Sabtu, 29 Januari 2011

Seni vs Hukum

Di tengah carut marutnya hukum di negeri kita. Rakyat tak menemukan titik terang mengenai kasus-kasus pelanggaran hukum. Hukum bagaikan komoditas yang diperjual belikan. Kasus century, joki nara pidana (napi), seorang kepala daerah yang dilantik secara bersamaan menjadi terdakwa kasus korupsi dana APBD, kasus gayus dan berbagai kasus lainnya masih meninggalkan segudang misteri.

gambar: google.com
Penyimpangan hukum ini kemudian tidak membembuat masyarakat tidak diam begitu saja. Kondisi masyarakat yang masih diderah oleh berbagai permasalahan tentang ketidakadilan memberikan berbagai protes. Tak terkecuali seorang bona.Melalui lagu yang berjudul “andai aku jadi gayus” dia
melakukan aksi protes. Dia menggambarkan realitas hukum di negeri ini terkait kasus gayus.

Seorang napi ini mengungkapakan isi hatinya terhadap bentuk diskriminasi keadilan dalam Negara yang katanya menjunjung tinggi keadilan ini. Dengan uang seorang pelaku kejahatan bisa meraja lelah. Hukum seperti komoditas yang dapat diperjual belikan. Mereka yang tak memiliki uang akan mudah terjerat hukum sedangkan mereka yang beruang akan mudah keluar dari jeratan hukum.


Pencipta sekaligus pelantun lagu “andai aku jadi gayus” ini sangat kreatif dalam mengungkapkan kegelisahan hatinya. Melihat perkembangan industri musik yang begitu pesat maka seorang bona menggunakan media ini untuk menyalurkan aspirasinya dan sekaligus mewakili semua masyarakat yang merindukan keadilan. Lagu ini akan dan telah mengingatkan kepada para pemangku kebijakan hukum dinegeri ini. Terlebih pimpinan pucuk dari negeri ini yang sangat sangat suka dengan musik. Buktinya, pak presiden kita sudah berapa kali mengeluarkan album rekaman lagu. Ini akan membuat mereka yang tertidur dan pura-pura tidur terhadap ketimpangan hukum dinegeri ini akan tebangun dari tidurnya. Terbangun agar mereka tahu bahwa rakyat sedang dalam ketidakadilan oleh tingkah mereka.


Produk Industri musik kontemporer yang dalam lirik-liriknya didominasi tentang lagu yang beraroma ‘cinta’. Kini melalui seorang bona, lagu menjadi sebuah alat kritik. Seperti halnya kebanyakan lagu yang dilantunkan oleh bang Iwan Fals, Slank dan kini bona telah menjadikan seni (lagu) sebagai alat pembebasan. Dan mudah-mudahan dengan seni yang selalu didindentikan dengan keindahan dapat membawa keindahan di negeri yang haus akan keadilan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar