Selasa, 08 Februari 2011

Investasi Paling Berharga, Yuk!!!

Ketika kita mendengar kata inventasi maka sebagian orang akan tertuju pikirannya pada bagaimana melakukan penanaman modal (uang) untuk masa depan ekonomi. Mungkin karna pada saat sekarang kebanyakan orang terlalu berpikir ekonomis. Terlepas dari itu, berivenstasi yang dimaksudkan disini memberikan perhatian pada diri kita untuk menginvestisikan waktu kita untuk ilmu pengetahuan.

Sebulan sudah kita meninggalkan tahun 2010. Harusnya bulan pertama kemarin (januari) kita menunjukan perubahan yang lebih positif dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tapi seandainya itu tidak maka justru akan menjadi penyesalan. Dan bagi yang berkeinginan
untuk berivenstasi ilmu pengetahuan maka harus menjadikannya sebagai alat koreksi.

Bulan ini harusnya sebagai bulan kebangkitan. Apalagi tahun ini diyakini oleh saudara-saudara kita etnik tionghoa sebagai tahun kelinci yang merupakan tahun keberuntungan. Dan tepatnya lagi diawali ada bulan Februari pada tahun ini. Oleh karna itu baiknya kita jadikan sebagai waktu yang berharga untuk berivenstasi pengetahuan untuk di petik buahnya pada waktu-waktu berikutnya. Namun jika kita hanya melewatkan begitu saja maka akan menjadi awal yang merugikan.

Ingat, hidup ini semakin hari semakin mendapat tantangan. Jika kita tidak siap menghadapinya maka kita akan digilas oleh segala tantangan itu. Namun jika kita menyiapkan diri kita dengan bermodalkan ilmu maka hari demi hari akan dilalui tanpa beban yang berat. Karna ilmu ibarat pedang yang akan memotong-motong kerasnya batu kehidupan. sekeras apapun baru itu jika kita memiliki pedang yang tajam dan kuat maka kita akan bisa mengahancurkannya. Sebaliknya, selunak apapun batu itu jika kita memiliki pedang yang tidak tajam dan rapuh maka tak akan bisa dihancurkan.

“Yang kita takutkan hari ini bukan karna tidak mendapatkan harta tapi jangan sampai kita tidak mendapatkan ilmu”. Demikian kata orang bijak. Betapa pentingnya ilmu hingga hartapun harus menjadi hal yang di nomor duakan. Memang, harta tanpa ilmu maka akan cepat lenyap tapi jika kita berilmu maka harta dengan sendirinya akan datang. Lihat saja para koruptor mereka adalah golongan manusia-manusia yang yang berilmu. Meskipun caranya tidak etis tapi inilah keunggulan mereka yang berilmu.

Kemiskinan di negeri ini salah-satunya disebabkan karna kurangnya sumber daya manusia (SDM). Sumberdaya manusia yang rendah akan berproduktivitas yang rendah pula. Dengan tantang zaman yang semakin keras maka mereka akan terkalahkan dan mereka akan jatuh dalam kubangan kemiskinan. Kembali lagi pada kemiskinan. Kemiskinan akan mengahasilkan SDM rendah dan dari SDM yang rendah akan berproduktivitas yang rendah pula. Dan akhirnya akan kembali pada kemiskinan. Hal ini akan terus menerus berputar dan akan terjebak pada lingkaran setan yang tak putus.

Kalau di sederhanakan akan menjadi demikian : miskin - pendidikan rendah - SDM rendah - prduktivitas rendah - ekonomi rendah (miskin). Dan dari miskin akan berputar kembali. Oleh karna itu perlu ada pemangkasan di salah satu rantai dari siklus tersebut. Kiranya yang cocok sekarang adalah memberikan pendidikan atau inilah yang disebut dengan berinvestasi dengan ilmu.

Mungkin kita akan berpikir bahwa tidak mungkin menjalankan pendidikan yang baik sementara ekonomi si miskin masi memprihatikan. Btul !!!, tapi menurut penulis harus ada upaya menggalakan pendidikan kepada si miskin sebagai sindiran kepada pemerintah yang tak mampu bertanggung jawab mencerdaskan si miskin. Sebagai contoh misalnya gerakan Indonesia mengajar (GIM) yang di gagas oleh Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina). Tapi itu hanyalah salah-satu contoh dari kreativitas anak bangsa untuk pendidikan. Dan tentunya kita masih punya sejuta kreativitas.

Lagi pula kadang paradigma pendidikan kita selalu terkungkung pada sekolah formal saja. Seolah pendidikan formalah yang dimaksudkan sebagai pendidikan. Sementara alam semesta yang terdapat di luar ruangan sekolah formal masih menyediakan pengetahuan yang luas dan justru kadang lebih baik. Sudah banyak kisah yang menceritakan kesuksesan manusia dan ilmuwan yang belajar dari alam sehingga menemukan karya-karya besarnya. Dan banyak yang tidak tersedia di ruang-ruang kelas sekolah formal.

Bukankah, seorang filsuf yunani kuni, Plato, pernah berkata: Jadikanlah setiap tempat yang kau temui adalah perpustakaan bagimu dan setiap orang yang kau temui adalah guru bagimu. Maka marilah kita menginvestasikan waktu untuk memperoleh pengetahuan baik untuk kita maupun pada orang lain.

Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar