Rabu, 05 Oktober 2011

Si kaki satu, inspirasiku

Bagi saya dia adalah orang yang pandai bersyukur. Dia sangat bersahabat dengan sebatang tongkat yang dibawanya setiap kali pergi. Tongkat itulah yang digunakan untuk menyangga tubuhnya agar tidak jatuh. Maklum saja, salah satu kaki laki-laki ini
teramputasi.

Saya melihatnya di dalam masjid. Kebetulan kami shalat berjamaah bersama. Kekaguman itu muncul ketika dia berdiri disampingku untuk memulai shalat berjamaah. Dengan fasilitias tubuh yang kurang (kaki) justru dia penuh semangat untuk bersama menunaikan shalat. Di luar sana banyak orang yang sama kasus dengannya. Namun tak semua juga mampu memotivasi dirinya untuk berkarya. Juga, justru banyak yang tak pandai bersyukur nikmat. Lengkap anggota tubuhnya tapi tidak dimanfaatkan secara maksimal. Mungkin di antara banyak orang itu salah satunya adalah saya.  Astagfirullah.

Saya yakin tak sedikit orang yang putus asa dengan keadaan yang memprihatinkan seperti laki-laki tersebut. Bahkan sering kita mendengar cerita ada yang sengaja mengakhiri hidupnya karna depresi kehilangan anggota tubuh. Tapi bagi seorang laki-laki berkaki satu ini, justru memacunya untuk lebih banyak beribadah. Banyak orang ketidaklengkapan anggota tubuh terutama kaki akan menjadi alasan pembenaran untuk tidak berjamaah di masjid.

Inilah sebuah kekuatan yang sangat besar. Kekuatan yang mampu melawan arus negatif dalam dirinya, yakni perasaan tidak mampu, rendah diri (minder) atau berbagai perasaan-perasaan (pikiran) negatif lainnya yang menghambat. Sebagaimana seorang bijak pernah berkata: sesungguhnya perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri (hawa nafsu). Ketika kita mampu melawan nafsu badania yang mengajak kepada keburukan maka sesungguhnya itu sebuah kemenangan yang besar. Bagiku dia (si kaki satu) adalah inspirasiku hari ini dan selamanya. Ayo,,, berkarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar