Kamis, 06 Januari 2011

Gairah Anak Kos

Menjadikan seseorang mandiri. Namun sisi negatif dari rumah kos adalah kurangnya bahkan tidak adanya pengontrolan dari keluarga. Tulisan ini akan sedikit mengulas, suatu acara di salah-satu stasiun televisi yang menulusuri pergaulan bebas (transaksi seks) dikalangan pelajar dan mahasiswa yang terjadi di kos-kosan.

Mungkin ketika berbicara tentang tempat kegiatan prostitusi maka pikiran kita akan tertuju pada tempat-tempat yang telah dilokalisasi atau yang sejenisnya. Namun kini fenomena yang terjadi pada masyarakan urban telah terjadi di rumah kos. Tempat ini dipandang sangat strategis agar tidak tercium oleh masyarakat sekitar bagi yang berprofesi sebagai penjajah seks.

Jika ditanya perihal yang dilakukannya, para pelajar ataupun mahasiswa beralasan karna himpitan ekonomi. Dimana mereka (baca:para penjajah seks) tidak mampu membiayai kebutuhan hidupnya terutama pendidikan. Dan sebagian dari mereka tergolong dalam keluarga yang tidak berkecukupan.

Tidak dapat dipungkiri tekanan ekonomi dapat memaksa orang untuk melakukan sesuatu. Namun itu bukanlah satu-satunya alasan untuk menjajahkan seks. Selain itu, moralitas pun memegang andil terjadinya transaksi seks ini. Menurut seorang pengamat perkotaan, ‘kehidupan di kota-kota besar sangatlah rentan dengan gaya kehidupan ala barat‘. Kita ketahui, banyak perbedaan antara gaya kehidupan ala barat dengan karakter timur (Indonesia). Karakter masyarakat barat ditandai dengan materialisme dan sedikit menekankan niliai spiritualitas dalam hidup kesehariannya sehingga hedonisme mutlak terjadi. Sedangkan timur (Indonesia) sangat kental dengan kehidupan spiritual yang mengajarkan keseimbangan antara materi dan nilai trasendent.

Ulasan dalam tulisan ini terkonsentrasi pada salah-satu kota metropolis yang ada di Indonesia. Bandung namanya. Dalam sebuah penelusuran, seorang pengelolah rumak kos membebaskan penghuni melakukan transaksi seks di dalam kamar kos. Dari pengakuannya, agar tidak kehilangan penghuni dan pengejaran materi sehingga memperbolehkan transaksi seks itu dilakukan. Bahkan ada sebuah rumah kos yang telah menyiapkan ‘wanita’ yang siap menjajakan seks sebagai daya tari tersendiri dari rumah kos tersebut.

Seorang pengamat perkotaan melanjutkan, ‘di kota besar Indonesia termasuk Bandung segala hal dapat dijadikan komoditas yang dapat diperjual belikan termasuk seks’. Diperkotaan persaingan ekonomi sangat keras dan arus moderenisasi sangat cepat. Demi ’survival’ maka sekspun harus dikorbankan. Ditambah arus moderenisasi telah membawa budaya barat (westernisasi) semakin meraja lelah. Diperparah lagi, masyarakat kurang mengantisipasi dan menyeleksi secara ketat arus moderenisasi ini. Ujung-ujungnya masyarakat terjebak dalam ‘westernisasi’.

Selain tekanan ekonomi dan moralitas, manajemen kos juga memegang peran yang cukup besar dalam realitas ini. Sebagai mahasiswa kos-kosan, saya melihat bahwa kebanyakan manajemen rumah kos sekarang mengikuti prinsp jual -beli. Ketika pembeli sudah menyerahkan uang dan penjual menyerahkan barang yang dijualnya maka semua transaksi selesai. Penjual tidak peduli lagi dengan barang yang dijualnya dan diserahkan sepenuhnya kepada pembeli. Begitu juga dengan rumah kos. Ketika pihak pengelolah menerima uang dan penyewa kamar kos sudah menerima kunci kamar kosnya maka transaksipun selesai. Pengelolah kos tidak melakukan pengontrolan kepada para pengguna kamar kos. Mereka dibiarkan begitu saja meskipun moralitas tergadaikan.

***
Ada beberapa catatan penting dalam yang dapat kita ambil, yaitu kehidupan moderenisasi telah membawa manusia pada jebakan gaya kehidupan barat yang hedon salah-satunya transaksi seks. Hal itu terjadi ketika penyeleksian secara ketat tidak digalakan. Tidak dapat dipungkiri tekanan ekonomi dapat memicu terjadinya transaksi seks namun bukanlah menjadi satu-satunya alasan bahkan pengaruh hedonismelah yang menjebak manusia pada untuk melakukan transaksi seks ini. Dan terakhir adalah manajemen rumah kos yang kurang memperhatikan pembatasan pergaulan bebas dan kepedulian moral.

Makassar, 5 Januari 2011
ket: telah diposting di kompasiana.com/marwan_antopulo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar