Jumat, 04 Maret 2011

Bersyukurlah ketika dapat cobaan?

Mungkin aneh judul tulisan ini. Yah, memang aneh. Setiap saat orang selalu berpikir bagaimana dapat menjalani hidup dengan tenang tanpa ada cobaan. Cobaan selalu menjadi masalah yang menghambat orang untuk meraih yang diinginkan. Tak jarang orang yang sering mengeluh dan akhirnya putus asa. Malah yang lebih ekstrim lagi dengan menghilangkan masalah dengan mengakhiri hidupnya.

Tapi masalah adalah suatu keniscayaan dalam hidup manusia. Manusia tidak dapat
menghindarinya. Oleh karna itu manusia tidak selayaknya terlalu mengeluh? Keberadaan masalah memberikan pengertian pada kita bahwa manusia memiliki kelemahan. Ketika memiliki kelemahan maka tentunya dia membutuhkan sesuatu untuk membenahi kelemahan tersebut. Oleh karna itu maka lahirlah interaksi yang saling membutuhkan (simbiosis mutual).

Saya memiliki ini dan saya juga tidak memiliki itu. Sedangkan orang lain memiliki itu dan tidak memiliki ini. Kekuarangan dan kelebihan masing-masing maka akan melahirkan interaksi yang saling membutuhkan. Maka disitulah tercipta kehidupan sosial.

Dari kelemahan itulah manusia sesungguhnya membutuhkan sebuah kesempurnaan. Ketika manusia mendapat cobaan menandakan alarm ketidak mampuannya sedang berbunyi. Bagi manusia yang tidak ingin dalam keadaan itu maka dia akan selalu mengevaluasi setiap perjalanan kehidupannya. Dia akan selalu mempelajari setiap masalah yang dihadapinya kemudian dijadikan modal menjalani hidup berikutnya. Sehingga terhindar untuk jatuh pada lubang yang sama. Semakin dia belajar dari masalah maka semakin matang cara berpikirnya dan nantinya akan teraktualisasi dalam kebijaksanaannya dalam menjalani hidup.

Sangat hambar hidup tanpa masalah. Bayangkan jika kehidupan di bumi ini hanya siang tanpa malam dan mataharinya selalu terik dan tidak perna tertutup oleh awan gelap. Tentunya keadaan ini akan membuat manusia jenuh dan bosan. Begitu pula pada manusia jika dia tidak pernah mendapat cobaan dalam hidup. Manusia tidak akan membutuhkan yang lain. Tidak lagi membutuhkan manusia lain dalam masyarakat. Padahal betapa bahagianya ketika persaudaraan itu tercipta. Begitu juga dengan kehidupannya. Kehidupan manusia tidak akan monoton tidak ada dinamika. Karna masalahlah yang menciptakan dinamika sehingga manusia dapat belajar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar