Senin, 18 April 2011

Cinta: damai atau benar

Ini hanyalah sebuah rekayasa cinta. Terjebak dalam kolonialisme cinta adalah sebuah penjara yang tak mampu diselesaikan dengan revolusi fisik. Aku putuskan sekarang, kalau aku akan bersama hegel dalam hal ini. Aku butuh anti tesis dalam dialektika makna ini untuk menghancurkan kerasnya tembok cinta yang abstrak.

Sebuah anugerah dan mungkin juga adalah kemutlakan pada manusia ketiaka berbicara
cinta dan memilikinya. Cinta adalah sebuah anugera yang melekat pada setiap insan manusia yang menginginkan kedamaian. Karnanya cinta tak mengenal dimensi waktu dan siapa dia. Karna dia akan menghampiri siapa, kapan dan dimana saja.

Retorika cinta kadang membuat semua menjadi lazim yang sesungguhnya penuh dengan jebakan yang penuh dengan kepedihan. Manis tapi tak bersubstansi atau antara kedamaian dan kebenaran. Tak jarang orang memilih kedamaian yang menjanjikan kebahagiaan itu. Begitu banyak kamuflase untuk menutupi kebejatan cintanya dalam bungkusan kedamaian. Ternyata bagaikan lebah yang di depannya membawa manis namun dibelakang membawa racun yang mematikan.

Akhirnya kalimat ini terucap juga dari mulut mereka yang telah merasakan pahitnya kedamaian yang dijanjikan. Kenapa aku tak memilih kebenaran? dalam jeritan dia mengikhlaskan kalimat ini terucap. Ini adalah ekpresi kekalahan sebagai tanda penyesalan.

Mereka terlalu menjanjikan cinta melalui kedamaian namun kebenaran telah mati olehnya. Sedang kebenaran yang akan membawa cinta dan kedamaian itu telah terpasung dalam nikmat yang sesaat.

3 komentar:

  1. jiahahaha..
    bicara cinta kaya bicara produksi-distribusi yg musti diraguin,,
    ini cinta bung!! cinta,, yang tanpanya pun revolusi tak pernh terjadi..

    jgn bilang,, cinta kamu kmu pahami seperti di sinetron2 yah,, fitri dan suaminya hahahaha..

    BalasHapus
  2. hehehehe...ada yang bilang cinta itu setan.

    BalasHapus