Rabu, 09 Maret 2011

Akulturasi budaya (Tinjauan kritis kebudayaan wakatobi)

Tapi secara garis besarnya dapat didefinisikan sebagai semua hasil cipta manusia (karya, rasa dan karsa) yang diantaranya adalah sebagai tradisi, kebiasaan, karya, seni dan sejenisnya. tak terkecuali juga wakatobi memiliki tarian daerah, makanan khas,bahasa daerah, nyanyian, upcara adat. Tarian daerah yang ada di wakatobi diantaranya seperti balumpa, fakenta dan eja-eja. Tarian daerah ini biasanya di iringi dengan musik dan nyainyian-nyanyian daerah. Makanan khas juga seperti kasoami dan kukure. Selain itu wakatobi juga memiliki bahasa daerah dan upacara adaat layaknya daerah lain di Indonesia misalnya upacara adat perkawinan.

Dalam perkembangannya dimana kehidupan memasuki era perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, kebudayaan-kebudayaan ini pun mulai terkikis. Dan akan mengalami kepunahan jika kita masyarakat wakatobi tidak memiliki usaha-usaha untuk menyelamatkan dan melestarikannya. Namun sebelum ada usaha penyelamatan itu terlebih dahulu kita harus melihat sebab yang menimbulkannya.

Berbagi sudut pandang yang melahirkan pendapat pun muncul mengenai sebab ini. Ada yang melihat karna ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Teknologi yang digunakan oleh masyarakat akan menggambarkan pola kehidupnnya, misalnya ‘tumbua’. Teknologi ini biasanya digunakan oleh masyarakat untuk menghancurkan makanan yang akan dimasak contohnya jagung. Dalam proses pengerjaannya, jagung di tumbuk dalam alat yang disebut tumbua ini secara bersama-sama (2- 3 orang). Proses ini menggambarkan adanya kerja sama antara masyarakat dalam sebuah teknologi yang bernama ‘tumbua’ sehingga rasa kebersamaan itu akan tercipta. Namun hal ini kemudia tergeser ketika manusia menemukan teknologi penghancur makanan seperti ‘blender’. Karateristik blender bisa dioperasikan oleh satu orang dan dalam rumah sehingga akan menciptakan karakter individualistis. Dan hal ini akan menjadi kebiasaan baru yang nantinya akan menggantikan pola kehidupan yang bergotong-royong (poasa-asa pohamba-hamba) seperti yang melekat pada alat ‘tumbua’.

Selain itu, ekonomi juga menjadi sebab yang cukup memberikan andil. Misalnya jika tetangga pergi menangkap ikan di laut, biasanya hasil tangkapannya tidak dimakan sendiri. Tetangga yang lain pun selalu mendapatkan hasil tangkapan itu. Namun hal ini mulai hilang ketika masyarakat mulai kekurangan dana untuk membiayai kehidupannya. Sehingga hasil tangkapan tadi tidak lagi dibagikan kepada tetangga sekitarnya. Dan malah dijual demi melengkapi kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya.

Mahasiswa (perantau) juga turut memberikan konstribusi terhadap perubahan budaya ini. Perantau yang pulang ke kampung halamannya akan membawa budaya lain yang ada didaerah perantauannya. Apalagi jika tempat perantauan tersebut berada didaerah perkotaan yang rentan dengan budaya-budaya asing (barat). Ketika berada di kampung mereka tanpa sadar memakai pola kehidupan dari tempat rantauannya sehingga mencemari budaya kampung halamannya dan secara perlahan-lahan akan akan mendominasi dan nantinya akan musnah.

Budaya lokal dan perubahannya bukanlah menjadi hal yang penting jika kita hanya melaksanakan tanpa ada penggalian secara mendalam terhadap budaya itu. Artinya yang terpenting dari budaya adalah bagaimana kita memaknainya dan mengambil hikmah dibaliknya. Dengan itu kita dapat menjadikannya sebagai prakter cara hidup.

tulisan ini adalah hasil Diskusi HIPPMAT Poassa*
BTN Hamzi, 19 Januari 2011

*lingkar diskusi pemuda wakatobi di makassar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar