Sabtu, 26 November 2011

Jama’ah shalat jum’at = jama’ah shalat shubu?

Menjelang berapa detik setelah pak imam mengucapkan salam tanda shalat jum’at berakhir, saya kaget melihat keluar masjid. Banyak jama’ah shalat jumat hingga ke teras masjid karena masjid tidak bisa lagi menampung seluruh jama’ah. Tidak seperti
waktu shalat lain (isa, shubu, lohor, ashar dan magrib) yang jama’ahnya rata-rata paling banyak dua saf untuk jama’ah laki-laki.

Kurang tahu secara tepat alasannya. Sejak mengenal islam shalat jum’at begitu diistimewakan oleh kaum muslim. Bahkan banyak yang menyebutnya sebagai hari raya dalam tiap minggu. Tapi kalau berbicara masalah shalat, sesungguhnya semua shalat yang lima waktu (isa, shubu, lohor, ashar dan magrib) itu hukumnya wajib. Orang akan berdosa jika meninggalkan shalat karena tak ada bedanya dengan shalat jum’at. Toh, shalat jum’at hanyalah pengganti shalat lohor di hari jum’at. Hemat saya, banyak kaum muslimin yang belum tahu secara umum hakekat shalat jum’at termasuk saya sendiri, ahahaha. Mungkin jama’ah yang banyak hanyalah sebuah motivasi kultural yang terkonsruksi dalam pikiran setiap kaum muslimin.

Melihat fenomena seperti ini, saya bertanya dalam hati: kapan semua shalat wajib jama’ahnya seperti shalat jum’at? Seandainya itu terjadi apa yang akan terjadi dengan umat muslim? Mungkinkah akan disegani oleh kalangan non muslim? Atau efeknya nanti bagaimana?

Usai merenung sejenak, tiba-tiba teringat seorang non muslim (kalau tidak salah seorang yahudi). Dia seorang pemikir yang disegani, pernah berkata seandainya jama’ah shalat jum’at sama dengan jama’ah shalat shubu maka umat islam akan menjadi kekuatan yang luar biasa dan disegani diseluruh dunia. Pertanyaannya: kenapa yang dibandingkan hanya shalat shubu ? karena shalat shubu adalah shalat yang paling berat dilaksanakan.

Sungguh analogi yang mendalam. Mampukah kita mengikuti saran dari seorang non muslim itu?





Tidak ada komentar:

Posting Komentar