Minggu, 03 Oktober 2010

Keong racun

'Fenomenal'. Itulah kata yang pas diberikan kepada judul lagu keong racun. Sebuah lagu yang beraliran dangdut yang populer karna ulah dua cewek cantik “shinta dan jojo”. Keduanya membebaskan dirinya berekpresi di depan kamera untuk membuat video klip versi mereka dari lagu tersebut.

Itu hanya sebuah pengantar. Namun, Saya mencoba menggunakan analisi gender untuk melihat, meneliti dan juga mungkin merenungi setiap lirik yang ada. Sekedar pengetahuan umum tentang gender, bahwa gender adalah perbedaan perlakuan antara pria dan wanita yang dikonstruksi oleh budaya masyarakat dan bukan karna perbedaan jenis kelamin. Berangkat dari pengetahuan ini dan implikasi yang ada dalam masyarakat, maka gender adalah sebuah budaya yang diskriminatif. Gender telah mensubordinasi dan memarginalkan kaum perempuan. Oleh karna itu lahirah gerakan kaum perempuan yang dipelopori dan lahir di inggris sebagai perlawanan terhadap konsep gender. Gerakan ini disebut dengan gerakan feminisme.

Hampir semua bahkan bisa dikatakan semua bahwa realitas masyarakat selalu membuat kaum hawa didiskrimnasi oleh kaum pria dalam kehiudpannya, contohnya budaya patriarki. Namun saya melihat bahwa ada yang berbeda dengan lagu yang populer karna dua orang cantik “shinta dan jojo”. Dimana lirik-liriknya cenderung menganggap laki-laki adalah ‘keong racun’ yang digambarkan sebagai pria yang tak bermoral (laki-laki hidung belang). Untuk lebih jelasnya :

Reff:
Dasar kau keong racun
Baru kenal eh ngajak tidur
Ngomong nggak sopan santun
Kau anggap aku ayam kampung
Kau rayu diriku
Kau goda diriku
Kau colek diriku
Eh ku takut sekali
tanpa basa basi kau ngajak happy happy
Eh kau tak tahu malu
Tanpa basa basi kau ngajak happy happy

Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok
Mentang-mentang kokai
Aku dianggap jablay
Dasar koboy kucai
Ngajak check-in dan santai
Sorry sorry sorry jack
Jangan remehkan aku
Sorry sorry sorry bang
Ku bukan cewek murahan

Saya melihat bahwa dalam kehidupan di dunia malam (‘gelap’) laki-laki bukanlah unsur tunggal terjadinya ‘ijab-kabul (transaksi)’. Namun ada wanita yang menjadi factor yang menstimulan terjadinya realitas demikian. Dalam lagu tersebut menjelaskan tentang laki-laki yang jahat, tak bermoral, lihat bodi semok pikiranmu jorok.

Inilah yang harus kita pahami bersama bahwa gerakan feminisme harus hati-hati memperhatikan tentang kesetaraan gender. Jangan melihat dengan mata seblah bahwa hanya perempuan yang mengalami subordinasi, ternyata realitas mengatakan laki-laki juga kadang di marginlkan oleh kaum hawa. Kalau ku tak salah dan mudah-mudahan demikian seperti di minangkabau, dimana kaum perempuan yang lebih dominan dalam hal partisipasinya dalam berbudaya dibanding kaum pria. Eh kalau aku yang salah tolong dimaafkan.

Sekedar menigngatkan untuk kawan yang tergabung dalam gerakan feminisme, untuk melihat secara universal tentang kesetaraan gender. Kesetaraan gender bukan hanya memperjuangkan kaum perempuan melainkan juga memperjuangkan kaum pria. Atau dengan kata lain kesetraan gender adalah kesetaraan bagi semua tak terkecuali kaum pria.

Kutulis untuk perubahan [mrn]

Makassar, 3 oktober 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar