Selasa, 01 Oktober 2013

Ada cinta dalam segelas kopi

Sudah sering saya di undang oleh kawan untuk menghadiri acara perayaan wisudah sebagai tanda selesainya masa studi dalam jenjang tertentu. Biasanya perayaan itu, dirayakan dengan acara jalan-jalan, makan-makan hingga hanya sekedar minum kopi. Meskipun itu, yang terpenting adalah rasa syukur yang mendalam dan ikhlas atas perjuangan menempuh studi ini. Karena untuk meraih sebuah gelar akademik, bukanlah hal yang mudah. Apalagi jalan untuk menempuhnya tidak selalu mulus melainkan selalu ada tantangan. Meskipun tak jarang juga dalam banyak fakta ada jalan yang mulus itu, jalan yang tak wajar (ilegal) tapi kadang sudah menjadi hal yang lumrah dan legal.

"Ibu buatkan kopi ya? Ibu jamin kopinya pasti enak" kata ibu itu sambil tersenyum. 

Dengan malu-malu tapi mau, kami segra mengiyakan. "iya bu. makasih sudah merekpotkan". 

"Tidak apa-apa, lagian tidak ada yang repot".

Malam itu memang kami hanya sekedar minum kopi hitam. Kopi yang kami nikmati ini sungguh berbeda dengan kopi yang saya minum biasanya. Ini kopi yang khas daerah asal kawan saya yang wisudah ini. Saya biasa menyebutnya kopi ‘kearifan lokal’.

Kopi semacam ini sudah mulai tersingkir oleh pertarungan pasar yang menawarkan segala macam produk kopi. Dengan kampanye yang massif dan kemasan yang indah membuat kopi kearifan lokal mulai kurang di nikmati. Masyarkat mulai jatuh cinta pada kopi kemasan yang sebenarnya rasanya tidak begitu enak. Apalagi jika ditinjau dari komposisi bahan pembuatnya, telah banyak campuran selain kopi, dengan kata lain bukan lagi kopi yang original.

Jika membahas kopi dari penanamannya hingga terseduh di dalam gelas memiliki banyak ceita. Cerita tentang kearifan, sosial kultural, politik, ekonomi hingga cinta. Kopi sebagai simbol kebudayaan dapat menjelaskan kepada kita untuk melihat tanda-tanda perubahan zaman. Misalnya jika dulu kopi plus gula diseduh dalam gelas dengan cara yang manual (tradisional), kini globalisasi menawar dengan banyak cara. Bahkan dengan gaya seni tersendiri. Lihatlah bagaimana kedai-kedai kopi starbucks dalam penyajian kopinya. Mereka menggunakan mesin pembuat kopi yang lahir dari negara-negara maju. Dalam mesin itu melekat nilai-nilai tradisi dari negara asalnya kemudian berpindah ke negara yang mengadopsi sistem pembuatan kopi ini hingga melahirkan budaya popular (pop culture).

Aku melihat cinta dalam gelas kopi hitam ini. Larutnya malam melarutkan juga cinta seorang ibu kepada kami. Juga aku melihat betapa sang ibu cinta akan nilai kearifan lokal yang melekat pada kopi. Dari cara menyeduhnya hingga menyajikannya di depan kami, begitu penuh dengan kasih sayang. Bagiku ini adalah bentuk perlawanan terhadap budaya mainstream dalam arus globalisasi yakni budaya populer dan budaya kapitalisme ‘eksploitasi’ yang miskin akan cinta.

Selain mengadakan kopi, sang Ibu dan sanak keluarga lainnya begitu baik pada kami. Mereka begitu terebuka menerima kedatangan kami. Menyeduhkan kopi, bercanda, saling menghargai sampai ingin member kopi khas daerahnya (baca: kopi kearifan lokal) untuk ole-ole buat kami.

Orang-orang demikian perlahan sudah mulai berkurang. Hubungan manusia di era modern hari ini tak sedikit yang cenderung ‘eksploitatif’ karna alasan adanya ‘keuntungan’, bukan lagi kemanusiaan. Apalagi ada perbedaan status sosial di antaranya seperti perbedaan suku, agama, rasa tau antargolongan (sara). Maka tak jarang, perbedaan ini menjadi hambatan untuk saling berinteraksi terlebih saling tolong menolong. Bahkan dalam banyak kasus, justru konfliklah yang terjadi. Miris.

Tapi itulah kemuliaan sang Ibu tadi. Meskipun kita berbeda keyakinan beragama, beliau sangat menyayangi kami. Perlakuan pada kami sebagai kawan dari anaknya, sama dengan perlakuannya terhadap anaknya. Kami di anggap sebagai anaknya sendiri. Dalam suasana yang penuh cinta itu aku berdesis dalam hati: “Tuhan, apakah mereka tidak akan mendapat balasan yang baik di akhirat nanti (surga misalnya) atas kebaikannya padaku? Sedang tak jarang yang se agama denganku, tidak memiliki kasih sayang seperti Ibu ini?”. Tuhan, akal kami untuk menilai keadilanmu, tidaklah akan sanggup. Di pengadilan akhiratlah, semua akan jelas, semua akan terang benderang. Tuhan, hanya engkaulah yang Maha adil”

~Makassar, 29 Sepetember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar