa malam yang lalu (malam minggu, 10/02/2018). Pengajian akbar dengan menghadirkan Ustad Hanan Attaki, Ustad muda yang lagi tren yang punya penggemar yang cukup banyak. Saya kebetulan hadir di acara ini karena saya gemar mendengar ceramah-ceramah beliau di media sosial: facebook dan youtube. Selain saya, ada begitu banyak peserta yang bisa dikatakan semuanya adalah anak muda.


Suasana pengajian Ustad Hanan Attadi di Masjid Al Markas Makassar

Menarik untuk ditilik mengapa ustad ini begitu banyak digemari oleh banyak pemuda? Mengapa ustad lain tidak seperti beliau? Atau kenepa panitia tidak mengundang ustad yang lain? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mungkin kita dapat melihat konten ceramahnya. Ustad asal Aceh ini umumnya berceramah masalah-masalah yang dihadapi anak muda zaman sekarang misalnya persoalan jodoh, galau, cinta atau sejenisnya. Meskipun banyak juga ceramah yang diperuntukan untuk kalangan umum atau persoalan-persoalan hidup universal yang biasa dihadapi oleh kebanyak orang misalnya bagaimana pentingnya doa, sabar atau yang sejenis pula. 


Belum lagi bahasa yang digunakan adalah sangat “anak muda” seperti bagaimana isi ceramah dikemas dengan istilah gaul atau bahasa yang akrab dengan anak muda. Beliau mampu menghadirkan islam dengan wajah yang asik, tidak kaku, realistis dan solutif. Dari tampilan Ustad Hanan, juga tidak formal (kaku) seperti banyak penceramah lain yang menampakan simbol-simbol islam seperti songkok atau jubah. Beliau berpakaian laiknya anak muda. Bukan berarti pemakaian simbol-simbol ini dilarang tapi ini hanya persoalan strategi menggait konsumen ceramah. Beliau sengaja melakukan itu, sebagaimana pengakuannya, untuk menyasar segmen anak muda. Dahulu sebelum beliau merubah strategi bercemah, beliau menggunakan sorban tapi akhirnya dirubah dengan pertimbangan tersebut.


Tidaklah mengherankan tablik akbar ini dihadiri oleh banyak pemuda dan pemudi hingga ruangan masjid pun tidak mampu menampung. Seperti gambar yang saya tampilkan yakni suasana saat kegiatan berlangsung di Masjid Al Makas Al Islami Makassar, salah satu Masjid Raya Makassar. Mereka hadir karena ingin melihat dan mendengar langsung tokoh agama panutan mereka yang selama ini hanya disaksikan melalui dunia maya.
Melihat fenomena ini maka hemat saya, para penceramah lain perlu belajar bagaimana Ustad Hanan Attaki “menyentuh” hati anak-anak muda. Memang tidak bisa dimungkiri, ada juga penceramah-penceramah lain yang punya banyak penggemar dan punya karakter tersendiri. Mereka juga punya spesialisasi dan segmen konsumen (pendengar/jamaah) tersendiri. 


Saya sering mendengar dan mengamati banyak ceramah-ceramah islam baik di mimbar-mimbar masjid maupun di media sosial. Terus terang, banyak ceramah yang membosankan. Bukannya ustadnya yang kurang kompeten tapi ustadnya tidak mampu membawa ceramah yang dapat membuat pendengar betah untuk mendengar. Misalnya ceramah yang terlalu normatif (umum) dan tidak menghadirkan contoh kasus yang terjadi dikehidupan sehari-hari. 


Berbeda Ustad Hanan, beliau memaparkan bagaimana kalau ada rasa cinta pada lawan jenis dan bagaimana mengatasinya dalam kaca mata islam atau bagaimana menghadapi masalah dalam hidup dengan mengangkat kasus keseharian kemudian dihubungkan dengan ajaran islam tentang sabar dan doa. Hal-hal seperti ini cukup ringan dan menarik untuk didengar oleh anak-anak muda karena sekali lagi cukup apilikatif dan realistis sehingga mudah diingat. Tidak heran banyak penggemarnya datang dari anak-anak muda dengan berbagai masalah zaman yang mereka hadapi termasuk saya. hehe.


Tentunya banyak faktor kenapa penceramah-penceramah tertentu digemari banyak orang. Bukan hanya yang saya sebutkan di atas meskipun bagi saya, hal di atas cukup subtansial untuk diperhatikan banyak penceramah lain. Ruang tulisan ini akan cukup panjang akan menuliskannya. Nanti pembaca bosan. Hehe. Semoga ada semangat, ilmu dan kesempatan untuk mengurainya lebih dalam.


~Makassar, 14 Februari 2018

Sabtu, 10 Februari 2018

Perlu Ruang Publik dan Keahlian Seni Fotografi

Hujan masih penuh tanda tanya apakah akan benar-benar turun dengan deras atau tidak. Memang inilah yang terjadi dengan hujan di Makassar seminggu terakhir ini yang kadang menjadi batu sandungan untuk melakukan aktivitas out door.

Matahari mulai menampakan wajahnya meskipun mulai menuju ke kaki-kaki langit di ufuk barat. Pada saat yang sama, awan-awan hitam saja terus berseliweran di langit. Tampak seolah ada kompetisi untuk siapa yang akan menguasai langit saat itu. Tiba-tiba seorang kawan menanyakan keberadaanku melalui aplikasi WhatShapp. “Posisi?”. Di mabes (markas besar). Balasku. 



Singkat cerita, kami menyepakati suatu tempat yang bagus untuk nongkrong. Memang moment saat itu adalah saat dimana orang-orang mulai usai dari aktivitas hariannya. Benarnya saja, tempat tujuan kami itu memang dipadati orang dari berbagai latar belakang. Mereka sama dengan kami: Refreshing. 


Universitas Hasanuddin (Unhas). Inilah salah satu destinasi wisata bagi masyarakat Makassar dan mungkin juga orang-orang luar Makassar. Unhas memang salah satu lembaga pendidikan artinya aktivitas utama dalam peruntukannya adalah untuk pendidikan. Tapi konsep penataan lingkungannya dengan pohon-pohon yang begitu rimbun sehingga menjadikannya bukan hanya sebagai kawasan pendidikan melainkan wisata. Saya sering kali menanyakan pendapat banyak orang tentang suasana lingkungan Unhas, diluar masalah pendidikan Universitas ini. Semua jawaban yang saya dapatkan adalah Unhas punya suasana yang rindang dan banyak tempat yang membuat orang nyaman untuk menikmatinya. Bahkan hal ini membuat Unhas dimasuk dalam program Pemerintah Kota Makassar sebagai kawasan Hutan Kota.


Melihat fungsinya sebagai ruang publik dimana orang-orang dapat bertemu, bersosialisasi atau sekedar datang bereakreasi untuk rehat dari rutinitas, maka penting untuk menghadirkan banyak tempat seperti ini. Sayangnya ruang publik seperti ini kurang menjadi prioritas di kota ini. Itu bisa dilihat dari perbandingan jumlah ruang publik dan jumlah penduduk di suatu kota. Terlebih lagi, hari ini pola kehidupan manusia bergerak menuju masyarakat yang individual dan secara perlahan kebersamaan dalam dunia rill - akibat massifnya tekhnologi dengan segala perangkatnya semisal media sosial dimana orang-orang cenderung hanya bertemu di dunia maya - semakin terkikis. Maka perlu digalakan keberadaan ruang publik sebagai wadah untuk pertemuan dan sosialisasi untuk mengimbangi gerak masyarakat yang meninggalkan pola hidup kebersamaan. 


Terlepas dari itu, saya apresiasi Unhas yang mendesain dirinya bukan hanya sekadar lembaga pendidikan tapi juga sebagai tempat rekreasi. Saya katakan rekreasi karena memiliki banyak hal yang mengundang daya tarik banyak orang untuk berkunjung menikmati suasana lingkungannya. 


Karena alasan inilah saya dan kawan berkunjung kesini (baca: Unhas) meskipun saya bisa dikatakan tiap hari berada di kampus ini tapi sulit untuk menemui kejenuhan. Salah satu kebutuhan manusia modern di era industrialisasi adalah hiburan dan juga aktualisasi. Salah satu perwujudan aktualisasi adalah mengambil gambar kemudian diabadikan dalam jepretan-jepretan kamera dan pada akhirnya di upload di media sosial untuk disaksikan oleh kawan-kawan di media sosial. Tentunya untuk mendapatkan gambar yang bagus, salah satu faktor penentunya adalah keahlian fotografer. Maka berjalanlah dengan orang yang ahli dibidang ini agar gambar diinginkan sesuai harapan. 


Saya pernah punya pengalaman berjalan/rekreasi/berpetualang dengan kawan-kawan yang tidak punya skill dan seni di bidang fotografi, sementara saya punya skill dan seni di bidang ini (hehe..). Konsekuensinya adalah saya menjadi fotografer bagi mereka dan gambar mereka pun lumayan bagus dan kebalikan dengan saya. Tapi untungnya direkreasi kali ini, saya dan kawanku sama-sama punya keahlian dalam memotret. Harus diakui. Haha.


~Makassar, 10 Februari 2018

Rabu, 07 Februari 2018

Sekedar Pengantar di Awal 2018

Bismillahirrohmanirrohiim

Saya mulai mengaktifkan kembali atau menulis lagi di blog ini setelah bisa dikatakan lebih dari setahun blog ini mati suri. Selama ini bukannya tidak menulis, hanya saja saya mengekspresikan ide-ide saya di wadah lain misalnya di facebook atau blog/portal berita. Banyak ide yang berseliweran di pikiran. Kadang saya terhentak untuk menuangkan dalam blog tapi kadang rasa malas menantangku untuk sekedar membuka leptop, duduk dan merangkai kata demi kata, dan akhirnya saya menyerah pada sifat buruk ini (baca: malas).

Sebenarnya, selain di beberapa medium yang saya sebutkan di atas untuk menuliskan banyak ide yang saya miliki, saya juga memilki buku tulis. Saya suka menulis pikiran-pikiran saya dengan secara manual seperti ketika tekhnologi yang seperti mesin tik belum ditemukan. Tapi umumnya, saya menulis dengan menggunakan bahasa inggris dan tentunya untuk meningkatkan kemampuan mengekspresikan ide saya dalam bahasa inggris. Saya sengaja menggunakan alat tulis manual karena metode ini memiliki manfaat dibanding menulis menggunakan tekhnologi modern seperti smartphone atau leptop. Salah satunya akan meningkatkan kecerdasan.

Saya kurang ingat bagaimana penjelasan perihal ini, tapi salah satunya, kalau tidak salah, dengan menulis secara manual maka otak kita akan lebih bekerja membentuk bentuk-bentuk huruf dan sebagainya. Berbeda dengan menulis di leptop misalnya, dimana huruf-huruf sudah terbentuk dalam program yang telah didesain. Kita tinggal menekan tombol-tombol yang disediakan kemudian munculah tulisan yang hendak kita sampaikan. Perbedaan ini yang banyak orang tidak sadari tapi sebenarnya memiliki pengaruh yang besar. Kalau tidak percaya, silahkan dicoba kemudian rasakan.

Sebenarnya sejak awal januari ingin mulai mengaktifkan blog ini dan bagian dari resolusiku meskipun sifatnya tidak memaksa. Mungkin bukan prioritas dibanding resolusi yang lain. Tapi saya mulai berpikir bahwa mengasah kemampuan menulis akan penting bagi kepentingan masa depan saya. Apalagi saya sadar masih banyak hal yang perlu saya kembangkan dalam bidang tulis-menulis. 

Apalagi menulis adalah minat/bakat/hal yang saya senangi (passion). Bahkan saya berharap karir saya kedepan akan selalu erat kaitannya dengan dunia tulis-menulis. Hal ini juga yang menjadi alasan kenapa saya harus mulai menulis di blog ini. Rencananya, blog ini akan di isi dengan hal-hal yang “remeh temeh” dan mungkin juga ada yang bersifat pribadi tapi dengan syarat punya nilai-nilai positif (hikmah) yang perlu dipetik. 

Mungkin ini sekedar pengantar untuk mengawali aktivitas saya di blog ini di tahun 2018. Selanjutnya adalah komitmen (istiqomah) untuk menulis karna dalam perjuangan, yang berat itu bukan rindu tapi juga beristiqomah. Semoga Allah selalu memberikan saya kemampuan untuk istiqomah dan tentunya siapapun yang membaca tulisan ini. Aamin. Salam menulis dan membacašŸ˜Š

~Makassar, 7 Februari 2018

Selasa, 21 Juni 2016

Ibu penjual warung pinggir jalan, berkah ekonomi dan bulan ramadhan

Ramdahan memang bulan pernuh berkah. Bukan hanya dikenal sebagi bulan suci dimana umat islam di ajak untuk lebih mensucikan diri dari niat dan prilaku yang jahat atau tidak manusiawi. Sehingga umat islam diharapkan untuk lebih beribadah mengabdi kepada Tuhan dan bermanfaat bagi sesama serta alam semesta.
 
suasana pasar sentral makassar, ramadhan 1437 H
Namun, disatu sisi ada kebaikan duniawi yang lahir karena ramdhan, yakni keberkahan ekonomi bagi masyarakat muslim dan non muslim. Karena umat islam di Indonesia adalah penduduk yang mayoritas maka kebaikan itu memberik efek pada kebaikan ekonomi nasioanal. Angka-angka ekonomi dan survey lembaga yang kompeten selalu mengofirmasi itu. Tapi sebenarnya untuk membuktikan itu, kita tidak perlu menggunakan penelitian angka statistik yang rumit. Cukup lihat realitas yang terjadi di masyarakat. Bagiamana aktivitas ekonomi saat ramadhan kian menggeliat berikut perputaran ekonomi pun ikut meningkat.

Di tengah lesuhnya pertumbuhan ekonomi dunia yang kemudian mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia, ramadhan sesungguhnya lahir sebagai salah satu solusi. Dalam teori ekonomi semakin banyak konsumsi, menandakan tingkat pertumbuhan ekonomi juga meningkat. Jika semakin banyak masyarakat Indonesia yang berbelanja dan menjual maka semakin baik ekonomi dalam negeri, dan sebaliknya. Sehingga dalam hitung-hitungan ekonomi makro, konsumsi atau jual-beli masyrakat Indonesia adalah salah salah satu parameter untuk menentukan baik dan buruknya ekonomi bangsa. 

Inilah alasan kenapa ekonomi Indonesia bisa dikategorikan stabil dalam lebih dari satu decade terakhir, terhitung setelah reformasi. Padahal di banyak kawasan di dunia telah mengalami berkali-kali krsisis ekonomi bahkan ada yang menuju negara gagal karena ketidak mampuan dalam menghadapi masalah-masalah ekonomi yang mucul. Inilah yang terjadi pada beberapa negara-negara Uni Eropa, Amerika latin dan negara-negara di kawasan lain. Sedangkan Indonesia di dukung oleh kuatnya konsumsi (belanja) penduduknya yang berjumlah kurang lebih 240 juta jiwa.

Tidak salah pemerintah selalu menaruh harapan pada ramadhan, karena tingkat konsumsi pada bulan ini cukup menukik tajam. Pemerintah menginginkan aktivitas jual-beli selama ramadhan bisa lancar sehingga melancarkan pertumbuhan ekonomi. Mungkin ada yang berpikir bahwa ramadhan merupakan bulan dimana mayoritas penduduk Indonesia akan mengurangi konsumsi karena sedang berpuasa. Namun, ternyata teori ini tidak terpat karena realitas yang tampak justru umat islam di bulan ramadhan gemar berbelanja dan menjual. 

Tak perlu berbicara panjang lebar. Lihat gambar yang saya tampilkan. Gambar ini adalah apa yang terjadi di pasar sentral Kota Makassar. Dari namanya “pasar sentral” yang secara gamblang diartikan sebagai pusat aktitivitas jual dan beli dimana penjual dan pembeli bertemu di tempat ini. Di tempat ini berbagai masyarakat yang datang dari banyak kawasan di Indonesia berkumpul. Ada yang dari Sulawesi tengara, Maluku, Sulawesi selatan dan sebagainya. Apalagi Makassar merupakan kota terbesar dan pintu perdagangan untuk kawasan tengah dan timur Indonesia serta menghubungkan perdagangan ke kawasan barat Indonesia. 

Memang, di hari-hari biasa di luar bulan ramadhan, pasar ini cukup ramai pengunjung. Namun, ramadhan menjadikannya jauh lebih ramai. Pengunjung semakin bertambah dan barang-barang yang di jual pun semakin bervariasi bahkan penjualnya ikut bervariasi. Ada barang yang sebelumnya tidak di jual atau sedikit beredar dalam pasaran tapi kini menjadi ada dan cukup banyak. Ada yang dahulu tidak berprofesi sebagai penjual, tiba-tiba jadi penjual. Ada yang dahulu malas ke pasar sentral, sekarang sudah rajin ke pasar sentral.

Peristiwa seperti ini tidak hanya terjadi di pasar sentral kota Makassar ini, melainkan di banyak titik-titik di kota Makassar ramai oleh penjual dan pembeli yang sebelumnya tidak ada. Terutama menjelang buka puasa, kita dapat melihat geliat ekonomi yang cukup baik. Banyak penjual makanan dan minuman buka puasa (takjil), warung-warung makan sudah menyiapkan konsumsi untuk dibeli oleh yang berbuka puasa serta yang lainnya. 

Jangan pikir konsumsi akan berkurang saat bulan ramadhan ini, justru sebaliknya. Penelitian ekonomi dan realitas sudah memperlihatkannya. Apalagi soal makanan dan minuman, saat buka puasa setelah buka puasa dan saat sahur adalah momen-momen yang sangat krusial dimana orang-orang akan melampiaskan hasrat dahaga dan laparnya melebihi hari-hari di luar bulan ramadhan. Jadi tidak perlu takut jualan anda akan tidak laku. Yakin saja, Tuhan sudah menyiapkan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah, salah satunya adalah berkah ekonomi.

Ah, saya teringat pada kasus ibu penjual warung di pinggir jalan di kota serang itu. Apakah memang makanan dan minumnya akan tidak atau kurang laku jika beliau menjual pada saat sore hari, saat berbuka puasa, setelah berbuka puasa dan saat sahur??? Entahlah… 

Selamat berpuasa. Berkah…

*pengembara dalam sunyi

~13 Ramadhan 1437 H / 18 Juni 2016