Senin, 04 Oktober 2010

Cerpen Revolusi

Mungkin ini hanya aku, jawabku pada kegelisahanku.
Eh…coy apa hanya saya? Sebelumnya aku telah menjelaskannya pada dirinya yang ku harapkan jawabnya. Menanti sebuah jawaban karna dirinya masih berpikir sambil ku teriakan sajakku:

Sajak kegelisahan
Kau,,,
Tidakkah kau tau
Jangan Tanya kenapa? Jangan pula kau jauhi diriku
Cukup dengarlah pintaku. Dan tak lebih dari itu selain kau ucapkan kata yang indah.
Kata yang mampu mengobati pikiran yang terus berdialektika (demikian kata friderich engel)
Jiwa yang bergejolak dan hati yang selalu menginginkan dihinggapi rasa bahagia.
Akh…
Mengapa Kau memberiku pilihan???
Jangan tanyakan padaku lagi tentang kebohongan itu
Jangan memberiku kedamaian,
Jangan kau berikan aku kedamaian sementara keadilan masih mahal harganya
Jangan suruh aku ke pasar swalayan, carefour, ataupun yang itu untuk menemukan keadilan
Aku bisa mendapatkannya di pasar nenek moyangku yang kumuh itu.
Tapi biarkanlah kami memilih keadilan kami sendiri
Jangan jadikan gedung-gedung yang tinggi itu sebagai kamuflase keadilan
Jangan berikan aku keamaian sementara hak-hak kami hilang entah kemana
Aku muak dengan ucapmu
Aku lebih memilih keadilan karna kedamaian hanyalah bagimu.

Kusudahi sajakku denga kalimat itu. Secara spontan dia berucap ‘aku cinta pertanyaanmu karna membuatku sadar akan sekelilingku. Bagiku itu masalah kita. Maka dari itu, revolusi harus tetap terjadi.’

Ku gapai tangan kanannya dan ku genggam erat sebagai konsensus yang tak terputus dan abadi tentang kesatuan tekad untuk REVOLUSI…. !!!

Kutulis demi perubahan [mrn]
Makassar, 3 0ktober 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar