Sabtu, 01 Oktober 2011

1 banding 100

Siang itu, ditengah lautan lepas menuju kota bau-bau kami duduk melingkar sambil diskusi di atas kapal penumpang kecil yang semua strukturnya terbuat dari kayu. Maklumlah, ini ciri utama dari transportasi laut di desa terpencil. Tak lupa juga di temani dengan ayunan ombak yang merayu kedua bola mata kami agar membenam. Namun siang itu, ayunan ombak tidaklah mampu menidurkan kami. Mungkin karna konsentrasi kami terlalu di pusatkan pada tema yang menjadi bahan pembicaraan kami dalam forum di atas kapal itu.

Perserta yang gabung dalam forum itu hampir semua adalah anak muda Tomia yang sedang melanjutkan studi ke kota. Yah, mungkin di persempit lagi kalau kami adalah mahasiswa yang akan merantau ke beberapa kota di Indonesia di antaranya adalah kendari, Makassar dan Yogjakarta.

Kami adalah para mahasiswa dari sebuah desa di kepulauan wakatobi, ujung Sulawesi tenggara. Kalau dulu pendidikan bagi kebanyakan anak muda seusia kami kurang mendapat perhatian. Kebanyakan mereka  selalu merantau mencari nafka dengan menjadi pedagang dan buruh, bahkan sampai di luar negeri. Sekarang paradigma telah berubah dengan menjadikan pendidikan sebagai investasi masa depan dibanding hanya berdagang apalagi menjadi buruh.

Jujur saja, saya sangat bersyukur dengan paradigma berpikir masyarakat kampung saya yang mengutamakan pendidikan. Peralihan cara berpikir ini di antaranya disebabkan oleh pengalaman masyarakat (nenek moyang) desa kami yang sulit mencari nafka dengan merantau. Selain itu telah terjadi silang budaya di tempat rantauan sehingga merubah pola pikir masyarakat perantau tentang pentingnya pendidikan. Hal inilah yang menjadi inspirasi bagi orang-orang di desa kami untuk menyekolahkan kami.

Dari banyak celoteh yang keluar dari mulut seorang laki-laki paru baya itu, ada beberapa beberapa kalimat yang berkesan bagi saya. Maklumlah beliau salah seorang diantara banyak orang dikampung saya yang banyak mengetahui asam garamnya kehidupan. Beliau juga telah merasakan bagaimana menjadi seorang pedagang dan buruh rantauan. ‘Kalian adalah calon tokoh di desa kita nanti dan di tangan kalianlah tergenggam masa depan kampung kita’ ucapnya. Kamipun menunjukan rasa empati dengan mengangguk-anggukan kepala. Sambil meneguhkan kopi kemulutnya, dia melanjutkan petuahnya 'Belajarlah dengan sungguh-sungguh karena satu dari kalian adalah sama dengan seratus orang di kampung kita yang tidak sekolah’.

     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar