Kamis, 29 November 2012

Sedikit tentang haji

Beberapa hari yang lalu saya menjemput jamaah haji yang baru saja pulang dari tanah suci, Makkah. Menunaikan haji memang adalah salah satu kewajiban yang ditegaskan dalam rukun silam kelima khusus yang mampu secara lahir dan batin. Karnanya tidak semua umat muslim mampu untuk menunaikan ibadah ini. Meskipun itu, Indonesia terhitung sebagai negera yang paling banyak menyumbangkan jumlah jamaah hajinya dalam tiap tahun. Ini wajar saja, Indonesia merupakan negeri muslim terbesar di dunia.

Membicarakan haji, maka kita bisa sedikit berbicara tentang pengaruhnya terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dahulu di zaman kolonialisme selain adalah kewajiban bagi umat islam, haji juga dijadikan sebagai strategi perjuangan. Namun tujuan yang kedua ini belum diketahui oleh para penjajah. Mereka semata-mata mengira bahwa haji hanya ibadah ritual masyarakat muslim islam untuk mengunjungi bayt Al Haram dengan segala prosesinya. Dengan alasan itulah, mereka para kolonilis memberikan izin bagi masyarakat nusantara kala itu untuk menunaikan ibadah haji.

Berbeda dengan sekarang yang transportasi lebih cepat dengan tekhnologi yang lebih modern yakni mengendarai pesawat terbang. Dahulu untuk menuju kesana (baca: makkah) hanya transportasi laut yang disediakana atau mungkin yang ada pada saat itu. sehingga bagi yang ingin naik haji, prosesi pelepasannya pun oleh masyarakat pribumi sangat khusu dan sering disertai dengan kesedihan. Bagaimana tidak, perjalanan yang cukup jauh menuju Makkah di Timur tengah bukanlah jarak yang dekat serta waktu yang singkat untuk di tempuh. Belum lagi kepulangannya di tanah air, tidak ada bedanya sehingga terkesan keberangkatannya adalah perpisahan selama-lamanya seperti halnya meninggal dunia karena tak tahu kapan akan bertemu lagi.

Sukarnya menuju kesana, menjadi alasan bagi para cendekiawan muslim (pemuda-pemuda muslim) untuk memanfaat momentum dan timur tengah sebagai “perpustakaan islam” untuk menimbah ilmu sebanyak-banyaknya. Usai melaksanakan ibadah haji mereka (baca: pemuda muslim) tidak langsung pulang ke tanah air. Mereka berjelajah, menyebar daratan timur tengah bahkan hingga kedaratan Afrika untuk memperdalam ilmu islam mereka. Selain menimbah ilmu, mereka juga melakukan konsolidasi membangun dan menggalang kekuatan untuk memerdekakan diri dari para penjajah di tanah air pada saat itu. Sehingga tak mengherankan, kadang keberangkatan mereka ke tanah suci cukup lama, bertahun-tahun bahkan konon ada yang menikah di sana. Setelah mereka merasa sudah cukup maka kembalilah ke tanah air untuk mengaktualisasikan nilai-nilai atau semangat ke hajiannya. Banyak dari mereka terlibat dalam perjuangan kemerdakaan Indonesia, sebut saja KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari. Kedua tokoh ini berhasil membangun konsolidasi organisasi islam yang bertahan hingga sekarang dan merupakan organisasi islam terbesar di Indonesia.

Historitas inilah yang membuat begitu haru saat pelepasan dan penjemputan tat kala para jamaah haji sudah pulang dari tanah Arab. Keharuan seperti ini tidak masih mirip dengan yang terjadi sekarang, saat saya menjemput para jamaah haji saat itu. Suasana semakin ramai tatkala tangisan harus mewarnai kepulangan mereka di tanah air serta keberangkatannya. Mungkin yang susana seperti itu masih sama dengan suasana yang terjadi dahulu ketika itu.

Bagaimana dengan terjadi sekarang? Mungkin pertanyaan ini layak untuk di ajukan saat ini. rata tiap tahun Indonesia mengirim penduduknya ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji kurang lebih 200.000 jiwa. Padahal itu yang lolos antrian, sementara yang lain harus antri menunggu beberapa tahun lagi. Naik haji sebenarnya bisa dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Naik haji tidak membutuhkan uang dalam jumlah yang sedikit sehingga hampir semua orang yang mampu secara ekonomi saja yang bisa menunaikan ibadah ini.

Artinya dengan jamaah haji yang lumayan banyak ini (terbanyak di dunia) mengindikasikan pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup signifikan. Hanya orang yang berekomi cukuplah yang mampu menjalankan ibadah ini. Jika dilihat dalam perspektif gerakan dan spiritual, harus haji juga menjadi indikator perubahan sosial. Dengan penghasilan ekonomi yang cukup, orang haji dapat dikategorikan kelas menengah yang berpotensi melakukan perubahan. Begitu juga dengan semangat spritiual yang terkandung dalam ibadah haji, bahwa haji bukanlah hanya ritual tahunan yang miskin substansi.

Jika digali secara mendalam maka haji merupakan momentum revolusi diri menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain karna sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Bacalah, bagaimana Rasulullah SAW sepulang dari haji bahkan beliau tidak berulang kali naik haji karena lebih peduli ke kondisi sekitarnya, padahal secara geografis tempatnya cukup dekat dari tempat beliau. Itulah yang menginsipirasi kiai-kiai besar semisal KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari yang mampun membangun mesin perubahan sosial yakni Muhammadiah dan Nahdatul Ulama.

Oleh Karena itu, dengan jumlah jamaah haji yang meningkat tiap tahunnya Indonesia harusnya menjadi lebih baik lagi dengan dengan peran para jamaah haji. Bahkan Indonesia menjadi sentral perubahan negara-negara muslim dunia bahkan dunia secara keseluruhan. Tapi sayang, dalam realitasnya kebanyakan jamaah haji Indonesia tidak mampu memaknai hakekat haji yang sebenarnya kemudian di transformasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar