Rabu, 09 Maret 2011

Indahnya persahabatan

Bayangkan jika semua interaksi manusia mengikuti mekanisme jual beli. Barang yang kita terima harus ditukar dengan uang. Begitu juga dengan jasa harus tunduk pada uang. Bagaimana kalau yang tidak memiliki uang. Dengan kata lain dia sulit berinteraksi dengan yang lain dalam hal pertukaran barang dan jasa. Inilah konsekuensi yang lahir dari abad kapitalisme karna semua bagaikan komoditas yang tunduk pada kekuatan uang.

Memang benar uang adalah alat tukar barang ataupun jasa. Kita dapat memperoleh
barang dan jasa orang lain ketika kita menukarnya dengan uang. Tapi semua akan berakhir usai pertukaran itu dilakukan. Kita tak lagi mempedulikan siapa yang memberikan kita jasa dan barang itu. Kita hanya mengingat uang yang kita berikan dan barang (jasa) yang kita terima. Ini menandakan kalau interaksi itu akan menimbulkan bekas yang semu dan tidak bertahan lama.

Ikatan uang bukanlah satu-satunya cara yang digunakan. Ada ikatan yang lebih kuat dibanding kekuatan uang. Ikatan ini tidak tidak dapat dikuantitatifkan dengan angka-angka. Karna dia bersifat abstrak yang tak dapat dinominalkan. Ikatan itu bernama persahabatan. Uang tidaklah menjadi syarat terjadinya pertukaran barang dan jasa. Prinsip utama dari persahabatan adalah asalkan kebahagiaan sahabatnya.

Ikatan yang terjalin dalam persahabat bertahan tidak seperti ikatan uang. Sehingga mereka yang terlibat dalam persahabatan akan terikat untuk saling membalas jasa atas apa yang dilakukan oleh sahabatnya. Dan biasanya akan berlanjut terus menerus.

Seorang teman mengirim saya pesan singkat seperti ini:

“Walau akau punya emas tapi sahabat paling terindah, walau akau punya pacar tapi sahabat paling setia, walau akau punya harta tetapi sahabat paling berharga, walau akau punya berlian tapi sahabat paling berkilau dan terimakasih atas segalanya”

Sungguh luar biasa. Kalimat ini sungguh memberikan kita makna yang tentang indahnya sebuah persahabatan. Sahabat yang posisinya tidak bisa diganti dengan emas, pacar, harta ataupun berlian.

Suatu saat anda membantu orang lain dengan meminta balas jasa dengan harta. Orang lain akan memberikan anda harta itu. Namun saya yakin dalam hati orang tersebut akan terbesit rasa dongkol atas sikap yang anda lakukan. Dan dia akan langsung melupakan pertolongan yang anda berikan dan melupakan anda. Kalaupun anda dikenang maka hanya kenangan yang buruk. Tapi coba seandainya yang anda lakukan sebaliknya, maka saya yakin keadaan akan membalik. Orang yang anda tolong akan mengingat jasa anda dan yakin saja pada suatu kesempatan dia akan datang membalas jasa. Selain itu apa yang anda lakukan akan tetap dikenang dan tak akan anda lupakan. Sebaliknya juga anda.

Seorang filsuf yunani, Aristoteles membagi kebahagian menjadi tiga tingkatan yaitu:

Pertama, kesenangan dimana kebahagiaan ini tingkatannya sangat rendah. Dia menyangkut kesenangan seksual, keserakahan atau singkatnya pada kebutuhan badaniyah (materi).

Kedua, kemuliaan. Kemuliaan telah berbicara nilai. Misalnya tentang kepahlawanan, pengabdian, pengorbanan dan lainya.

Dan ketiga yang merupakan tingkatan ketiga sekaligus titik puncak dari kebahagian menurut Aristoteles adalah kebajikan. Kebajikan ini merupakan implementasi dari nilai-nilai itu. Manusia akan memikirkan sesamanya sehingga akan tercipta rasa kemanusiaan.

Pada tingkatan ketiga inilah persahabatan berada. Disinilah implemntasi dari nilai-nilai itu terjewantahkan. Persahabatan memiliki spirit mereduksi konflik karna manusia akan saling menghargai demi kemaslahatan bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar