Rabu, 20 Februari 2013

Pemuda pencari cinta

Tak seperti biasanya, semakin hari ada yang berubah. Saat malam tiba pemuda pencari cinta itu segera berada di kamar kosnya. Tempat ini biasa disebutnya dengan markas besarnya, tempat melakukan perenungan dan banyak aktivitas lain. Malam itu sambil menatap langit di serambi markas besarnya, dia duduk ditemani segelas kopi hitam. Inilah kebiasaannya dikala kesendirian apalagi perenungan mulai bersamanya. 

Dia terus teliti melihat pergerakan bintang. Harapnya, smoga ada bintang jatuh agar bisa berdoa seperti yang dilakukan oleh banyak orang. Konon, mengucap harap pada momentum bintang jatuh maka akan segera terkabul. Tinggal tunggu waktu saja ibarat menunggu hujan dikala awan mulai gelap dan angin sudah mulai berhembus kencang. 

ilustrasi gambar dari google
Apa itu cinta ? Semoga saja, saya mengerti tentang cinta. Pertanyaan dan harap seperti ini terus menghujani pikirannya. Apalagi ketika sahabat-sahabatnya menjelaskan tentang definisi cinta dengan menunjukan manifestasi-manifestasinya, “lihat yang kami lakukan sekarang, inilah cinta”.

Dia semakin bingung tentang definisi yang cinta yang sebenarnya. Dia selalu membawa alam pikirannya pada cinta terhadap lawan jenis. Meskipun dia yakin bahwa cinta tidak hanya berkisar pada lawan jenis. Maklum saja, semua sahabat dekatnya mencontohkan arti cinta melalui kasih sayang terhadap lawan jenis.

“Cinta itu adalah ketertarikan terhadap lawan jenis. Kemudian, kita menjalin hubungan dengannya dan melakukan apa saja yang membuat kita bahagia” Demikian definisi yang selalu diperdengarkan oleh sahabat-sahabatnya.

Namun dalam realitasnya, cinta yang dijelaskan sahabat-sahabatnya banyak berakhir dengan perpisahan dan tak jarang menghasilkan kebencian hingga saling menyakiti. Kondisi ini membuatnya ragu terhadap penjelasan para sahabatnya karena tenyata teori mereka tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Rasa penasaranpun menjadi beban tersendiri baginya. Dia semakin haus untuk mengatahui definisi cinta.

“Mana mungkin ada cinta yang berakhir dengan kebencian? Bukankah cinta adalah kebahagiaan? Dengan kata lain benci  adalah hal yang berlawanan dengan cinta” Gumamnya dalam hati yang membuatnya semakin bingung.

Kuatnya tekad membuatnya rela melakukan apa saja demi mengetahui apa itu cinta. Dia pernah mendengar sebuah cerita tentang seorang nenek yang sudah cukup tua. Si nenek terkenal dengan ilmu cintanya, sudah banyak yang berguru padanya dan berhasil dipraktekan.

Namun dia menemui kendala yang cukup besar. Dia harus menempuh jalur yang begitu penuh tantangan. Kebetulan si nenek tinggal di sebuah puncak gunung yang jarang dikunjungi orang. Bahkan para pendaki gunung pun ragu untuk melewati tempat si nenek. Dari pengakuan yang pernah berkunjung ke tempatnya, banyak ke anehan yang didapatkan sebelum dan ketika berada di tempat itu. Mungkin inilah yang membuat banyak orang mundur untuk tidak mengunjungi tempat si nenek. Bisa dikatakan hanya orang yang memiliki tekad ikhlas, kuat dan pengorbananlah yang mampu menerobos segala rintangan hingga dapat bertemu dan belajar pada si nenek.

Ternyata cerita tentang kesulitan itu tidak menjadi halangan pemuda pencari cinta itu. Setelah segala kelengkapan dan keperluannya sudah siap maka segeralah dia berangkat. Dia tak ragu melangkah meskipun banyak yang memperingatinya agar jangan ke tempat si nenek itu.

Dalam banyak kisah perjalanan kesana tak sedikit yang tidak pulang. Bahkan yang didapatkan hanyalah tulang-belulang yang dicurigai sebagai milik para pengunjung ke tempat si nenek. Tidak tahu, apakah mereka yang berkunjung telah sampai atau belum. Entahlah. Ini pertanyaan yang sampai sekarang belum bisa terjawab oleh banyak orang.

Dengan perjuangan yang begitu keras, singkat cerita maka sampailah dia di tempat si nenek. Segeralah dia menemui si nenek. Karena kesaktian si nenek sehingga telah mengetahui maksud kedatangannya.

“Kamu mau belajar tentang cinta ya nak?” Pertanyaan pertama si nenek.

Dia tersontak. Tanpa ragu sedikitpun dengan dihantui rasa heran, dia segera mengiyakan pertanyaan si nenek. “Iya nek”

“Saya dengan ikhlas akan berusaha semampuku melakukan apa saja keinginanmu nek. Asalkan nenek sudi mengajariku tentang cinta” Ujarnya yang semakin mengakui kehebatan si nenek.

Si nenek hanya tersenyum karena melihat ke ikhlasan dan kegigihan anak muda ini. Kemudian berkata “Nak sesungguhnya kamu telah mengetahui definisi cinta”

Kebingungan semakin menghantuinya. Mana mungkin dia tau tentang cinta sementara perjalanan ke tempat si nenek karena ketidak mengertiannya tentang cinta. Sudahlah, si nenek hanya bergurau. Mungkin ini alasan si nenek untuk tidak mengajarinya. Demikian prasangka-prasangka dalam pikirannya.

“Saya berkata yang sebenarnya nak. Bukan seperti yang kamu prasangka kan itu” Ucap si nenek.

Dia kaget ternyata si nenek bisa membaca pikirannya. Dia segera tidak berprasangka yang negatif lagi terhadap si nenek. “Maafkan aku nek, aku tidak bemaksud begitu”.

“Sudah-sudah nak, saya maklumi. Bukan hanya kamu yang berprsangka seperti itu ketika bertemu saya” Ucap si nenek.

Ternyata persepsi yang selama ini terbangun dalam pikirannya runtuh seketika ketika melihat sikap si nenek yang begitu baik padanya. Sebelumnya, dia membangun persepsi menakutkan terhadap si nenek karena begitu sulitnya menuju kerumah si nenek. Karenanya sulitnya perjalanan itu, kemudian menyamakan dengan watak si nenek yang menakutkan. Ternyata tidak.

“Sekali lagi kamu telah mempraktekan cinta itu” Ucap si nenek.

Kamu telah berkorban sekuat tenaga demi sebuah ilmu tentang cinta. Begitu kerasnya perjuangannmu melewati segala rintangan bahkan nyawapun menjadi taruhan. Memang benar, perjalanan menuju tempatku adalah hal yang cukup sulit. Tapi ternyata kamu berhasil melewatinya. Ini karena ke ikhlasanmu dan pengorbananmu menuntut ilmu cinta” Si nenek melanjutkan.

“Lantas, apa hubunganya dengan cinta? Dan kenapa nenek katakan bahwa saya sudah mengeri cinta?” Pemuda pencari cinta itu meluapkan kebingungannya pada si nenek.

“Nak, bacalah…!!! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Mencintai dengan penuh ke ikhlasan. Bukankah engkau tadi mengatakan bahwa engkau ikhlas memberi apa saja kepadaku asalkan aku sudi mengajarimu tentang cinta? Bacalah nak…! kau dengan ikhlas berkorban melewati semua rintangan menuju ke tempatku karena demi ilmu tentang cinta. Yang kamu lakukan adalah cinta. Itulah cinta nak” Sang nenek menjelaskan dengan cermat.

Setidaknya lelaki pencari cinta itu sudah mendapat titik terang perihal kebingunganya. Pelita telah hadir menuntunnya menuju ujung lorong yang gelap. Meskipun si nenek menyadari apa yang dijelaskan belum sepenuhnya di pahami pemuda itu. Tapi si nenek tetap membiarkannya karena kebingungannya membuat dia akan berusaha mencari lebih dalam lagi makna cinta itu. Karena perjalanan akan selalu menemukan jejak-jejak cinta dibanding langsung mengatarkannya pada ujung jalan.

Selamat memaknai dan menikmati cinta.

~Makassar, masih di mabesku, pukul 04:15, 20 Februari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar