Postingan

Bernostalgia di Sumur

Gara-gara air tidak mengalir maka banyak yang berbondong-bondong ke Kelurahan Bahari. Mesin air kebetulan lagi di perbaiki. Info yang beredar katanya bak penampungan akan dibersihkan. Ada juga yang katakana kalau pipa utama bocor.  Tidak mengalirnya air sudah berlangsung selama dua hari dengan hari ini. Entah sampai kapan akan berakhir karena sampai sekarang tidak ada informasi resmi dari pihak pengelolah air terkait ini. Orang-orang pun banyak mengalami kesusahan dan tentunya banyak yang mengeluh. Ada juga yang santai-santai saja. Saya orang yang menggabungkan keduanya: santai-santai dan mengeluh. Haha. Tapi ada hal yang menarik dan juga menyenangkan yakni orang-orang banyak yang bernostalgia dengan masa lalu. Termasuk saya. Maksudnya, gara-gara air tidak jalan di dua hari ini, maka orang-orang kehabisan persedian air di rumah dan harus mencari sumber air, yakni di Kelurahan Bahari. Orang yang melakukan itu, salah satunya adalah saya.  Saya sebenarnya orang bahari. Ada rumah di bahari

Masa Depan Bahasa Tomia

*tulisan ini telah diterbitkan di tribunbuton   Penulis melakukan “risert” kecil-kecilan dengan mengajak berkomunikasi dengan bahasa Tomia pada belasan anak-anak  SD dan SMP di Tomia. Dari hasil percakapan tersebut, hampir semua kaku menggunakan bahasa Tomia.  Saat ditanya dengan bahasa Tomia, maka mereka umumnya menjawab dengan bahasa Indonesia. Atau menggunakan bahasa Tomia tapi dicampur dengan bahasa Indonesia. Bahkan hal yang miris adalah menghitung angka satu sampai sepuluh dengan bahasa Tomia pun kadang sulit dilakukan bahkan ada yang tidak tau.  Meskipun hanya mengambil sampel secara acak, tapi setidaknya fakta ini adalah sepotong gambaran yang tengah terjadi di Tomia. Sebenarnya, ini bukanlah hal yang mengagetkan karena jika kita berada di Tomia, maka hal ini akan mudah ditemukan.  Realitas ini dipertegas oleh hasil jajak pendapat Litbang Harian Kompas yang dimuat dalam artikel “Ayo, Gunakan Bahasa Daerah!” (21/02/2020). Meskipun jajak pendapat ini dilakukan secara nasional, na

Cara Belajar Siswa SD di Kampungku di Era Covid 19

Gambar
Siswa SD bermain sembari menunggu gurunya Beberapa hari yang lalu di pagi hari saya melewati jalan dekat Sekolah Dasar (SD) 1 Usuku dan SD 4 Usuku, tempat saya sekolah dulu. Kedua sekolah ini memang bersampingan. Sekolah tampak libur karena tidak ada aktivitas belajar mengajar di situ meskipun di kalender pendidikan sekolah tidak libur.  Memang benar, sekolah tidak libur. Hanya saja siswa-siswa diwajibkan tidak ke sekolah. Kebijakan ini terjadi demi menghindari penularan penyakit covid 19. Metode belajarnya adalah anak-anak sekolah belajar dari rumah. Guru-gurunya akan mendatangi mereka, tapi terlebih dahulu mereka membuat grup agar gurunya bisa gampang mengontrol.  Misalnya di satu rumah, ada 5-7 siswa, kemudian mereka setiap pagi akan dikunjungi oleh guru untuk belajar. Tentunya mereka juga harus berpakaian seragam sekolah. Jadi tampak lucu karena pemandangan ini adalah hal yang baru dan terkesan aneh. Tadi juga, saat lagi asiknya duduk di teras rumah, anak-anak yang berpakaian serag

Saling Menjadi Tetangga yang Baik

Gambar
siput-siput pemberian tetangga Pagi belum terlalu lama. Saya mulai rutinitas dengan meminum kopi di pintu rumah belakang. Baru berapa kali saya menyeruput, seorang ibu tetangga rumah datang dengan membawa sesuatu. Ada siput laut yang semalam di ambil oleh suaminya saat melaut.  Jika dijual harganya lumayan. Apalagi jika dijual di kota, makanan ini cukup merongoh kantung cukup dalam. Biasanya di kota makanan ini tergolong “elite” dan hanya orang-orang yang berpunyalah yang bisa membelinya.  Si ibu tidak datang untuk menjual. Melainkan untuk diberikan kepada kami. Padahal keluarganya juga masih membutuhkan uang untuk mengepulkan asap dapurnya. Tapi ternyata ia lebih suka memberi dibanding menjualnya. Saya cukup terharu dengan pemberian ini. Di saat kesulitan ekonomi terlebih karena pandemi Covid 19 yang telah menghambat aktivitas ekonomi, si ibu justru lebih mengedepankan persaudaraan dari pada menjualnya. Di kampung saya memang tradisi ini bukanlah hal yang baru. Telah lama saling beri

Lupa kalau sedang berpuasa

Gambar
Suatu siang saya ke rumah teman karena suatu urusan. Tiba di sana, teman tersebut sementara makan siang. Sesuai dengan adat kesopanan masyarakat Tomia, saya disuruh untuk makan. Tapi saya menolak untuk makan makanan berat. Saya memilih roti yang terhidang di atas meja. “Saya makan roti saja” ujarku.  Di teras rumah, beberapa teman menunggu. Mereka datang bersama saya. Oleh tuan rumah, mereka diminta untuk masuk dan makan. Saya keluar memanggil mereka untuk memenuhi permintaan tersebut. Sambil mengunyah roti, saya meminta mereka untuk masuk dan makan roti bersama. “Ayo masuk dulu. Makan roti dulu, kemudian kita pulang” “Saya lagi puasa arafah, duluan saja” balas seorang teman. Saya kaget. Saya baru sadar hari itu adalah puasa arafah. Puasa sunnah di hari dimana orang-orang yang sedang beribadah hajji di mekkah sedang wukuf di arafah sebagai salah satu rukun haji. Saat itu juga saya baru sadar bahwa saya sedang berpuasa arafah.  Segerah saya buang makanan yang sementara terkunyah. Saya k

Idul Adha 1441 H di kampungku yang cukup ramai

“Idul Adha kali ini lebih ramai dari Idul Fitrih baru-baru ini” kata temanku. Saya cukup setuju dengan apa yang dikatakan oleh kawan saya tersebut. Idul Adha 1441 H/2020 M kali ini agak berbeda dan tampak sedikit meriah dibanding perayaan-perayaan idul adha sebelumnya. Bahkan sedikit lebih meriah dibanding idul fitrih 1441 H yang belum terlalu lama juga dilaksanakan.  Hal yang membedakan dengan idul fitrih adalah Idul adha kali ini dilaksakan di Masjid setelah ada larangan untuk menjalankan shalat idul fitri 1441 H di tempat umum seperti masjid dan lapangan. Penyebabnya adalah untuk mencegah penularan penyakit covid 19 yang sedang melanda dunia. Seperti ada kerinduan untuk menjalankan perayaan hari besar umat islam ini secara bersamaan. Kini baru mendapat momentum sehingga orang-orang bersuka cita untuk kumpul di masjid untuk shalat idul adha.  Di idul adha kali ini juga, kampung saya agak ramai oleh para perantau. Hal ini disebabkan karena para perantau Tomia cukup banyak yang pulang

Buat mereka nyaman dengan masjid

Gambar
Hampir saban magrib anak-anak sudah mulai berkumpul di masjid. Mereka akan melaksanakan shalat magrib secara berjamaah. Tadinya mereka hanya berapa orang tapi tiap malam semakin banyak bagai bola salju yang semakin bergelinding semakin besar.  Berbeda dengan masjid lain, Masjid Haji Tarmidzi ini selalu ramai oleh anak-anak. Bahkan anak-anak yang biasanya shalat di masjid lain beralih untuk shalat di masjid yang ramai oleh anak-anak ini. Alasan mereka satu yakni mereka lebih bebas bermain di masjid. Tabiat anak-anak memang demikian, suka bermain. Bermain sebenarnya bukan tujuan awal mereka. Sebagian besar dari mereka, awalnya ingin mengaji. Tapi dalam perkembangannya, mereka lebih suka bermain.  Saking dibebaskan untuk bermain, level kebebasan sering kelewatan. Masjid tidak lagi seperti tempat yang sakral atau tempat yang dianggap selama ini hanya tempat untuk sembahyang. Mereka menggapnya sebagai tempat bermain layaknya tempat bermain selain masjid. Meskipun saya sering menegur untuk t