Rabu, 17 November 2010

Perbedaan Hari Idul Adha

Perbedaan memiliki dua sisi. Pertama bisa menjadi sebuah konfrontasi yang menyebabkan konflik. Juga bisa menjadi sharing akomodatif sehingga dapat memperluas cakrawala pengetahuan. Begitu halnya dengan perbedaan pendapat mengenai hari raya idul adha tahun hijria kali ini.

Melalu rapat bersama ulama dan beberapa ormas islam serta pihak-pihak yang berkompentensi untuk penentuan hari idul adha telah diputuskan hari raya idul adha 10 zulhijjah 1431 H, jatuh pada hari rabu, 17 november 2010. Meskipun keputusan pemerintah tidak sejalan dengan beberapa ormas islam lainnya namun pemerintah tetap mengakomodasi kepentingan mereka. Pemerintah tidaklah arogan untuk memaksakan kehendak kepada umat muslim. Karna jika pemerintah tidak akomodatif dalam hal ini maka sesungguhnya pemerintah tidak menjalankan esensi dari ajaran islam.

Hemat penulis, pemerintah cukup bijak dalam mengambil keputusan. Dengan ini kita harus menjadikan sebagai ajang diskusi tentang perbedaan yang kita miliki. Perbedaan berarti memiliki sudut pandang yang tidak sama dalam melihat maslah ini (baca:penetapan idul adha). Sehingga dapat memperluas pengetahuan yang kita miliki.

Perbedaan itu indah. Sebenarnya di zaman Rasulullah saw telah perbedaan pendapat yang terjadi diantara para sahabat. Namun hal itu dibiarkan oleh sang Sang Rasul. Beliau sadar dan sengaja agar manusia dapat berdialog dengan sesamanya dan menjadikan kita lebih bersilaturahmi. Perbedaan pendapat adalah sunnatullah dan itu wajib adanya. Bayangkan saja jika pendapat orang sama maka dunia tak berdinamika. Kehidupan akan stagnan karna manusia hanya berada pada satu warna budaya.

Untungnya pemerintah mengetahui akan hal ini. Karna kadang kita terjebak pada perdebatan pada hal-hal yang kecil sehingga menghilangkan hal yang besar (penting). Tak sedikit kaum muslimin yang terjebak mempermaslahkan persolan yang kecil yang tidak memberikan perubahan yang signifikan. Justru hal ini membut para pesaing islam (peradaban barat) menjadikan sebuah kemenangan bagi mereka.

Jadi perbedaan hari Idul Adha atau 10 zulhijjah janganlah jadikan sebagai penyebab konflik dan perdebatan yang mendalam sehingga melupakan permaslahan umat muslim lainnya. Justru yang menjadi fokus perhatian kita adalah Ketertinggalan intelektual umat muslim dan berbagai permaslahan sosial yang menghinggapinya. Kita tengah mengalami fase imprealisme peradaban barat. Jadikanlah perbedaan ini sebagai kekayaan intelektual. Dengan kekayaan intelektual yang kita miliki akan perdampak pada tatanan peradaban lebih maju dan mengembalikan keemasan islam yang pernah ada.

ku tulis demi perubahan

Tulisan ini telah di posting di ngurunto.blogdetik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar