Selasa, 31 Desember 2013

Tentang menjelang pergantian tahun 2013 ke 2014

Tahun 2013 akan segera di tinggalkan. Kita akan memasuki tahun yang baru, yakni 2014. Segala proses pergumulan kehidupan telah terjadi. Ada suka dan ada duka. Ada siang dan ada malam. Ada kesedihan dan ada kegembiraan. Ada kesukaran dan ada kemudahan. Keduanya selalu berjalan berdampingan.

***

Menjelang pergantian tahun euforia sudah terjadi dimana-mana. Berbagai cara dilakukan misalnya dengan berbegai selebrasi kembang api, berpesta dengan teman-teman atau ada juga yang biasa saja, tidak begitu peduli dengan respon yang terlalu berlebihan atau ada juga yang hanya melihat kembali kebelakang untuk mengevaluasi segala perjalanan kehidupan sembari menyusun rencana-rencana yang baik dalam tahun berikutnya.

Untuk di kota saya berada sekarang (Makassar) kembang api sudah mulai riuh terdengar. Kilatan-kilatan kembang api mulai menghiasi langit. Entah berapa uang yang melayang lenyap di malam ini. Karna berbagai peralatan terutama kembang api diperoleh dengan uang yang tak sedikit. Setiap kali kembang api di bunyikan dan mengudara, saat itu pula uang serta merta akan lenyap.

Hemat saya tidak ada yang salah untuk merayakan pergantian tahun. Tapi perlu pertimbangan yang matang, pertimbangan baik dan buruk. Jika memang segala perayaan ini lebih cenderung pada banyaknya keburukan dibanding kebaikan, alangka bijaksananya di tinggalkan saja. Apalagi jika sudah terlampau berlebihan.

***

Berbagaia ‘ledakan’ kembang api ini, seolah tengah berada dalam suasan perang. Serta merta pikiranku terbawa pada bagaiamana perang jalur gaza. Dimana pasukan Israel menggempur warga palestina dengan berbagai mesin-mesin senjata. Juga serasa berada para negeri suriah saat ini yang tengah dilanda perang saudara. Suara-suara ‘ledakan’ semacam ini menjadi pemandangan keseharian mereka.

Tapi ledakan itu berbeda dengan kondisi saya sekarang. Jika ‘ledakan’ disini membuat anak-anak dan warga terselimuti dengan kegembiraan. Berbeda dengan di jalur gaza terlebih di surya sekarang. Ledakan mereka jauh lebih keras dan memberi efek perusak yang dasyat. Anak-anak dan warga lain di sana diselimuti ketakutan. Bukan ledakan kembang api yang ada, melainkan ledakan mesin-mesin senjata yang terdengar. Dan ledakan itu dapat sewaktu-waktu mengajak sang izrail datang menjemput.

Dari hasil hitung-hitungan kotor, tentang berapa nominal uang yang lenyap beserta bunyi kembang api dalam perayaan malam tahun baru saat ini, cukup fantastis. Diperkirakan miliaran rupiah, untuk kota Makassar saja. bagaiamanan kota-kota lain? Atau desa-desa lain yang mulai terkontaminasi fenomena-fenomena kebudayaan semacam ini? Jika di jumlahkan secara keseluruhan maka akan sangat luar biasa besar.

Kemanusiaan setiap manusia selalu jujur membisikan kebenaran. Selalu akan memberi pertimbangan baik dan buruk untuk perihal apa yang ingin dilakukan. Jika miliaran rupiah itu digunakan untuk kebajikan sosial kemanusiaan, maka sangatlah bijaksana untuk dibandingkan dengan perayaan kembang api secara berlebihan.

Di saat ketakutan anak-anak dalam wilayah perang, mereka sangat membutuhkan uluran tangan sesamanya. Mereka ingin segra keluar dari cengkraman dentuman mesin senjata yang terjadi di negerinya. Rumah-rumah tempat mereka berlindung dari sengatan panas dan kegigilan dingin banyak yang telah hancur lebur. Begitupun dengan baju-baju yang mereka kenakan dan makan yang sudah mulai paceklik. Mereka membutukan bantuan materi yang besar untuk sedikit meringankan kesedihan mereka.

Itu hanya dalam masyarakat di laur wilayah negara kita. Belum di negara kita yang masih di lilit dengan berbagai permasalah sosial. Tapi sangat disayangkan, kita lebih suka menghambur-hamburkan dengan melenyapkan uang seketika dalam kilatan dan dentuman kembang api dalam pergantian malam tahun baru.

***

Bagi orang yang memiliki manajemen hidup yang baik, biasanya memiliki resolusi dalam batasan-batasan waktu tertentu. Banyak di antara mereka menetapkan akan tercapai resolusinya ketika periode satu tahun akan di tutup. Untuk tahun 2013 makan batasan itu akan segera berakhir dalam hitungan jama lagi (saat menulis artikel ini). Artinya akan ada capaian dan evaluasi terhadap hasil-hasil resolusi yang pernah di ikrarkan.

Hasil survey yang pernah di rilis menyatakan bahwa 1 dari 12 orang dapat menggapai satu dari beberapa poin resolusi yang telah di tuliskan. Jika kita termasuk dalam satu orang tersebut tersebut artinya kita terkategori sebagai kelas terdidik di masayarakat metropolitan.  Mungkin orang-orang yang memiliki tingkat kesuksesan yang cukup baik di banding yang lain. Tentunya setiap orang memiliki resolusi dan cara sendiri untuk menggapainya.

Nah, untuk saya pribadi terus terang dari sekian poin resolusi yang tertulis, biasa dikatan belumlah sesuai dengan harapan dalam pencapaiannya. Ada beberapa yang mungkin termasuk tercapai tapi tidak maksimal. Saat ini dari berbagai proses dan hikmah kehidupan yang pernah ditemukan, saya menggunakannya untuk mengevaluasi kembali resolusi-resolusi yang pernah ada. Sebenarnya evaljuasi ini selalu dilaksanakan setiap saat tapi malam ini tak ada salahnya, malah akan lebih baik karena inilah hasil evaluasi akhir dalam batasan waktu satu tahun.

Karena alasan-alasan inilah sehingga malam ini saya lebih suka duduk berdiam dan merenung. Saya yakin, saya tidak sendiri. Banyak orang yang melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan. Mungkin juga ada yang lebih ekstim lagi dari saya yakni dengan melakukan ‘pertobatan’ total, salah satunya dengan ibadah yang sebanyak-banyaknya. Dalam hal ini evaluasi urusan dunia dan kepentingan akhirat.

“Bukanlah kemajuan jika hari ini sama dengan hari kemarin apalagi lebih buruk dari hari kemarin”

Selamat tahun baru dan mari beresolusi. Smoga dalam segala hal, kita menjadi lebih baik lagi. Amin.

~Makassar, di markas besarku. Saat dentuman kembang api terdengar di seantero langit Makassar. Pukul 22:39. 31 Desember 2013.

*Tulisan terakhir di tahun 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar