Senin, 04 Maret 2013

Kampung halaman; banyak ide lebih baik

Bagaimana perasaan anda jika anda bertemu dengan sahbat yang jarang anda temui? Minimal melalui telpon, anda berbincang apalagi bertemu langsung secara fisik. Saya yakin bahwa anda dan kita semua akan cukup bahagia, apalagi dia adalah sahabat akrab kita.

Suatu waktu saya menelpon seorang sahabat yang jarang saya temui. Kebetulan saya baru mendapatkan nomor yang bisa dihubungi. Maka terjadilah pembicaraan di antara kami berdua. Kami berbicara tentang segala hal tanpa topik yang jelas. Maklum saja, pertemuan kami sesuatu yang jarang terjadi sehingga tidak ada perencanaan yang jelas mengenai hal yang dibicarakan.

Berkelok-keloknya pembicaraan tiba-tiba kami sampai pada pembicaraan untuk membangun kampung halaman. Tempat tinggal asal tumpah darah kami yang telah menjadi saksi awal sejarah kehidupan kami. Kami merasa bertanggung jawab terhadap tempat yang indah dengan segala keaarifan lokal yang dimilikinya itu. Namun, hari ini cita rasa kearifan itu secara perlahan sudah mulai terkikis dan berjalan menuju kepunahan. Digantikanlah dengan sesuatu yang bertolak belakang dengannya (baca: kearifan lokal) sehingga rusaklah system sosial yang ada dan kampung halaman kami mejadi tidak seperti yang dulu lagi, masyarakatnya indah nan damai.

Seperti banyak masyarakat lain di kampung, kami adalah bagian masyarakat yang tengah merantau. Pergi meninggalkan kampung halaman ke banyak penjuru demi sebuh cita-cita. Memperoleh pendidikan yang layak sehingga menjadi penunjang kebaikan hidupan di masa depan baik untuk diri pribadi maupun untuk maysarakat secara umum. Dengan disiplin ilmu yang berbeda, secara otomatis tak jarang menimbulkan silang pendapat dan bermunculan ide-ide baru yang saling berbeda.

Sungguh indah perbedaan seperti ini. Ke indahannya akan terasa jika mampu dikelolah dengan baik. Bukanlah dosa melainkan keharusan adanya perbedaan.

Perbedaan pendapat dan munculnya ide baru menjadi referensi untuk membangaun kampung halaman. Ibarat air, pasir, batu serta segala unsur yang dibutuhkan untuk membangun sebuah bangunan yang indah. Dan itu semua karena kelihaian sang tukang dan arsitek dalam mengelolah banyak unsur pembangun itu.

Demikian juga terjadi antara saya dan seorang sahabat tadi. Semoga masih banyak ide yang akan muncul dari sahabat-sahabat lain. Dan nantinya akan menjdi unsur pembangun peradaban yang indah terutama dikampung halaman, tanah tumpah darrah. Semoga kita bisa menjadi arsitek dan tukang yang lihai itu.

~Makassar, 4 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar