Senin, 19 November 2012

Cinta dan bulan

Di kotaku saat ini, mentari tak memberikan senyum sebelum dia membenamkan diri. Mungkin awan hitam sedang marah hingga menghalangi sinarnya sampai ke bumi. Ah, aku sekarang tak mau menjadi mentari yang terhalang sinarnya oleh awan hitam. Lagi pula dia tidak pernah muncul dimalam hari menemani makhluk-makhluk bumi. Aku lebih suka pada bulan yang mengikhlaskan tubuhnya untuk memantulkan sinar mentari di malam hari. Padahal dia tidak menerima imbalan apapun. Di siang haripun juga sebenarnya dia kadang muncul menemani manusia di bumi meskipun tak begitu menampakan tubuhnya karena dominasi sang mentari. Baginya hanya cintanya pada bumi yang membuatnya harus rela menemani malam hingga mentari bangun dari tempat peristirahatanya di siang hari.

Dalam hatiku berujar. Hey manusia, tidakkah kau belajar pada bulan yang ikhlas itu? karena mencintaimu, dia rela menemani malammu meskipun engkau lelap hingga pagi hari. Hey, kenapa engkau buat senjata untuk membunuh manusia yang lain? Hey, dimana otak dan nuranimu? Tidak kah engkau mendengar tangisan anak dan wanita yang tak bersalah itu? Hey, kenpa tidak belajar mencintai sebagaiamana bulan ?

Masih terbesit di palung hatiku ketika seorang wanita berpayung itu berkata padaku: yang ditakuti di dunia ini bukanlah senjata-senjata yang menghancurkan itu, namun yang harus ditakuti adalah bergesernya hati nurani manusia. Karena cinta itu adalah padanya. Mencintai tak terbatas melafalkan syair-syair puisi pada yang kita cintai. Melainkan lebih dari itu, perbuatanlah yang membuktikan. 

Bulan memang mengajarkan kita tentang banyak hal. Dia mengajarkan tentang cinta meskipun kadang dia tampak malu-malu untuk menampakan tubuhnya yang indah itu. Tak pernah terdengar perkataannya cintanya pada manusia-manusia di bumi melainkan hanya dibuktikan dengan perbuatannya bahwa dia mencintai manusia meskipun nurani manusia sudah mulai bergeser. Itulah bulan dengan cahayanya, menjadi mandataris mentari di kala malam. Karena cinta kadang tak mesti melalui lafal lisan melainkan biarlah perbuatanmu yang membuktikan.

~marwan.upi, di sore yang mendung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar