Kamis, 19 Desember 2013

Kisah Aku dan Pekerja rumah tangga itu

Dalam hidup selalu di ciptakan ke seimbangan. Ada orang kaya, ada orang miskin. Ada siang dan ada malam. Ada langit dan ada bumi. Ada pembantu dan ada majikan. Ada hal menarik dengan yang keseimbangan yang saya sebutkan terakhir. Lebih khusus lagi adalah pelajaran berharga dari seorang pekerja rumah tangga/pembantu rumah tangga (aku menyebutnya sang ibu).

Tiap pagi setiap kali aku bangun, mentari biasanya sudah duluan menyapa mendahului. Tapi untuk ibu pembantu itu, selalu lebih duluan dari mentari yang menyingsing. Seperti biasa, pintu langsung aku membukanya. Udara sejuk pagi ku persilahkan masuk menyingsing jendela dan pintu kamarku. Cahaya mentaripun menerobos masuk tanpa permisi. Jariku menyentuh embun di ujung dedaunan. Sejuk seperti air yang membasahi kerongkongan di kala dahaga. Tapi aku ingin menciptakan keseimbangan, biasanya dengan menyeduh segelas teh panas.

Sang ibu sudah mulai dengan rutinitasnya. Mengumpulkan pakian-pakaian yang sudah kotor majikannya. Dimasukan dalam air dan di rendam dengan sabun cuci. Tak lupa sapa selalu di lemparkan kepada orang-orang yang melewati jalan di sampingnnya. Karena kebetulan aktivitas paginya selalu di lakukan di teras rumah majikannya.

Teh sudah terhidang di hadapanku. Duduk termenung, merasakan indahnya pagi. Aku mungkin orang yang paling enggan pagi itu. Orang-orang sudah lalu lalang. Sang Ibu sudah mulai mencuci. Penjual-penjual selalu meneriakan yel-yelnya di sekitar kosku. Tapi aku masih saja duduk dan baru akan bersiap-siap menyelesaikan agenda siang.

Akhirnya Koran datang juga. “Dek korannya sudah datang” sang ibu itu memanggilku sembari menyerahkan Koran yang di ambilnya dari pagar rumah. Kebetulan saya tinggal di kos di lantai 2 rumah majikannya. Tapi kamar kos dan rumah majikanya bisa di katakan terpisah meskipun masih satu atap. Pasalnya saya memiliki pintu sendiri yang langsung bisa naik ke kamar kos tanpa harus melalui rumah majikan sang ibu ini.

“Oh, iya. Trimakasih banyak bu” jawabku sambil menerima Koran dari sang ibu.

Jika sebelumnya aku hanya berhadapan dengan segelas teh panas kini bertambah lagi, dengan berlembar-lembar surat kabar. Aku kembali hening dan larut dalam baris-baris kalimat. Suara kendaraan yang semborono kadang-kadang memecah keheninganku. Tapi aku tetap mengacuhkannya. Padahal baris-baris kalimat itu memuat banyak kabar keruwetan sosial kemasyrakatan bangsa ini, namun aku tetap terhening dalam ritme cerita.

Di antara keruwetan itu adalah adanya kabar tentang protes para buruh tentang tuntunan nasib mereka yang tak kunjung terselesaikan. Umumnya mereka berasalah dari berbagai pabrik-pabrik menengah ke atas. Mungkin aku kurang informasi tapi aku belum pernah mendengar ada demonstrasi para pembatu rumah tangga menuntut kenaikan upah. Tapi sudah mulai santer terdengar bahwa nasib mereka juga tengah diperjuangkan.

Aku yakin sang ibu tidak pernah mendengar tentang demonstrasi para buruh. Kalaupun tahu, hanya sepintas saja dan tidak terlalu memedulikan. Mungkin inilah yang dikatakan belum adanya kesadaran politik oleh sang ibu ini. Sang ibu hanya masih berkutat dalam kesadaran ekonominya. . Belum terlalu memikirkan kesadaran strutur yang lebih luas. Kalau sudah bisa makan, yah sudah.  Meskipun kebutuhan lainnya cukup susah untuk di penuhi bahkan belum terpenuhi semua.

Dengan kegemarannya memberi senyum dan menyapa, sang Ibu sangat akrab dengan banyak orang. Selain itu, ketekunannya dalam bekerja keras juga sangat menginspirasi banyak orang yang mengenalnya. Mataku masih saja mengikuti baris demi baris surat kabar. Tiba-tiba terhenti oleh suara sang ibu.

“Tidak,,, tidak usah”. Sontak kaget, karena penasaran dengan apa yang terjadi pada si Ibu, akhirnya aku beranjak untuk melihat apa yang terjadi.

Orang yang berada di hadapannya selalu memaksa. Sang Ibu terus mengulangi yang di ucapkannya. “Tidak,,, tidak,,, tidak usah”.

 “Tapi bu?”

“Tidak dek. Kebahagiaan itu bukan hanya pada uang. Saya ikhlas membantumu”  sang ibu menegaskan kembali pada seorang.

“Sungguh pelajaran hidup yang sungguh indah.  Trimakasih atas pelajaran berharga pagi ini”. Gumamku dalam hati.

~Makassar, 18 Desember 2013

6 komentar: