Rabu, 31 Oktober 2012

Pemuda itu harus galau

Hemat saya, galau adalah ada sesuatu yang kita ingin sekali kita wujudkan tapi tidak terwujud. Sehingga orang yang terkena fenomena ini selalu merasa diri seakan tidak tenang dan nyaman. Jika kata ini disandingkan dengan kata pemuda sebagaimana pada judul tulisan ini maka bisa berarti pemuda harus tidak nyaman dan tenang. Trus, kenapa harus saya anjurkan, kalau pemuda itu harus galau? Padahal ketenangan dan kenyamanan itu sangat di butuhkan oleh siapa saja.

Bagiku, tidak selamanya galau menimbulkan dampak negatif atau tidak semua tidak nyaman adalah tidak baik. Ada juga galau yang baik dan malah di anjurkan. Jika kita galau pada sebuah masalah yang terjadi dan berusaha mencari jalan keluarnya. Atau galau tentang keburukan dan kezaliman yang terjadi dimana saja, inilah yang saya maksudkan.

Dalam historitas, jika kita mengacu pada kisah Rasulullah Muhammad SAW sebelum wahyu turun padanya, maka kita akan melihat betapa galaunya beliau. Hingga beliau menghindar dari keramaian masyarakat arab yang jahiliyah dimana terjadi perang antarsuku dimana-mana, perzinahan, riba, perbudakan dan berbagai tindakan amoral atau kejahiliyaan lainnya. Beliau menyepi di dalam gua hira di puncak gunung jabal nur (gunung cahaya) sembari menggalaukan dan memikirkan realitas buruk yang tengah terjadi di masayarakt arab saat itu. Atas kegalauan ini, Allah SWT memberinya petunjuk mengutus malaikant Jibril untuk menurunkan wahyu pertamanya.

Jika di bawa ke konteks ke Indonesiaan kita, ini tidak jauh beda dengan yang terjadi pada peristiwa 28 Oktober 1928. Ketika para pemuda galau terhadap kondisi nusantara pada waktu itu. Mereka melihat bentuk ketidakadilan yang dilakukan oleh para penjajah terhadap masyarakat nusantara. Sementara para pemuda masi terfragmentasi oleh ego sektarianisme yang justru menguntungkan para penjajah. Kondisi ini memberikan stimulus bagi lahirnya ikrar bersama di antara para pemuda di nusantara untuk menyatakan diri sebagai satu bahasa, bangsa dan tanah air Indonesia, yang kita kenal dengan sumpah pemuda.

Semangat kegalauan ini harus terus digulirkan agar menjadi inspirasi bagi pemuda sekrang dan masa depan. Dengan kondisi bangsa yang carut marut yang dilanda krisis multidimensional harusnya kegalaun itu semakin memuncak pada setiap diri pemuda. Pemuda tidak bisa hanya tinggal diam dan pasrah terhadap kondisi seperti ini. Idealnya, pemuda sebagai kekuatan penting dalam masyarakat menjadi ujung tombang aktif dalam menghancurkan setiap tantangan yang mengahalangi setiap kemajuan.

Sejarah telah mencatat, gerakan pemuda dari masa kolonial hingga hari ini sangat di perhitungkan. Meskipun tengah mengalami degradasi karakter dan mental, tapi tidak bisa menjadikan kita pasrah kondisi seperti ini. Pemuda sebagai modal dan kekuatan utama harus dibangkitkan kembali kekittah perannya sebagai ujung tombak dalam masyarakat dalam perubahan yang lebih baik. Jika sebaliknya, pemuda tidak memiliki kualitas yang mumpuni dan daya juang yang tinggi maka realitas buruk akan semakin buruk dan masa depan bangsa akan semakin suram karna merekalah aktor utama dalam memainkan peran kemajuan sebuah masyarakat.

Maka kegalauan pemuda terhadap ketidakadilan dan kezaliman harus terus di genjot. Sehingga dapat menjadi pemuda yang seperti dikatakan Sukarno, akan mengguncangkan dunia.

“Berikan aku sepuluh pemuda maka akan kuguncangkan dunia”. -Soekarno-

*sebuah dedikasi untuk peringatan hari sumpah pemuda yang ingin perubahan lebih baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar