Kamis, 09 Desember 2010

Identitas Tomia yang Ambigu

Tulisan ini mengkhususkan pengkajiannya pada subuah pulau yang ada dalam gugusan kepulauan wakatobi. Pulau yang terdiri atas dua kecamatan yang berada di kabupaten wakatobi. Pulau ini adalah pulau Tomia. Penulis sengaja mengangkat objek kajian pada dua kecamatan ini karna mengingat daerah asal penulis. Selain itu, sebagai upaya memenuhi permintaan pengunjung blog ini.

Sebagaimana disebutkan disebelumnya Tomia memiliki dua kecamatan dalam hal ini kecamatan Tomia Timur dan Tomia Barat. Namun dua kecamatan itu akan disatukan dalam satu objek kajian yaitu Tomia. Tomia tergolong kecamatan yang semi moderenis. Artinya ada nilai-nilai tradisional belum ditinggalkan sepenuhnya dan nilai moderenitas belum sepenuhnya diadopsi. Atau bisa dikatakan sebagai identitas yang ambigu yaitu berada diantara dua identitas (budaya).

Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, masyarakat pernah mengalami masa hidup bersama yang sangat menjunjung nilai kebersamaan. Nilai inilah yang dimiliki oleh setiap manusia tradisional sebelum beranjak ke fase kehidupan berikutnya. Perkembangan sejarah peradaban tersebut telah membawa manusia pada kehidupan modern. Kehidupan modern ini tertunggangi oleh budaya barat yang akan mengekspasi hingga menghegemoni manusia dalam satu budaya tunggal yaitu budaya barat (westernisasi).

Budaya barat yang cenderung jauh dari kehidupan spiritual dan lebih mementingkan kehidupan dunia telah diadopsi oleh manusia yang hidup di zaman modern ini, tak terkecuali Tomia. Sikap saling tolong-menolong dan menghargai telah tergantikan perilaku individualisme.Pergaulan masyarakat antara pria dan wanita sangat menjunjung tinggi nilai (ajaran) islam, kini telah tergantikan dengan pergaulan ala barat (pergaulan bebas). Permainan tradisional sebagai salah-satu bentuk budaya telah digilas oleh permainan hasil moderenisasi yang berpotensi membunuh kreatifitas anak. Dan semua nilai tradisional yang mengajarkan tentang tatakrama dalam masyarakat baik dari tingkah laku, tutur kata maupun kostum keseharian dan kebersamaan dalam hidup (egaliter) yang teraktualisasi dalam saling tolong-menolong (poasa-asa pohamba-hamba) secara perlahan-lahan telah terkikis menuju kepunahan.


Adalah sebuah keniscayaan bahwa moderenisasi menghampiri kita. Ini adalah sebuah konsekuensi perkembangan IPTEK. Oleh karna itu menghindari terlebih menghilangkan adalah absurd. Sebagai manusia yang tengah dilanda oleh arus modernisasi hanya mampu untuk meminimalisir dampak negatif. Upaya menyeleksi segala nilai-nilai yang masuk harus dilakukan demi menjaga budaya yang telah ada. Selain itu perlu melakukan re-interprestasi terhadap budaya yang tradisonal. Hal ini dilakukan demi mempertahankan kearifan lokal yang kita miliki dan menghadapi tantangan zaman.

Langkah ini terbilang sedikit dilakukan oleh masyarakat Tomia sendiri bahkan bisa dikatakan tidak ada. Masyarakat baik pemerintah maupun masyarakat nonpemerintah jarang menggubris persolan ini. Jika ada sifatnya apatis dan tak mampu diaktualisasikan. Terlebih masyarakat biasa (masyarakat yang diperintah) yang mayoritas kadar intelektualnya masih rendah. Mereka hanya asik dengan arus moderenisasi yang mengalienasikan dan tak mampu untuk mempertanyakannya.

Figur mayarakat yang merupakan tokoh agama dan adat setempat tak mampu membaca fenomena moderenisasi ini. Mereka hanya sibuk dengan kegiatan seremonial agama dan adat belaka di momentum-momentum tertentu. Mungkin karna kurangnya perspektif mengenai ini. Tokoh agama hanya aktif jika perayaan hari besar agama telah tiba begitupun dengan momentum adat. Mereka tak memaknai ajaran agama dan adat memiliki praktek cara hidup. Upaya menghidupakan kembali budaya-budaya tradisional seperti salah-satu contohnya taraian daerah pun jarang dilakukan bahkan tidak sama sekali. Demikian halnya yang terjadi pada pemerintah setempat. Pemerintah yang seharusnya menjadi jawaban dari segala permaslahan masyarat pun bersikap acuh (apatis).

Imbasnya, gerakan zaman yang kian berlanjut telah menemukan hasilnya. Gerak evolusinya telah memastikan arahnya dan berlangsung secara perlahan-lahan namun pasti. Budaya masyarakat setempat telah tercemari oleh budaya yang dibawa oleh moderenisasi yaitu budaya barat. Sedang kita hanya asik menjadi penonton dan menikmatinya tanpa mempertanyakannya. Inilah fase kehidupan imprealisme budaya. *)

Ku tulis demi perubahan

Makassar, 7 desember 2010
Waktu begadang sendiri


Tidak ada komentar:

Posting Komentar