Rabu, 13 Februari 2013

Televisi, selebriti dan kelas menengah

Pemberitaan mengenai selebriti telah menjadi hal yang popular dalam industri media pertelevisan kita. Dari pagi hingga malam, hanya dengan rentang beberapa waktu saja kita selalu disuguhkan dengan acara hiburan semacam ini. Berbagai program acara dipertontonkan dengan berbagai kemasan tapi sesungguhnya substansinya sama yakni infotaimen, kabar tentang kehidupan selebriti.

Hal ini dapat dijelaskan dengan logika kapiltalisme. Logika yang lebih mengutamakan kepentingan bisinis (ekonomi) dibanding tujuan lain. Padahal, televisi merupakan media yang sangat strategis untuk melakukan pendidikan hingga perubahan sosial yang lebih baik. Jika dilihat konten infotaimen hari ini, lebih kepada hiburan semata yang miskin substansi. Fenomena budaya popular telah menghinggapinya sehingga tujuan mulia seperit nilai edukasi (pendidikan) serta makna hidup menjadi terpinggirikan.

Akhir-akhir ini, media pertelivisian kita santer mengekspos perihal kasus yang menimpa salah satu selebriti papan atas di Indonesia. Selebriti ini tersandung kasus narkoba yang membuatnya harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Sebenarnya pemberitaan selebriti dan kehidupannya bukan hanya menyeruak dalam kasus ini. Melainkan dalam sebelumnya tanpa kasus ini sekalipun, selebriti telah menjadi figur publik (public figure) yang tak bosan-bosannya di ekspos segala kehidupannya hingga ke urusan pribadi. Kasus narkoba yang menimpa seorang selebriti ini hanyalah momentum dan isu yang cukup empuk untuk diberitakan dan sekali lagi, tanpa inipun infotaimen akan terus berlanjut dengan berbagai suguhannya.

Kelas menengah

Meskipun definisi mengenai kelas menengah ini masih menimbulkan banyak tafsiran. Namun setidaknya kita akan bersepakat jika di antara ciri kelas menengah adalah kemampuan mengakses pendidikan dan tekhnologi untuk mengakses informasi pula. Sehingga wajar saja, yang dikatakan ahli politik Samuel Huntington bahwa kelas menengah sangat berpotensi melakukan perubahan besar di masyarakat. Ini bisa dilihat bagaimana revolusi musim semi Arab yang terjadi dalam dua tahun terakhir yang belum berakhir hingga hari ini. Fenomena itu, tidak bisa dilepaskan dari peran pemuda yang berpendidikan atau yang bisa menggunakan tekhnologi untuk mengakses dan menyebarkan informasi.

Akhir-akhir ini dengan ditangkapnya seorang selebriti yang sebagai public figure dan menjadi bahan pembicaraan di media, ternyata juga menularkan kepada kelas menengah. Beberapa kawan yang penulis temui tak terkuali pria maupun wanita juga populer membicarakan kasus ini. Pembicaraan pun hanya berkisar pada persoalan si aktor tanpa melihatnya secara kritis. Dan ketika di ajak berbicara mengenai isu sosial kebangsaan yang kini lagi hangat malah kurang mendapatka respon, padahal ini cukup penting dibanding hanya sekedar melihat seorang selebriti yang tertangkap.

Banyak kelas menengah hari ini terserang oleh virus budaya populer. Budaya yang sala satunya memberikan hiburan tapi miskin substansi. Budaya yang sadar atau tidak, telah menyeret mereka dalam logika hiburan yang tidak memiliki makna yang edukatif. Misalnya kita hanya menikmati hiburan infotaimen yang sebenarnya tidak memiliki manfaat yang signifikan bagi masyarakat televisi (sebutan bagi penonton tayangan media televisi). Banyak yang tidak menganalisis secara mendalam motif dan siapa yang berkepentingan di balik pemberitaan dan kasus semacam ini. Khalayak hanya menjadi pelaku pasif yang konsumtif tanpa menciptakan pikiran produktif yang kritis untuk melihat realitas yang sesungguhnya. Menerima dan terlena mengikuti arus yang ada tanpa mau aktif melawan arus. Jika demikian kondisi kelas menengah maka teori Samuel Huntington tadi sukar untuk terwujud.

Menurut data yang penulis pernah dapatkan (dalam salah satu harian nasional), bahwa di penghujung 2012 kelas menengah Indonesia mengalami perkembangan yang cukup mencengangkan. Kalau tidak salah kurang lebih mendekati angka 50% dari total penduduk Indonesia telah terkategori sebagai kelas menengah. Jika kelas menengah ini memiliki kesadaran sosial yang tinggi terhadap perubahan sosial yang lebih baik, mungkin kondisi bangsa akan lebih baik dari sekarang. Tapi sayang, dalam realitasnya tidak demikian.

Kelas menegah di Indonesia cenderung konsumtif dan kurang peka terhadap kondisi lingkuangan sosialnya. Mereka enggan untuk membentuk ataupun bergabung dalam komunitas (organisasi) yang mengawal perubahan sosial yang ada. Kalaupun kelas menengah ini terlibat dalam komunitas, itu karena berhubungan dengan kebutuhan mereka secara langsung seperti organisasi lingkuangan atau profesi. Adalah akan lebih bijak, jika kelas menengah di Indonesia tidak hanya memikirkan diri sendiri. Lebih dari itu, mereka juga lebih peka terhadap kondisi sosial kemasyarakatan terutama dalam merespon isu sosial yang ada.

Salah satu ciri kelas menengah Indonesia juga cenderung konsumtif. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia secara makro cukup stabil ternyata hal itu banyak di topang oleh pertumbuhan kelas menengah yang konsumtif. Sedangkan prilaku produktif yang seharusnya efektif untuk membangun ekonomi nasional secara makro maupun mikro ternyata sangat kecil peranannya. Inilah juga yang menjadi masalah dalam kelas menegah kita. Bukankah akan lebih baik jika prilaku produktif juga menjadi karekter kelas menengah kita, Indonesia ?

Terkait dengan media, ternyata konsumerisme ini juga merambat pada perilaku terhadap bagaimana mengkonsumsi tayangan media. Rata-rata masyarakat kita tak terkecuali kelas menengah masih menikmati tanyangan industri pertelevisian hanya sekedar tontonan dan hiburan semata. Mereka tidak melihat secara kritis motif dan kepentingan apa yang berada di balik adanya program acara atau tayangan pemberitaan itu. Apalagi untuk menawarkan atau menciptakan alternatif hiburan lain yang lebih berkualitas.

Inilah sebab sehingga betapa tingginya rating acara infotaimen di Indonesia hingga ditayangkan terus menerus. Ini juga bisa menjadi indikator betapa rendahnya keadaran media masyarakat televisi di Indonesia. Karena harus dipahami, jika media massa apalagi media televisi (audio-visual) tidak bisa dilepaskan dari kepentingan bisinis bahkan telah menjadi tujuan utamanya. Dan sasaran utamanya adalah pada masyarakat yang kurang memiliki daya kritis terhadap konten acara. Bahwa semakin sering program acara yang tidak berkualitas itu ditayangkan (rating) maka sesungguhnya semakin rendah ke kritisan masyarakat televisi itu. Inilah yang terjadi pada program acara infotaimen di Indonesia. Jika sudah demikian yang terjadi, penulis tidak tahu apa yang terjadi terjadi masa depan masyarakat dan negara kita. Ingat...!!! hari ini adalah hasil masa lalu dan masa depan adalah hasil dari masa kini.

~Makassar, masih di mabesku, 13 Februari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar