Senin, 09 Juli 2012

Idealisme vs Pragmatisme

Term idealisme jika di telusuri, sesungguhnya dipopulerkan oleh seorang filsuf Jerman Friedrich Hegel dalam filsafat dialektika idealisme. Dialektika hegel diartikan sebagai proses kontradiksi atau penegasian dua komponen yang berbeda. Dia menyebutnya sebagai thesis dan anti thesis yang menghasilkan sintesis, kemudian dalam diri sinthesis juga terdapat dua komponen tadi yaitu thesis dan anti thesis. Kedua komponen ini juga akan menghasilakan sinthesis baru, demikian seterusnya. Sedangkan idealisme, berasal dari kata idea yang artinya pemikiran atau ide. Jadi sesungguhnya, Hegel ingin mengatakan bahwa kontradisksi sebenarnya hanyalah terjadi pada pemikiran atau ide. Atau ada juga yang menyebutnya dengan dialektika ide.

Dalam perkembangannya, idelisme kemudian bergeser makna yang berbeda dengan yang didefinisikan Hegel. Namun perubahan definisi biasanya tidak terlalu jauh dari makna aslinya. Idelisme mengalami perubahan makna sesuai dengan beberapa faktor salah satunya adalah konteks penggunaan yang disesuaikan dengan kondisi sosial yang ada sehingga disepakati untuk digunakan. Oleh karena itu, idealisme dalam tulisan ini dimaksudkan sebagai paham yang selalu berada pada hal-hal yang ideal atau seharusnya. Biasanya orang-orang yang menganut paham ini selalu mempertahankan pemikirannya dan berusaha untuk mewujudkannya secara konsisten dalam keadaan apapun. Mereka tidak mengenal kompromi yang keluar dari prinsip dasarnya meskipun itu dapat mengantarkan mereka pada tercapainya tujuan. Bagi mereka kompromi sperti ini adalah penghianat terhadap idealism itu sendiri, jadi biasanya militansi akan melekat pada pengikut paham ini.

Sedangkan term pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan kebenaran dengan membuktikan dirinya sebagai benar dan melihat apa yang menjadi akibatnya. Pragmatisme menekanan pada eksperimen atau pengamatan. Dalam perkembangannya, pragmatisme mengalami pergesaran makna. Pragmatisme kini dimaknai sebagai paham tentang bagaiamana cara memperoleh kepentingan. Caranya pun tergantung dari kemauan aktornya, meskipun melanggar prinsip dasar tujuannya. Mereka biasanya tidak konsisiten dengan tujuan prinsip atau nilai dasar perjuangannya. Asalkan kepentingan itu terwujud maka mereka melakukanya dengan cara apapun. Singkatnya pragmatisme adalah lawan dari idealisme.

Terus terang, dulu saya pernah menganut paham ini. Saya selalu begitu keras pada sesuatu yang menurut saya tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Misalnya saja tentang permasalahan sosial yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang salah. Sebagai mahasiswa, saya selalu mengatakan bahwa pemerintah salah dan harusnya begini dan begitu. Saya tidak takut berteriak pada pemerintah karena saya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan mereka, hanya sebatas hubungan rakyat dan wakil rakyatnya.

Namun, tahukah kita bahwa pemerintah atau wakil rakyat kita juga adalah mantan mahasiswa seperti saya? Bahkan banyak dari mereka banyak melakukan hal yang seperti saya lakukan malah lebih hebat lagi. Melawan pemerintahanya yang katanya salah mengeluarkan kebijakan, melakukan demonstrasi jalanan karena merasa membela rakyat tertindas untuk melawan penindas (sebutan bagi pemerintah) atau selalu merasa diri paling benar dan menganggap pemerintah hanyalah mementingan diri sendiri. Dan lain sebagainya.

Tapi yang mengherankan, ternyata para mahasiswa penentang penindasan itu kini telah menjadi penindas (wakil rakyat) kembali. Banyak dari kalangan mahasiswa yang ketika menjadi mahasiswa selalu berada pada posisi yang idealisme namun disaat berada pada sturuktur kekuasan maka idealisme itu hilang. Pragmatisme kini telah menjangkiti mereka. Kenapa ini bisa terjadi?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya tidak akan terlalu banyak mengeluarkan konsep-konsep atau teori-teori. Cukup kita melihat beberapa paragraph di atas. Bahwa, ada perbedaan konteks mahasiswa dan pemerintah. Mahasiswa hanya berada dalam kampus, kurang bahkan tidak bersentuhan dengan kekuasaan. Mahasiswa belum punya kepentingan pada kekuasaan, jika mahasiswa melawan pemerintah maka tidak ada hubungannya dengan nilai akademi (untuk beberapa kasus terutama di zaman orde baru, mahasiswa mendapat intervensi yang lebih dari penguasa). Namun, yang menjadi titik tekan disini adalah “kepentingan” terhadap pemerintah.

Sedangkan ketika Mahasiswa sudah keluar dari kampus. Mereka berhadapan dengan dunia baru yang berbeda dengan kampus. Mereka dituntut mencari kepentingan ekonomi (uang) untuk menghidupi dirinya bahkan orang lain. Akhirnya mereka harus mengorbankan idealisme mereka demi kepentingan ekonomi. Selain itu hemat saya, se idealisme apapun seseorang jika sudah masuk dalam sturuktur kekuasaan maka dia akan susah mempertahannyakaannya. Dia harus mengikuti arus (aturan main) sistem yang berlangsung karena konsisten dengan idealisme maka berarti harus siap keluar struktur.

Jika demikian, apakah saya akan menjadi penindas ketika suatu saat menjadi penguasa? Atau apakah saya harus terus berada dalam posisi yang idealisme sedang bagiku idealisme yang radikal itu absurd jika berada dalam struktur kekuasaan? Jawabannya: entahlah…

*Jawaban saya hanya dilihat dalam perspektif kepentingan dan konteks ruang yang melingkupi aktor.

3 komentar:

  1. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.


    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.


    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Sangat bagus sekali mas tulisan mu.. lanjutkann.. aku senang sekali bacanya, merasa sedikit di cerahkan.. goodjob mas!

    BalasHapus