Selasa, 15 Februari 2011

Pers masa depan

Pada tanggal 9 Februari beberapa hari yang lalu, pers memperingati hari ulang tahun yang kesekian kalinya. Dalam perayaan itu selain evaluasi kinerja juga agenda pers kedepan juga menjadi bahan pembicaraan. Mengevaluasi keberadaan pers hari ini tidak bisa terlepas kekuatan kuasa modal. Pers tidak bisa dikatakan objektif dalam pemberitaan. Hal ini
telah menjadi rahasia umum dikalangan para penggiat pers sendiri. Proses hadirnya informasi sampai kepenerima tidaklah apa adanya melainkan ada apanya yang tak lepas dari kepentingan atau nilai tertentu.

Kondisi ini memberikan sebuah stigma bahwa pers adalah sebuah media yang sangat erat kaitannya dengan tujuan komersial. Memang itu hal yang wajar, karna dunia globalisasi telah memutlakan uang sebagai alat untuk interaksi. Uang adalah sebagai sebuah kekuatan yang selalu mengarahkan semua hal termasuk pers. Singkatnya pers juga butuh dana sebagai energi penggerak eksistensinya.

Jika hal ini terus dan menjadi agenda prioritas dari pers maka pers yang harusnya menjadi alat penyadaran (pendidikan) akan bias dari tujuannya. Pers harus menjadi kampiun dalam mengontrol gerak gerik ketimpangan yang terjadi. Masyarakat sebagai tujuan pemberitaan dalam pers akan sadar sehingga memungkinkan mempercepat proses demokrasi. Oleh karena itu pemberitaan harus selalu memihak pada misi kemanusiaan.

Misi profetik, layaknya tugas sang nabi utusan Tuhan yang murni menyampaikan kebenaran tanpa ada pemihakan tertentu. Pemihakannya hanyalah kebenaran. Mereka tidak bergerak atas misi komersial melainkan misi kemanusiaan. Sejatinya inilah tugas pers yaitu menjadi media sosial yang dapat membantu transformasi sosial kearah perbaikan. Pers akan menjajikan informasi yang harus selalu sejalan dengan misi kemanusiaan. Sebisa mungkin melepaskan dirinya dari jeratan kekuasaan maupun kuasa modal.

Namun tidak pula dipungkiri, komersialisasi dalam pers tidak dapat dilepas. Pers juga butuh energi penggerak. Meskpun itu, tidaklah menjadi alasan untuk memalingkan dirinya dalam misi kemanusiaan. Semaksimal mungkin pers harus menjadi salah satu pahlawan perubahan. Artinya tujuan kemanusiaan harus diutamakan dibanding tujuan komersial. Dan inilah yang harus menjadi agenda pers kedepan.

Makassar, 14 Februari 2011


Tidak ada komentar:

Posting Komentar