Kamis, 12 Desember 2013

Kita membutuhkan perbandingan sebagai bahan evaluasi. Mungkin sudah sering mendengar jokowi seorang pemimpin yang fenomenal dan cukup lain dari yang lain. Jokowi tidak akan masuk dalam ceritra dalam tulisan ini melainkan hanya akan mencoba mengangkat dua kepala daerah di Indonesia yang fenomenal “sekelas” jokowi bahkan ada yang mengatakan lebih dari jokowi. Dan smoga saja kita dapat belajar pada kedua sosok ini.

Tentunya kita bertanya, ada apa dengan dua kepala daerah ini? Kedua kepala daerah ini cukup terkenal dengan segala prestasinya yang selalu mendapatkan apresiasi dari nasioanl maupun internasional, juga di masayakat yg dipimpinya. Keduanya mulai menjadi bahan pembicaraan publik nasional ternyata di “sudut-sudut” Indonesia ada pemimpin merakyat yang masih kurang di ketahui oleh masyakarat Indonesia secara umum. Kedua kepala daerah itu adalah Tri Rismaharini sebagai walikota Surabaya-Jawa Timur dan Nurdin Abdullah bupati Bantaeng-Sulawesi Selatan.

 Dari banyak kepala daerah, Kedua kepal daerah ini selalu disebut-sebut sebagai pemimpin masa depan yang memiliki dedikasi yang tinggi terhadap rakyat. Atau bibit-bibit deaerah untuk nasional. Karena selama ini media selalu mengkapling kandidat kepemimpinan nasional pada seberapa media mengekspos atau bagaimana hasil survey tokoh-tokoh partai politik. Atau tokoh-tokoh yang sudah terlanjur menasional. Sedangkan di daerah selalu ada mutiara berkilau yang jarang terlihat. Bagaiamana kepemimpinan yang dimiliki oleh keduanya?

Tri Rismharini walikota Surabaya

 Tri Rismharini merupakan walikota pertama di Indonesia dari kalangan wanita. Beliau adalah walikota walikota Surabaya. Risma, nama yang populer disematkan dalam kesehariannya. Sebelum menjabat sebagai kepala daerah, terlebih dahulu beliau menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan kota Surabaya. Ketika pemilukada dilakukan akhirnya beliau dipercaya oleh rakyat subaya untuk menjadi pemimpinnya.

Seperti khalifah Umar bin Khatab

 Ibu Risma meneladani sosok khalifah umar bin khatab. Suatu malam, sang khalifa berkeliling kampung (blusukan) untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya di masyarakat. Beliau mendengar tangisan dalam sebuah rumah. Tangisan anak-anak yatim yang lapar karna tidak ada makanan. Ibunya mendiamkannya dengan pura-pura memasak makanan yang sebenarnya adalah batu. Sontak beliau kaget. Dengan perasaan yang sangat sedih, beliau segera beranjak untuk memikul sendiri bahan makanan, kemudian dibawakan pada sang ibu dan anak-ananya.

Hal ini pula yang dilakukan oleh Ibu Risma. Dengan mobilnya, beliau selalu berjalan berkeliling kota untuk melihat kondisi nyata masarakatnya. Mobil ibu walikota ini di sini dengan pangan dan peralatan kedinasannya. Beliau menolong siapa saja yang dilihatnya. Anak-anak terlantar, orang sakit, orang tua yang tidak bekerja serta orang-orang yang memiliki masalah sosial lainnya. Beliau tidak seperti para pemimpin lain yang lebih nyaman duduk di singgahsana dan hanya mendengar informasi-informasi saja perihal keadaan rakyatnya. Tak jarang juga yang tidak peduli untuk mendengar karena tengah asik dengan kekuasaannya. Dan kalau para pemimpin itu blusukan langsung kemasayarakat hanya untuk tujuan politis tertentu atau sekedar menghadiri seremonial biasa semisal perayaan hari besar agama.

Solusi Masalah TKI


Selain itu yang membedakan dengan pemimpin daerah yang lain adalah terkait penanganan TKI. Beliau tidak mau TKI yang berasal di Surabaya terutama kaum wanita derajatnya di rendahkan. Di antaranya yang dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan keterampilan secara professional dan pendidikan bahasa asing. Dalam hal kontrak kerja, pemerintah kota sangat mengontrol ini. Berbeda dengan banyak daerah yang memberangkatkan para TKI dengan kontrol yang rendah dari pemerintah malah memberikan sepenuhnya perusahaan ketenagakerjaan.

Tanpa kartu jamkesmas

 Terkait masalah kesehatan, kebijakan ibu risna juga patut dicontohi. Beliau mempermudah akses kesehatan kepada siapa saja masyarakat surabaya terutama warga yang tidak mampu secara ekonomi. Warga miskin tidak hanya bisa berobat ke rumah sakit milik pemerintah tetapi juga bisa ke rumah sakit swasta tanpa kartu jaminan kesehatan (jamkesmas). Hal ini dilakuan semata-semat untuk menjamin kesehatan warganya. Apalagi dalam banyak kasus, pasien jamkesmas sering mengalami diskriminasi dalam pelayanan bahkan tidak manusiawi.
 
Kepedulian pendidikan


 Di bidang pendidikan ibu risma begitu konsern terhadapa pencerdesan warga Surabaya. Tidak hanya memperhatikan pendidikan formal dari TK sampai SMA/SMK, juga memberikan kecerdasan pada masyarakat biasa terutama di pelosok/pinggiran kota Surabaya. Yang dilakukannya diantaranya pengadaan fasilitas internet pemukiman dan taman-taman kota. Selain itu pengadaan ratusan perpustakaan-perpustakaan di kampung-kampung. Semua dilakukan agar warga dengan mudah memperoleh informasi dan pengetahuan.
 
Mengutamakan pedagang kecil dibanding mol(pengusaha besar)


 Masalah pembanungan dan pemerataan ekonomi perlu juga di apresiasi. Jika di banyak kota, pemerintah berlomba-lomba mendirikan mol atau pasaran swalayan lainnya, di masa kepemimpinan Ibu risma tidaklah demikian. Beliau lebih mengutamakan pembangunan PKL, pasar tradisional dan tenaga kerja informal lainnya. Beliau sengaja membuka lahan-lahan baru untuk PKL di pusat-pusat keramaian kota Surabaya. Demikian juga sarana pendukungnya semisal faslitas air di sekitar penjualan, kebersihan, keamanan serta sarana pendukung lainnya di siapkan oleh pemerintah kota. “Warga kecil” pun merasa diperhatikan sehingga mereka dapat berjualan 24 jam sehari. Dengan ini setidaknya pertumbuhan ekonomi pun merata.

Nominasi walikota terbaik dunia

 Sekarang pun demi melindungi perlakuan yang tidak manusiawi terutama terhadap wanita, beliau sudah memulai penutupan lokalisasi prostitusi di Surabaya. Meskipun masih kontroversi, tapi ini adalah sebuah terobosan baru untuk kemanusiaan terutama bagi kaum wanita.

Tidak salah kemudian jika, Ibu Tri Rismaharini menjadi salah satu nominasi wali kota terbaik di dunia, 2012 World Mayor Prize, yang digelar oleh The City Mayors Foundation. Sebenarnya prestasi semacam ini pernah juga di raihnya ketika menjadi Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (sebelum menjadi walikota), dimana atas kepemimpinan di bidangnya membuat Surabaya mendapat penghargaan sebagai kota terbersih dan terasri hingga mendapatkan piala adipu selama lima tahun berturut-turut.

Nurdin Abdullah Bupati Bantaeng

 Bagaiamana dengan bupati ini? Dahulu sebelum kabupaten bantaeng yang secara geografis terletak di kaki di Sulawesi selatan ini, dipimpin Nurdin Abdullah banyak yang memandang kota ini hanya seblah mata. Kota ini cukup memprihatinkan dalam segala hal. Kemiskinan cukup banyak. Lapangan kerja sangat sedikit sehingga warga disana lebih suka mengadu nasib ke kota lain hingga keluar negeri. Pertanian yang harusnya memberi andil sekitar 74%, tapi malah ditinggalkan. Angka kematian karena penyakit lingkungan cukup tinggi bahkan hingga 47% setiap tahunnya. Begitu juga dengan angka kematian Ibu hamil karena terlambat di tolong. Terkait juga masalah lingkungan, bantaeng yang jika di guyur hujan 2 jam saja sudah langsung banjir.

Dengan dorong masyararakat dan akademisi akhirnya beliau mencalonkan diri dan terpilih. Salah satu guru besar universitas Hasanuddin ini, melakukan Perombakan besar-besaran.  Belanja pegawai yang 72% diturunkan karna banyak program yang tidak efektif. Kemudian menggunakan konsep pembambungan yang “revolusioner” yakni dari membangun dari pelosok (desa). Jalan-jalan yang sebelumnya sangat memprihatinkan kini sudah diperbaiki. Banjir yang sering melanda kini sudah diselesaikan. Dengan ini para investor yang dahulu tidak berminat untuk berinvestasi, sekarang berlomba-lomba. Bahkan sekarang akan ada industri baru lagi yang di buka karena iklim investasi yang mendukung terutama infrastruktur di daerah tersebut.

Selalu Open house

 Di awal-awal kepemimpinannya, beliau cukup bekerja keras. Beliau melakukan “open house” agar warganya selalu datang menyampaikan ke inginan-keingnannya terhadap pemimpinnya dan juga terkait pembangunan daerahnya. Ada hal yang menggelitik, ketika beliau di kunjungi oleh seorang warga ingin menikahkan anaknya. Warga tersebut sudah terlanjut menerima pinangan, sementara ternyata tidak memiliki uang. Tapi itulah pemimpin. Adakah pemimpin (kepala daerah) yang selalu rumahnya di buka untuk warganya (open house)? Alih-alih pintunya di buka, bertemu saja harus melalui berliku-liku prosedur. Itupun jika di izinkan.

Rp 3 miliar tanpa bunga

 Salah satu yang menarik adalah bagaimana sang bupati , Nurdin Abdullah fokus pada masarakat bawah. Persoalan air, benih, pupuk serta masalah lain terkait pertanian, sebelumnya meminjam modal pada rentenir, kini tidak lagi. Pemerintah meluncurkan program Rp 3 miliar untuk memberikan dana tanpa bunga. Setelah panen pun masyakat tetap difasilitasi. Dengan tersediannya infrastruktur jalan yang bagus, beliau membagikan setiap desa mobil pick up untuk mengangkut hasil panen. Mobil ini tidak dikendalikan atau di kelolah oleh kepala desa melainkan masayarakat secara langsung, dengan membetuk badan usaha milik desa (BUMD).

Agrowisata apel dan strawberi

 Dengan latar belakangnya sebagai guru besar pertanian di universitas hasanuddin-makassar, beliau dapat memberikan perubahan di bidang pertanian yang cukup signifikan. Produksi pertanian bertumbuh pesat bahkan kini sudah bisa di ekspor ke daerah luar bantaeng bahkan hingga ke luar negeri. Ada hal yang menarik pula dalam prestasi pertanian kabupaten Bantaeng. Jika kita di kota malang kita menganal agrowisata dengan kebun apelnya. Sekarang bantaeng memilki agrowisata yang lebih dari itu yakni bukan hanya produk apel melainkan juga buah strawberi. Padahal sebelumya bantang krisis dalam hal pertanian (74% lahan pertaniannya di tinggalkan oleh warganya) tapi kini telah berubah. Semuanya dilakukan secara partisipastif melibatkan warga bantaeng.

Brigadi siaga bencana

 Mengenai angka kematian yang seperti disebutkan diatas. Pemerintah bantaeng sangat memperhatikannya.  Nurdin Abdullah selaku bupati, membangun brigadi siaga bencana. Brigadi siaga bencana salah satu fungsinya akan membantu masyarakat dalam hal kesehatan. Jika ada masyarkat yang sakit, tidak perlu repot-repot kerumah sakit untk berobat. Cukup hubungi no telpon yang sudah di siapkan oleh pemerintah, yakni nomor 113 maka dokter dan perawat akan datang. Jadi bukan pasien yang mencari dokter dan perawat melain sebaliknya, dokter dan perawat yang mencari pasien. Sungguh kepemimpinan yang manusiawai bukan?

Untuk biaya kesehatan, sang bupati dengan jaringan yang luas berhasil mendapatkan bantuan dari jepang termasuk mobil ambulance yang dipake untuk melayani masyarakat. Bahkan sempat beredar kabar tidak ada se sen pun dana dari APBD di gunakan dalam program ini.

Rumah sakit metro

 Masi terkait kesehatan juga, Nurdin Abdulllah bermimpi untuk membangun rumah sakit metro atau rumah sakit yang berfalitas seperti rumah sakit yang ada di kota besar. Rumah sakit seperti ini sangatlah jarang untuk skala kabupaten. Rumah sakit  demikian hanya biasa di temukan di kota-kota besar atau di ibu kota provinsi saja. Sehingga awal ide ini di luncurkan, banyak orang yang pesimistis. Sebagian orang menganggap mimpinya tidak akan mungkin tercapai bahkan di anggap gila. Tapi inilah Nurdin Abdullah yang punya karakter kuat dan merakyat. Sekarang rumah sakit tersebut sudah berdiri dengan delapan lantai. Dokternya pun sudah dipersiapkan, dan kini tengah dimagangkan di jepang.

Ekonomi partisipatif

 Di pesisir pantai yang memiliki panjang sekita 22 km dimanfaatkan untuk mengembangan rumput laut dengan dana insentif dari pemerintah sehingga menyerap tenah kerja yang lumayan besar. Selain itu daerah pesisir juga di reklamasi. Secara otomatis memberikan “multi efek” dengan terbangunnya aktivitas perekonomian masyarakat setempat seperti berdirinya jajanan kuliner serta souvenir khas bantaeng. Hotel-hotel pemerintah di bangun. Semua di kelolah secara partisipatif yang melibatkan seluruh masayarakat bantaeng. Sangat berbeda dengan daerah-daerah lain yang memonopoli atau menguasai wilayah-wilayah tertentu oleh segelintir orang saja sehingga keuntungan pun lebih banyak untuknya, sedang masyarakat setempat hanya sedikit saja.

Di banyak daerah jika terdapat potensi alam yang bisa menghasilkan pundi-pundi ekonomi, biasanya akan menjadi santapan segelintir pemodal atau bahkan oknum pemerintahnya kemudian di kelolah secara pribadi. Mereka memonopoli pengelolaannya hanya untuk lebih besar ke keuntungan pribadi. Tapi berbeda dengan Nurdin Abdullah yang sangat merakyat. Beliau berhasil membunuh hasrat kerakusannya agar rakyat bisa menikmati kekayaan alamnya bersama-sama.

Konsekuensi dari itu semua adalah pertumbuhan ekonomi di kabupaten Bantaeng cukup mencengangkan. Pertumbuhan Ekonomi 2008 yang hanya 5,3% pada tahun 2012 telah 8,9% di atas pertumbuhan ekonomi provinsi Sulawesi selatan bahkan nasional. Pendapatan per kapita hampir 2-3 kali lebih baik. dari segi kualitas pertumbuhan pun tidak hanya terjebak dalam hitungan statsitika makro yang berhasil dalam hitungan angka tapi dalam kenyataan di lapangan justru jauh berbeda (seperti statistika penghitungan ekonomi Indonesia secara umum). Tapi di Bantaeng, antara hitungan statistik dan kenyataan tidak berbeda.

Ribuan bahkan puluhan ribu warga medatangi rumahnya

 Dengan gaya kepemimpinan dan konsern ekonomi yang melibatkan rakyat seperti ini, wajar jika menjelang pemilihan bupati untuk kedua kalinya banyak rakyat yang memintanya untuk mencalonkan diri kembali. Ribuan orang tanpa sepengetahuan sebelumnya, mendatangi kediaman Nurdin Abdulllah agar beliau memimpin kembali untuk kedua kalinya. Tak perlu lagi berkampanye massif seperti yang umum dilakukan oleh para kandidat dengan menghambur-hambur uang. Beliau menggunakan uang kampanye lebih untuk membatu masyarakat. Karena beliau telah memiliki modal prestasi yang di rasakan langsung oleh masyarakat bantaeng. Benar saja, setelah penghitungan suara beliau menang telak atas lawan-lawanya dengan perolehan suara di atas 80 persen. Sungguh perolehan yang mencengangkan bukan?

Sangat jarang ada pemimpin daerah yang di datangi oleh ribuan bahkan beredar kabar hingga puluah ribu warganya, untuk memintanya kembali menjadi pemimpinnya. Bukankah karena pemimpin demikian manusiawi dan lebih mengutamakan rakyat bukan?

Mengahiri tulisan ini saya sontak berpikir: Apakah kepala daerah saya demikian juga? Biarlah kenyataan sejarah membuktikannya.

~Makassar, 11 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar