Selasa, 17 Desember 2013

Karena penulis itu sudah mati

Saya pernah berdiskusi tentang dunia tulis menulis. Diskusinya akhirnya sampai pada seputran hobi menulis. Sebenarnya lawan bicara saya tidak terlalu berminat dalam dunia tulis menulis tapi kadang-kadang dia juga suka menulis. Ketika saya bertanya, apakah sudah pernah di publikasikan tertuama di blok? Minder untuk memublikasikannya. Ketakutannya jangan sampai tulisannya kurang bagus. Apalagi menurutnya tulisanya seputar pengalaman dan perjalanan hidup yang pernah dia alami. Kurang lebih demikian jawabanya.

Alasan ini memang manusiawi. Saya juga ketika awal-awal menulis, pernah mengalami fenomena seperti ini. Sulit merangkai kata demi kata. Kemudian takut jangan sampai menurut orang lain kurang bagus. Sehingga niat untuk memublikasikannya pun selalu di urungkan.

Penulis telah mati

Ada teori yang mengatakan: penulis sesungguhnya sudah mati. Artinya ketika tulisan itu sudah sampai kepada pembaca, maka pembacalah yang memiliki hak penuh untuk menafsirkannya. Bisa jadi maksud penulisnya akan berbeda dengan maksud hasil tafsiran pembacanya. Nah hal inilah yang harus di pahami oleh calon penulis atau yang masih minder untuk memublikasikan tulisannya. Bisa saja menurutnya tulisannya kurang bagus tapi belum tentu pembacanya mengartikan demikian. Bisa saja pembaca menafsirkan sebaliknya. Karna sekali lagi ‘penulis telah mati’. Pembacalah yang berhak menilai tentang tulisan kita.

Lagi pula kenapa harus malu untuk mengabarkan kepada orang lain? Toh, inikan tujuan mulia. Asalkan tetap menjaga etika. Jangan menulis hal yang menyinggung orang lain terutama berkaitan dengan sara (suku, agama, ras dan antargolongan).

Tulisan perjalan hidup. Knapa tidak?

Alasan lain juga kenapa tidak ingin di publikasikan, karena tulisannya memuat perjalanan hidupnya. Memangnya salah jika memublikasikan perjalanan hidup pribadi? Asalkan tetap menjaga etika dan sebisa mungkin tidak memublikasikan yang bersifa sangat pribadi jika memang tidak ingin di ketahui oleh orang lain. Lagi pula banyak penulis hebat di Indonesia yang terkenal dengan novel-novel pengalaman atau perjalanan hidupnya.

Kita dapat mencontohi seorang Andrea Hirata yang dengan novel-novelnya terutama laskar pelangi bisa membawanya keliling dunia. Novel ini juga yang membuat perekonomian Bangka Belitung semakin berkembang karena disinilah setting yang diceritakan dalam novelnya. Sehingga orang-orang terutama pembaca novelnya penasaran dan tertarik untuk berkujung. Di sinilah transaksi ekonomi akan terjadi. Dengan novel ini pula sempat terdengar kabar, Andrea Hirata satu-satunya orang indonesia memiliki peluang menerima penghargaan nobel sastra dunia.

Juga penulis Ahmad Fuadi. Novel triloginya membuat memiliki kemiripan nasib dengan Andre Hirata. Dia juga sudah berkeliling dunia karna tulisan-tulisannya. Novel-novel tersebut di tulis juga karna pengalaman atau perjalanan hidupnya.Bahkan menurut cerita yang pernah di tuturkan olehnya, bahwa dia pernah mendapat pesan email dari salah satu guru besar (professor) di salah satu kampus di AS. Dalam email itu di sampaikan, jika novelnya menjadi salah-satu bahan kajian di salah-satu fakultas di kampus tersebut.

Demikian juga catatan harian seorang mahasiswa UI yang bernama Soe Hok Gie. Setiap kali menulis peritiwa yang disaksikannya, dia selalu mencantumkan tanggal , bulan serta tahunnya. Tulisan-tulisan tersebut membantu menjelaskan bagian dari sejarah politik Indonesia terutama di zaman orde lama dan orde baru, karena dia hidup di dua zaman ini dan menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa politik yang terjadi. Dan banyal lagi penulis lainnya.

Munir (alm) seorang aktivis HAM yang terbunuh karna di racun pernah mengatakan: “Sesungguhnya yang paling harus ditakuti itu adalah rasa takut itu sendiri”. Menulislah dan biarkan orang lain membacanya. Karena penulis itu telah mati.

~Makassar, 16 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar