Jumat, 01 November 2013

Trimakasih bapak tua pemulung

Seringkah anda bangun di shubu hari? saya yakin kita smua jarang melakukannya. Hanya orang-orang yang memiliki kepentingan khususlah yang bisa melakukannya. Semisal, yang ingin melaksanakan ibadah shalat (tahajut dan shubu) bagi orang muslim, bagi yang menyiapkan aktivitas pagi atau yang mencari nafkah. Terus terang saya jarang terbangun pada waktu-waktu demikian, sehingga untuk melaksanakan shalat shubu maka di lakukan ketika sudah kesiangan.

Bagi sebagian orang di waktu demikian masih menghabiskan untuk tidur lelap. Bahkan jika tersadar pun akan melanjutkan kembali tidurnya. Tapi tidak untuk seorang bapak tua yang saya termui karena kebetulan, entah kenapa aku terbangun di shubu hari. Aku keluar ruangan, aku mendengar suara desas-desis di samping rumah. Ternyata dia seorang bapak tua yang sedang memulung sampah-sampah plastik untuk di tukarkan pada agen pengelolahan sampah.

Saya tertegun melihat bapak tua ini. Ditengah malam yang sunyi dan dingin beliau sudah terjaga dari tidurnya kemudian berkativitas demi mempertahankan hidup. Atau malah beliau tidak tidur semalaman demi mengais-ais rezeki di tempat kotor yang sering dihindari oleh kebanyakan (tempat sampah). Inilah hidup, dalam setiap proses selalu ada hikmah yang terselip bahkan dalam sehelai daun yang jatuh pun akan ada makna yang hendak di sampaikan oleh Tuhan, pencipta kehidupan ini. Apalagi jika kita mampu membaca aktivitas si bapak tua ini.

Jika dimaknai lebih dalam, bapak tua ini sangat memberikan pelajaran. Setidaknya dia mengajarkan kepada saya tentang kedisplinan dan perjuangan melawan kemalasan serta keputus asaan. Di tengah peliknya hidup yang penuh kompetisi yang tak berimbang, dia terus saja bekerja meskipun rezki yang diperolehnya sangat sedikit. Untunglah Tuhan tidak menilai manusia dari hasil yang dijalankan melainkan dari proses yang di jalaninya. Apakah dalam prosesnya dapat meraup nilai pahala atau malah sebaliknya, dosa. Kita memang hanyalah lakon dari kehidupan ini. Tugas kita hanyalah menjadi pemain dalam sebaik-baiknya peran yang diberikan Tuhan. Jika kita menjalaninya sesuai dengan aturan main Tuhan maka kita akan diberikan reward, jika berada diluar aturan mainnya maka ada punishment.

Inilah salah-satu letak keadilan Tuhan. Kemiskinan, penderitaan serta masalah lainnya adalah suatu ujian untuk lebih meningkatkan derajat kita disisinya. Bukan prestasi dunia kita untuk menjadi seorang yang menempati posisi yang tinggi di mata Tuhan. Bukan ketika kita menjadi seorang pemimpin organisasi, perusahaan, presiden atau hirarki sosial lainnya berarti derajat kita akan tinggi pula. Sekali lagi bukan itu. Orang yang menjadi pembantu rumah tangga, buruh pabrik atau seorang pemulung bisa menempati derajat di sisinya Tuhan yang tinggi. Semua akan memperoleh derajat itu jika memainkan peran kehidupan sesuai aturan_Nya.

Memang benar kata orang bijak, “rahmat Tuhan kadang di letakan pada tempat yang jarang disukai kebanyakan orang”. Inilah pelajaran saya di suatu waktu, di shubu hari itu. Bapak tua pemulung mengajarkan saya tentang arti, nilai dan kearifan hidup yang sangat luar biasa. Trimakasih bapak tua pemulung.

~Makassar, 28 Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar