Jumat, 30 November 2012

Celoteh di akhir bulan november 2012

Di ujung bulan November 2012, saat saya sedang menulis tulisan ini. Mungkin beberapa menit lagi jika belum kiamat akan terjadi pergantian bulan menuju desember, bulan terakhir di tahun masehi ini. Inilah perputaran waktu yang tak pernah lelah dan berlaku bagi siapa saja. Waktu selalu adil pada siapa saja, tak mengenal identitas, apakah kamu seorang pria-wanita, muda-tua, kecil-besar dan semua perbedaan identitas lainnya. Alangka rugi jika perputaran waktu ini tidak disertai dengan perubahan yang lebih baik. Bukanlah sebuah kemajuan jika kita masih seperti yang kemarin apalagi lebih kurang dari yang kemarin. Karenanya keberuntungalah yang mampu memanfaat waktu sebaik-baiknya.

Dalam perenungan, saya beresolusi tentang apa yang harus dicapai pada bulan ini. Pada saat menulis tulisan ini sesungguhnya adalah momentum untuk mengevaluasi diri. Mengevaluasi seberapa jauh yang saya lakukan untuk merealisasikan resolusi yang saya sudah buat di awal bulan ini (baca: november 2012), temasuk dalam menulis di blog ini. Terus terang saya memiliki target capaian tentang berapa tulisan yang harus saya tulis pada bulan ini. Ini saya lakukan demi lebih meningkatkan kemampuan menulis saya agar perubahan itu lebih berarti (seperti yang saya katakan dalam peragraf sebelumnya).

Resolusi adalah sebuah rencana yang akan dicapai dalam targer waktu tertentu. Kadang begitu indah kita berencana, menyusun konsep, langkah yang harus dilakukan, strategi hingga target waktu. Tapi tak sedikit orang yang memiliki rencana namun tidak tercapai sesuai yang di inginkan karena kadang kita tidak siap mengantisipasi hambatan yang muncul ataupun keteledoran kita dalam menjalankan langkah menuju tujuan itu. Dalam perspektif agama, manusia hanya bisa berenca mengenai hasil yang direncanakan Tuhanlah yang menentukan. Oleh karenanya ada ungkapan bijak: tulislah rencanamu dan biarkan Tuhan menghapus atau menambahkan apa yang telah kamu tulis agar menjadi lebih baik. Memang, kadang kita menganggap sesuatu yang kita pilih adalah terbaik namun yang paling memiliki penilaian yang baik adalah Tuhan yang Maha Tau. Oleh karenanya kita di ajak untuk menyerahkan hasil pada-Nya dan kita dibiarkan hanya berikhtiar dan memohon pada-Nya.

Beberapa hari yang lalu, beberapa orang sahabat bercerita tentang saya perihal perjalanan hidup dan yang sedang terjadi pada mereka. Pada dasarnya inti cerita mereka sama saja bahwa apa yang direncanakan ternyata gugur di tengah jalan atau hanya sebagian saja yang tercapai sebelum mencapai tujuan yang di inginkan karena hambatan-hambatan di luar kuasa mereka. Namun saya salut dan kiranya patut di acungkan jempol tentang kesabaran dan kepasrahan mereka pada Tuhan yang Maha menentukan dan Maha Tau yang terbaik buat hamba-hamba_Nya. Mereka yakin tentang rencana Tuhan yang akan indah pada waktunya bagi mereka yang ikhlas dan sabar.

Hemat saya, inilah hakekat hidup. Setidaknya ada hikmah yang patut kita ambil dalam untaian kalimat yang saya tulis ini. Tentang keikhlasan, kesabaran dan pengabdian kepada_Nya bahwa hidup dan mati hanya untuk Tuhan semesta alam, bukan yang lain. Jika manajemen seperti ini yang kita gunakan maka alangka indahnya hidup. Masalah sebesar apapun yang tak jarang membuat orang stress bahkan depresi hingga mati akan terasa indah bagi orang yang mengetahui hakekat hidup yang sebenarnya sehingga mampu memanajemennya dengan baik sebagaiamana yang dilakukan oleh sahabat-sahabat saya ini.

Untuk menutup celoteh-celoteh saya yang mungkin agak ruwet ini maka saya ingin menitip pesan. Bahwa dalam setiap perubahan waktu sesungguhnya ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir. Selalu ada hikmah-hikmah atau hal positif bagi kehidupan ini hingga kita terus bergerak menuju kesempurnaan.

#di tulis di markas besarku, tamalanrea skitar Unhas makassar. menjelang pergantian bulan menuju desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar