Senin, 21 Januari 2013

Kematian, pintu keabadian

Beberapa hari yang lalu saya di kejutkan dengan kabar duka. Seorang sahabat baik sekaligus saya menganggapnya sebagai guru, ditinggalkan oleh Ayah tercintanya untuk menghadap Ilahi, Tuhan penggenggam hidup dan mati. Sedih dan tangis, itu wajar sebagai manusia yang lemah apalagi jika ditinggal oleh orang yang disayanginya. Namun tidak bijak jika menjadikan kita larut dan terus meratapi kesedihan seperti yang tidak sedikit dilakukan oleh banyak orang. Karena kehidupan di dunia ini tidak kekal serta hanyalah tempat persinggahan sementara untuk mengumpulkan bekal kehidupan selanjutnya yang kekal abadi, akhirat.

Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menemui kematian. Perihal kematian, bukanlah hal yang begitu penting untuk dicari karena sebuah keniscaan dalam kehidupan makhluk di dunia, tak terkecuali manusia. Tanpa berdoa serta berkerja keras yang menguras tenaga, perkara ini adalah kepastian akan datang menemui. Meskipun itu, tak sedikit juga manusia tak sabar ingin menemui perihal ini dengan melakukan pengakhiran hidup, bunuh diri.

Berbeda dengan rizki termasuk jodoh yang banyak di upayakan untuk medapatkannya. Mengenai kematian, manusia hanya dituntut untuk mempersiapkan diri menghadapinya, selanjutnya sebagai modal kehidupan sesudah kematian yang akan abadi selamanya. Kematian ibaratnya sebuah sosok yang selalu berjalan mendekati, karena dalam setiap waktu dia selalu mendekat. Kita tak tahu kapan dia memeluk kita hingga jantung tak lagi berdetak, bisa saja satu detik kedepan atau masih lama lagi, entahlah. Karenanya seorang ulama besar, Imam Ghazali mengatakan bahwa yang terdekat dengan manusia adalah kematian.

Kehidupan akhirat atau kehidupan sesuah mati merupakan keniscayaan. Secara teologis maupun rasionalitas pun bisa dikatakan bersepakat tentang adanya kehidupan setelah mati. Tidak hanya para intelektual agamis melainkan juga para intelektual sekuler pun mengakuinya, mungkin pengecualian terhadap kaum ateis meskipun dalam nuraninya mengiyakan adanya Tuhan yang berkonsekuensi pada keyakinan hidup setelah mati. Seorang filsuf rasionalis imanuel kant pernah bertutur perihal kehdiupan setelah mati. Kurang lebih dia bertanya secara retoris: apakah berguna kehidupan di dunia kalau tidak ada kehidupan setelah mati? Atau kenapa tidak berbuat jahat saja, toh tidak ada hari pembalasan? Sedang nurani manusia selalu mengajak kepada kebaikan.

Pernakah kita mendengar kisah ashabul kahfi? Ya, btul. Mereka adalah para pemuda yang melarikan diri dari kejaran raja yang zalim. Raja yang menyuruh untuk menyembah pada selain Allah. Tapi kemudian mereka di matikan (tidur) dalalm sebuah gua dan di bangunkan kembali oleh Allah setalah 309 tahun kemudian. Secara akal sehat ini tidak rasional, bukan? Itulah kekuasaan Allah yang Maha kuasa atas segala sesuatu, dimana hidup dan mati manusia ada dalam genggamannya. Kisah ini bukanlah dongeng atau kisah fiktif belaka melainkan nyata yang terabadikan dalam kitab suci Al Qur'an serta dapat dibuktikan secara ilmiah dengan pembuktian sejarah.

1 hari akhirat = 1000 tahun dunia (waktu manusia di dunia hanya 1,5 jam)

Lantas sudah siapkah kita menghadapi  kematian? Bukankah waktu kita di dunia terlampau singkat? Banyangkan umur manusia sekrang rata-rata bekisar 60 tahunan malah tidak ada yang sampai sebelum usia ini. Sedangkan kehidupan akhirat kekal selamanya dalam waktu yang tak terbatas. Seorang ulama besar Imam Al Ghazali pernah menghitung betapa urgennya untuk menghargai waktu dalam kehidupan kita didunia. Beliau bernah berkata bahwa jika umur manusia 60 tahun dan rata-rata menjadikan tidurnya 8 jam sehari, maka sesungguhnya  tidur manusia selama 60 tahun itu adalah 20 tahun. Belum lagi jika manusia tidur lebih dari 8 jam, apalagi selama 40 tahun itu tidak digunakan sebaik-baiknya. Bagaimana jika digunakan untuk berbuat dosa? Sungguh sia-sia hidup ini.

Perhatikanlah firman Allah berikut,
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”  (As-Sajdah Ayat 5)

Ayat ini menjelaskan bahwa sehari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Masya Allah. Jika 1 hari akhirat = 1000 tahun berarti 24 jam akhirat = 1000 tahun. Atau kalau disederhanakan lagi, 3 jam akhirat = 125 tahun dan pada akhirnya 1,5 jam akhirat = 62,5 tahun.

Usia 60 tahunan inilah rata-rata kehidupan manusia di bumi dan hasil perhitungan di atas menunjukan bahwa manusia hanya hidupa 1,5 jam saja di dunia. Sedangkan di akhirat dengan waktu yang tak terketahui ujungnya, abadi kekal selamanya. Sudakah kita memanfaatkan hidup dunia dengan sebaik-baiknya? Atau sudahkah kita menyiapkan diri semaksimal mungkin untuk hidup di akhirat? Ayo kita siapkan sekarang. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar