Sabtu, 28 Januari 2012

‘Galau’ dalam Michel Foucault

Kata ini telah menjadi kata yang cukup populer di Indonesia abad sekarang. Sebenarnya kata ini bukanlah kata yang asing, hanya saja sekarang sering digunakan. Apalagi dalam banyak acara dan tulisan di media elektronik maupun media cetak.

Kalau penulis mengartikannya, galau berarti suatu ekspresi kegelisahan dimana ada sesuatu yang kita inginkan tapi tidak dan atau belum terealisasi. Jika kita mengacu pada pendapat Michel Foucault bahwa dalam setiap wacana memiliki relasi dengan kekuasaan (ideologi) tertentu. Berarti galau juga membawa ideologi apa yang menyertainya.

Mungkin untuk lebih memahami pendapat ini, ayo kita menengok kekuasaan orde lama dan orde baru. Kata apa yang familiar terdengar dalam kedua setiap rezim ini?.

Orde lama atau rezim yang dipimpin oleh Sukarno ini selalu memperdengarkan kata ‘revolusi’. Jika kita menggunakan analisis aktor, maka bung Karno adalah seorang yang menganut ideologi ke kiri-kiri an. Ideologi yang selalu berbicara tentang perubahan secara radikal dalam tatanan masyarakat yaitu ‘revolusi’. Bung Karno terinspirasi oleh semangat Karl Marx yang berpaham sosialis-komunis. ‘Revolusi tidak berhenti sampai di sini, proklamasi Indonesia  bukanlah akhir dari revolusi, melainkan revolusi akan terus dan terus’ demikian kurang lebih bung Karno berkata.

Sedangkan orde baru yang dipimpin oleh Suharto, revolusi bukanlah kata yang familiar. Justru orde baru penentang kata ini. Mengapa demikian? Suharto adalah penganut ideologi yang bukan kiri atau ideologi yang bertentangan dengan orde lama. Melainkan ideologi yang menginginkan pertumbuhan atau pembangunan bukan melakukan revolusi.  Sehingga kata ‘pembangunan’ menjadi kata yang populer terdengar di rezim orde baru. Dengan itu Suharto sering dikenal dengan bapak pembangunan. Ideologi yang digunakan orde baru ini mengacu pada seorang ekonom Amerika yang berideologikan kapitalisme yang bernama W.W Rostow dengan teori pembangunan atau pertumbuhannya.

Bagaimana dengan kata ‘galau’ dan apakah bisa menentukan kondisi rezim yang berkuasa?

Mungkin benar bahwa bapak presiden SBY sementara galau. Pasalnya, terlalu banyak kasus yang ada dan bermunculan dan tak kunjung terselesaikan. Ada keinginan untuk menyelesaikannya namun kelihatan stengah-stengah. Presiden SBY seolah dalam posisi dilematis karena banyak kepentingan yang harus diselamatkan. Mungkin kepentingan pribadi atau ‘kepentingan lain’ atau mungkin juga murni kepentingan rakyatnya.

Entah disengaja atau tidak menurut penulis, inilah yang membuatnya galau. Mungkin kita dapat menyebut penguasa hari ini adalah penguasa yang galau. Atau lebih tepatnya rezim orde reformasi galau.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar