Selasa, 12 Februari 2013

Imlek; Tahun ular air

Tahun selain penanda waktu, juga sebagai identitas sebuah agama atau golongan tertentu. Islam dengan hijriah, masehi yang katanya dari Kristen, maya yang memiliki kalender penanada waktu, tionghoa (china) dengan imlek dan lainnya. Setiap golongan ini memiliki cara tersendiri dalam perayaannya (ceremonial) tergantung dari tradisi setiap yang merayakannya. Untuk saling mengharagai, maka tak jarang setiap perayaan kadang ikut dirayakan bersama dengan golongan lain. Bahkan tahun masehi pun selalu bukan lagi menjadi identitas golongan tertentu melainkan telah menjadi perayaan semua golongan jika pergantian tahun ini berlangsung.
ilustrasi dari google

Beberapa saat yang lalu kita baru saja merayakan pergantian tahun baru masehi. Kemudian menyusul tahun baru hijriah. Dan bisa dikatakan baru saja kita menemui tahun baru ilmlek yang biasa di kenal dengan tahun baru bagi etnis tionghoa (china). Ketiga pergantian tahun ini dirayakan dengan cukup meriah sesuai cara masing-masing yang merayakannya.

Dalam tulisan ini, penulis akan menyempitkan pada tahun baru imlek. Tahun ini dalam masyarakat Indonesia memiliki sejarah tersendiri. Sejarah tentang ‘suka dan duka’. Penulis menggunakan kedua istilah ini, untuk menggambarkan suasana imlek dalam perjalanan politik di Indonesia.

Dalam era orde baru yang dipimpin oleh Suharto, kita mengenalnya sebagai pemimipin yang ororiter. Segala sesuatu yang mencurigakan apalagi jelas bertentangan dengan kehendaknya (idelogi) maka di upayakan untuk di singkirkan, ‘China’ salah satunya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan China di era ini sangat sensitif bagi penguasa. Sala satu alasannya adalah china sebagai suku bangsa dan negara bisa dikatakan merupakan penganut ideologi komunisme, sementara Suharto penganut ideologi kapitalis-liberalisme. Kedua ideologi ini secara prinsip sangat bertentangan sehingga bangsa china di Indonesia selalu di curigai membawa ideologi komunisme ini yang bisa mengancam kekuasaan Suharto.

Hal ini berkonsekuensi pada tindakan diskriminasi terhadap etnis tionghoa. Mereka tidak di akui sebagai agama resmi dalam Indonesia. Sehingga jika imlek tiba, mereka merayakannya secara diam-diam jika tidak ingin mendapatkan sanksi dari negara. Termasuk sala satu icon kebudayaannya seperti tari barongsai juga mengalami imbas dari tindakan diskriminatif penguasa orde baru saat itu.

Baru ketika reformasi, tepatnya Gusdur menjabat sebagai presiden RI. Beliau berusaha menghapus segala diskriminasi selama orde baru berlangsung yakni sekitar lebih dari tiga dekade (32 tahun). Etnis tionghoa pun dibebaskan dari diskriminasi tersebut ditandai dengan di akuinya konghucu sebagai agama resmi di Indonesia. Tak beda dengan agama resmi lain, hari libur nasional pun diberikan untuk menghargai agama konghucu dalam menjalankan ibadahnya.

Demikian sedikit sejarah perayaan imlek dalam sejarah dinamika politik di Indonesia.

Ular air

Dalam tradisi konghucu, setiap tahun memiliki nama tersendri. Jika sebelumnya disebut dengan tahun naga air, tahun baru china kali ini dinamai dengan tahun ular air. Setiap nama ini memilik filosofis tersendri bagi masyarakat etnis china.

Dalam tafsiran ahlli fengsui tahun ular air dapat dimaknai dengan melihat tabiat hewan ini. Ular adalah hewan yang sangat licin, mematikan, cerdik bahkan licik apalagi untuk meloloskan diri. Terlebih lagi jika dia berada dalam air maka ular akan sulit dipegang sehingga tidak bisa dikendalikan.

Terlepas dari benar salahnya, juga penulis bukanlah ahli dalam menafsirkan ini. Tapi patut diketahui juga untuk menghubungkannya dengan berbagai peristiwa dalam tahun ini, 2013. Misalnya dalam dunia politik di dalam negeri tahun ini dikenal dengan tahun politik dimana dinamika politik akan semakin keras. Banyak politisi saling serang, sandra hingga ‘mematikan’ lawannya. Para politisi pun mulai menggembor-gemborkan janji-janji manisnya namun sulit dipegang. Segala tipu muslihat akan dilkukan meskipun terkesan licik demi mencapai ambisi politiknya yang kadang hanya menguntungkan diri sendiri.

Selain itu menurut ahli fengsui, ular adalah symbol  kesehatan. Tahun ini kemungkinan akan ditemukan obat yang selama ini belum ditemukan sebagai penawar penyakit. Begitu juga dengan kondisi sosial lainnya, ular dengan sifatnya yang tidak mudah di pegang akan mencerminkan kondisi masyarakat yang serba ketidakpastian. Ini akan sangat rentan terjadinya konflik sosial dalam masyarakat. Ekonomi juga demikian, bahwa ada ketidakpastian yang terjadi. Apalagi gejolak pasar susah di tebak dan dikendalikan karena pengaruh krisis ekonomi yang melanda negara-negara eropa dan AS.

Kondisi ini layaknya sifat ular yang disebutkan tadi apalagi jika dia berada dalam air. Sekali lagi terlepas benar atau salah, percaya atau tidak percaya kita harus mengantisipasi segala ketidakpastian serta segala kemungkinan buruk yang terjadi kedepannya.

~Makassar, 12 Februari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar