Kamis, 06 Desember 2012

Kebijaksanaan melihat hubungan islam-negara

Saya, aktvisi IMM dan aktivis gema pembebasan (Hizbut Tharir)  

Dimana Ibu kotanya? Siapa Khalifahnya? Dan Mahzab apa yang di gunakan?

Tiga pertanyaan ini yang diucapkan oleh sala satu aktivis IMM (ikatan mahasiswa Muhammadiah) ketika dalam sebuah acara diskusi. Menurutnya tiga pertanyaan ini yang belum bisa terjawab sampai sekarang terkait negara islam (khilafah Islamiyah). Bersamanya dan seorang akhtivis dari Hitzbut Tahrir, saya menjadi nara sumber dalam diskusi panel yang bertema “ilusi negara demokrasi”.

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh gerakan mahasiswa pembebasan, sayap organisasi Hizbut Tahrir di tingkat mahasisiwa. Tidak mengherankan jika temanya sangat pesimistis dan anti terhadap demokrasi. Organisasi islam ini merupakan organisasi yang cukup konservatif karena ideologinya yang tidak kompromistis dengan apapun yakni islam dalam versi mereka.

Islam bagi mereka adalah bukan hanya sekedar agama melainkan juga ideology kenegaraan sebagaiamana Rasul Muhammad SAW mendirikan negara Madinah yang berlandas pada syariat Islam. Sehingga mendirikan negara islam bagi mereka adalah sebuah kewajiban.

Ternyata pendapat seperti ini, tidaklah di amini oleh berbagai kelompok islam lain. Banyak organisasi islam baik di Indonesia maupun di dunia memiliki versi lain terkait hubungan islam dengan negara. Bahkan banyak yang masih mempertanyakan finalitas bentuk negara islam di Madina untuk di terapkan sekarang. Karena bisa jadi, negara Islam madina waktu itu adalah hanya bersifat eksperimen sejarah yang kondisional. Artinya negara islam bisa jadi akan berbentuk lain tanpa secara total mengikuti apa yang terjadi pada negara Madina ketika rasul Muhammad SAW mendirikannya.

Setidakanya dalam melihat hubungan islam dan negara terdapat tiga perspektif. Yakni hubungan integratif, sekuler ataun komplementer. Perbedaan seperti ini bukanlah hal yang harus di takuti bahkan sudah merupakan keniscayaan islam. Sehingga mengklaim diri paling benar (untuk permasalah hubungan islam-negara) dan mengganggap yang lain tidak memiliki kebenaran atau mengkafirkannya, bukanlah hal yang bijkasana.

Ini terjadi pada proses diskusi yang sementara berlangsung. Dalam sesi tanya jawab, seorang aktivis hizbutahrir menyinggung salah satu tokoh Muhammadiah yang telibat dalam penulisan buku “ilusi negara islam”. Dia mengklaim bahwa dia adalah umat Muhammad SAW yang paling benar menjalankan ajaran beliau. Hingga salah-satu potongan kalimatnya “orang islam apa itu !!! masa mengaku islam tapi tidak mendirikan negara islam?” dengan bangganya dia mengatakan demikian.

Bagiku ini sangat berbahaya dan tidak bijaksana atau mungkin sudah sangat terdoktrin tanpa pernah melakukan studi komparasi yang mendalam tentang pemikiran. Saya ingin beranalogi, buku memiliki kulit (sampul) depan dan belakang. Kulit depan berwarna merah dan belakang berwana putih. Jika kita melihat buku dari kulit depan saja tanpa pernah melihat kulit yang di belakang maka kita dengan keras akan mengatakan bahwa buku itu berwarnah merah. Demikian juga sebaliknya, jika kita melihatnya dari belakang saja maka kita akan hanya berkesimpulan bahwa buku itu warna putih dan tidak mengakui ada warna merah di depan.

Analogi ini, saya ingin mengatakan bahwa bijaksanalah dengan melihat kebenaran-kebenaran lain. Terutama dalam melihat hubungan antara islam dan negara agar tidak fanatik yang sangat sementara masih ada perspektif lain. Dalam sebuah kesempatan ketika saya diberikan kesempatan untuk menenggapi berbagai pertanyaan,  kurang lebih saya katakan seperti analogi di atas.

Dan saya perjelas lagi, bahwa ketika Rasulullah Muhammad SAW masih ada semua polemik segera cepat terselesaikan jika semua mengaduh padanya. Karna beliaulah yang merupakan menafsir tunggal yang paling benar terhadap wahyu Allah. Sedangkan sekarang ketika rasulullah Muhammad SAW sudah meninggalkan kita dengan jarak waktu yang cukup lama, maka penafsir itu diserahkan kepada ulama-ulama yang kompeten sehingga wajar saja ada perbedaan pendapat. Dan menganggap diri atau kelompok adalah penafsir tunggal yang paling benar serta menganggap mereka yang berbeda adalah salah, maka terkait hubungan islam dan negara, saya menganggap mereka adalah kurang bijaksana dan kurang tepat.

Semoga kita selalu bijaksana dalam melihat permasalahan seperti ini, sebagaimana Allah yang Maha Bijaksana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar