Kamis, 08 November 2012

Kuasai dunia, maka kuasailah ilmu pengetahuan

Francis Bacon seorang tokoh renesaince di eropa, pernah berkata ‘Jika ingin menguasai dunia maka kuasailah ilmu’. Tokoh ini, berani mengeluarkan pernyataan ini, tidak bisa dilepaskan dari latar belkang sejarah pada saat itu. Eropa sebelum itu, adalah eropa yang berada dalam lilitan kegelapan dimana kebebasan berpikir untuk menemukan pengetahuan sangat dikekang. Bahkan ketika pengetahuan baru ditemukan maka tidak akan di akui bahkan penemunya (pemikirnya) akan di bunuh oleh otoritas geraja jika bertentangan dengan kepentingan mereka.

Pasca itu, gerakan renasaince (pencerahan) pun digulirkan. Kebebasan berpikir mulai digalakan dan perkembangan ilmu pengetahuan pun semakin pesat. Tekhnologi mulai ditemukan sehingga aktivitas manusia terbantukan olehnya disemua bidang terutama dibidang ekonomi dan militer.

Mungkinkah luar angkasa dapat dijangkau, jika tidak tahu cara untuk sampai kesana? Termasuk bagaiamana bisa bertahan hidup di sana dalam jangka waktu tertentu? Tentunya ini tidak bisa dilepaskan dari peran ilmu pengetahuan. Bahkan untuk mengeksploitasi dan menjajah sesama manusiapun memerlukan ilmu pengetahuan.

Sejarah mencatat, Indonesia secara bergantian dijajah oleh bangsa-bangsa eropa. Dengan kekuatan milter mereka, sehingga dengan mudah menaklukan Indonesia. Tidak hanya kekutan militer yang menjadi modal mereka, karena sebelum mereka datang menjajah terlebih dahulu mereka telah mempelajari kondisi masyarakat Indonesia agar penjajahan itu mudah dilakukan.

Tahukah kita, bahwa sebelum belanda datang ke Indonesia mereka sudah memiliki data-data hasil kajian tentang Indonesia? Di belanda saat itu, telah muncul beberapa lembaga-lembaga kajian tentang ke Indonesiaan, sala satu contonya adalah Royal institute of linguistic yang mengkaji tentang bahasa Indonesia. Belum lagi bagaimana pakar kemasyarakatan belanda, Snouck Hurgronje yang dibiayai oleh belanda untuk meneliti tentang kondisi sosialogis masyarakat Indonesia atau Boeke yang mengkaji tentang system ekonomi Indonesia. Sehingga wajar saja, belanda selama lebih dari tiga abad menjajah Indonesia dengan berbagai macam strategi dan siasat. Politik pecah belah (devide et impera), politik etis atau mendukung gerakan islam kultural dan membasmi geraka islam politik adalah bagian dari cara mereka untuk melanggengkan kekuasaaan di Indonesia. Semua itu terjadi karna kelebihan pengetahuan mereka dibanding masyarakat Indonesia saat itu.

Hal ini pun tidak jauh beda dengan kondisi sekrang. Ilmu pengetahuan telah menjadi raja sehigga dengan mudah menaklukan sebuah negara. Lihatlah, negara-negara maju menguasai dunia dengan menghegemoni system kehidupan masyarakat dunia terutama di negara-negara berkembang. Tak terkecuali system ekonomi yang mereka kendalikan, politik, budaya, pendidikan dan bahkan agama pun mereka kontrol.

Apalagi ekonomi, merupakan hal yang vital dalam kelanjutan hidup di dunia bahkan aturan seketat apapun jika kebutuhan ‘perut’ belum terpenuhi maka mungkin bisa dikatakan semua manusia akan melanggarnya. Sehingga dapat dilihat, kita meronta-ronta untuk tunduk pada kekuatan negara-negara maju karena ketidak mampuan atau kebodohan kita mengikuti cengkraman ekonomi mereka. Jika kita memang cerdas (menguasai ilmu pengetahuan) dari dulu, seharusnya kita yang mencengkram mereka dengan system ekonomi kita ataupun menghegomoni seluruh system kehidupan mereka.

Inilah contoh bagaimana dunia dikuasai oleh ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, Ilmu pengetahuan harus menjadi amunisi strategis untuk menaklukan dunia. Ilmu pengetahuan dapat menciptakan amunisi senjara militer, senjata sampai ke luar angakasa, senjata ekonomi, senjata politik, senjata budaya dan semuanya. Sehingga tantangan apapun akan mudah dilawan jika ilmu pengetahuan kita kuasai maka kebahagiaanpun akan didapatkan.

Ungkapan bijak “Jika ingin bahagia di dunia maka tuntutlah ilmu, jika ingin bahagia di akhirat maka tuntutlah ilmu dan jika ingin bahagia dunia akhirat maka tuntutlah ilmu”

Selamat belajar…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar