Senin, 06 Januari 2014

Inilah alasanku, Anastasya

Hujan. Aku teringat ketika kekasihku datang. Dia membawa serantang rendang dibawanya dari rumah. Entah kenapa, setiap kali ada rendang itu di bawa, hati ini sukar untuk menipu lagi. Hati yang meluap-luap bak air yang yang melimpah ruah dalam ember kosong yang penuh. Memerintahlah hati untuk mendekup kencangkan jantung. Tanda bahwa aku memang benar-benar jatuh cinta.

Anastasya. Nama indah yang sengaja ku sematkan padanya. Dalam kancah hubungan 'romantisme', setiap pasangan kerap memiliki nama-nama khusus untuk pasangannya. Nama itu adalah nama kesayangan. Seperti halnya nama anastasya, kekasihku. Dialah tempat pergantungan hatiku.

“Kekasihku, nih kubawakan serantang rendang ke sukaanmu” selalu dalam jarak yang cukup jauh kalimat itu selalu di ucapkan oleh bibir manisnya.

Dalam sejarah ke indonesiaan kita, rendang berasal dari negeri minangkabau. Serta merta orang-orang yang mengetahui kekasihku anastasya selalu membawa rendang, akan berkata dia benar-benar gadis minangkabau. Inilah yang menjadi persandungan pikiranku saat itu. Perihal asal muasalnya, anastasya tidak ingin menceritakannya padaku. Entah kenapa. Padahal akukan kekasihnya. Kekasih yang di sayanginya.

“kekasihku, cinta kita adalah satu. Cinta itu bukan aku atau kamu apalagi perihal negeriku. Kekasihku, cinta kita adalah kita. Satu tak terbagi” kalimat ini selalu di ungkapkan ketika akau bertanya tentang asal muasalnya. Aku sadar sesadar-sadarnya, jika cinta adalah unsur lain yang mampu menerobos dimensi ruang.

Cinta terlampau sempit dan terbatas jika hanya dibatasi oleh ruang. Bahkan dalam mitologi nenek moyang kita, tak jarang terdengar kisah cinta antara dua insan beda alam, jin dan manusia misalnya. Bukankah ini perbedaaan ruang itu? mungkin saja. Karena cintaku pada anastasya bukanlah pertimbangan asal muasalnya.
***

Aku tidak pernah melihat gadis lain sehingga membuatku terlalu jatuh cinta kecuali anastasya. Anastasya memang berparas indah, taat pada Tuhan, berbakti kepada orang tua. Tapi aku sadar gadis berparas cantik di luar sana bahkan lebih berparas indah darinya tak terhitung jumlahnya dan sudah sering aku temui. Yang taat pada Tuhan dan berbakti kepada orang tua juga ada, meskipun sudah berkurang. Dan semuanya aku telah banyak berjumpa dengan mereka, lantas tidak membuat hatiku memilih mereka.

“kekasihku, apa gerangan yang membuatmu menjatuhkan cintamu padaku?”. Mendengar pertanyaan anastasya, aku hanya membalasnya dengan senyuman. Mungkin dia berpikir, jika aku kekasihnya pengikut adagium ‘mencintai tidak butuh alasan’.

Ah, siapa bilang? Mana mungkin aku mencintai anastasya jika aku tidak memiliki perihal alasan untuk mencintainya. Kalau memang tidak ada alasan, kenapa tidak jatuh cinta saja sama kucing misalnya, kuda misalnya, atau babi misalnya.

“Anastasya kekasihku, maukah engkau tahu kenapa aku begitu terlampau mencintaimu?” ucapku untuk menyirnakan rasa penasaran dipikirannya.

“Jawablah kekasihku”  tukas anastasya.

“Bukalah tutup rantang itu”

“Memangnya kenapa dengan rantang ini kekasihku? Bukankah rantang ini hanya berisikan rendang hasil racikanku, yang telah aku meraciknya dengan cinta?”

“Bukalah jika engkau ingin tahu jawabku, kekasihku.”

Untuk segera menghilangkan rasa penasaranya, dibukalah rantang itu. Aroma harum dan nikmat menguap berputar-putar merasuki indra perasa. Secara perlahan anastasya, menghirup merasakan aroma itu, dengan mata yang terpejam serta senyum yang manis di arahkan kepadaku.

Selain hal-hal kebaikan di atas yang aku sebutkan, sebagaimana gadis lain bahwa anastasya juga taat sama Tuhan, berbakti sama orangtua, indah parasnya. Tapi ada perihal lain yang membuatku menjatuhkan cinta pada anastasya. Bahwa ketika dia menghirup menikmati aroma serantang rendang dengan memejamkan mata sembari tersenyum padaku. Hati ini semakin terhanyut untuk mencintainya.

Inilah alasanku, Anastasya.

~Makassar, 6 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar