Kamis, 26 Agustus 2010

SuratKu Untuk Pak Presiden

Kepada Pak Presiden di Istana yang megah,
Dari kami di gubuk yang pernah kau gusur.

Waktu kutulis surat ini, saya hampir kehabisan kata untuk menulis karna begitu banyak keluhan-keluhan kami yang tak engkau hiraukan. Kami jadi bingung harus cara bagaimana lagi untuk menyampaikannya. Tapi kami tidak akan putus asa untuk menyadarkanmu tentang nasib kami pak presiden. Dan saya yakin juga bapak dalam keadaan kenyang, sehat dan mungkin lagi tidur di kasur yang empuk.

Pak kami lapar, kami tidak tau mau makan apa, harga makanan dipasar sangat mahal pak, kami tak punya uang untuk membelinya. Padi yang kami tanam gagal panen pak karna pupuk yang engkau jual pada kami sangar mahal. Kenapa bapak sengaja menaikan harga makanan pak? Bagi kami itu adalah malapetaka tapi mungkin bagi bapak bukan hal yang membebankan karna bapak tinggal menuruh juru koki istana untuk membuatkan makanan untuk bapak. Pak tolong suruh juru koki istana membuatkan makanan untuk kami. Bukankah kami sudah membayarkan pajak untuk membayar gaji juru masakmu? Tapi kenapa hanya bapak saja yang dilayani.

Pak tolong berikan kami lapangan kerja yang layak. Kami jadi penjual asongan dan pedagang kaki lima justru kami di usir oleh algojo-algojo (satpol PP) yang kamu perintahkan. Kami juga jadi buruh, engkau belum memenuhi hak-hak kami sebagai buruh. Jangan terlalu salahkan kami pak, kalau ada di antara kami yang merampok untuk memenuhi kebutuhan ekonominya karna itu juga gara-gara bapak.

Pak kami sakit. Kami tak punya uang buat beli obat, harga rumah sakit hanya mahal pak. Bapak tidak akan merasakan penderitaan kami ini karna bapak punya dokter pribadi kepresidenan yang selalu menjaga bapak. Bapak menyuruh kami agar rajin membersihkan lingkungan agar kami sehat tapi kami tidak punya uang untuk itu. Apalagi mau mebersihkan lingkungan tempat tinggal kami, sesuap nasi saja susah kami dapatkan pak.

Pak kami mau tempat tinggal. Kami capek tinggal di jalan dan kami juga capek tinggal di kolong jembatan tapi maumi diapa pak, itulah satu-satunya tempat tinggal kami. Tapi kenapa bapak menggusur kami juga pak?

Pak presiden ini dulu suratku untukmu. Masih banyak yang kami minta darimu tapi cukup itu dulu pak karna kami belum yakin bapak akan mengabulkan permohonan kami ini. Kalau bapak tidak bisa mememenuhi permintaan kami, cukup penuhi sajalah keperluan-keperluan bapak-ibu kami. Kami kasian melihat mereka membanting tulang demi kami. Mereka rela menjadi kuli bangunan, buruh, pedang kaki lima, pedagan asongan demi kami pak, bahkan ada yang sengaja mencuri demi mengurangi air mata lapar anak-anaknya.

Pak,,, sempatkan baca surat kami. Kalau bapak tidak bisa tolong suruh asisten bapak membacakannya untuk bapak dan kalau bisa sempatkan juga untuk membalasnya.
(makassar, 26 agustus 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar