Rabu, 01 Januari 2014

Surat tahun baru, untuk kekasihku

Untukmu tempat pergantungan hatiku

Sayang,,, malam ini adalah awal malam di tahun 2014. Langitku penuh asap, dentuman dan kilatan. Ini perang sayang. Tapi jika engkau berpikir ini perang seperti jalur gaza oleh serangan tentara isreel, bukan sayang. Pun jika engkau menganggap ini perang pasukan bassar al assad sang pemimpin rezim surya dengan kelompok-kelompok yang ‘pro demokrasi’, bukan juga sayang. Ini perang yang abstrak. Mungkin begitu aku membahasakan padamu sayang.

Sayang,,, saya tidak tahu pasti berapa miliar uang yang lenyap malam ini. Jika engkau berpikir habis karena memberi maka fakir miskin, tidak sayang. Jika pula engkau berpikir untuk membantu sekolah-sekolah anak-anak jalanan itu, bukan sayang. Pun jika engkau berpikir uang itu habis karena membantu bersedekah terhadap sesama, bukan juga sayang. Aku katakan padamu ini sebuah pesta. Pesta yang berhura-hura, memberi kesenangan sesaat tapi setelahnya lenyap. Atau saya biasa menyebutnya pesta yang miskin substansi, sayang.

Sayang,,, di tengah dentuman yang terdengar di seantero langit kota ini oleh kembang api yang begitu gegap gempita, tiba-tiba aku merindukanmu. Apakah engkau merindukanku juga? Entahlah. Karna itu hakmu sayang. Aku tidak akan memaksamu untuk merindukanku.

Tapi sayang,,, aku ingin berceritra padamu malam ini. Di saat aku menulis tulisan ini, entah perasaan apa yang menyelimutiku. Mungkin aku galau, gelisah, resah atau entahlah… tapi bukan karenamu sayang. Aku melihat ada kejanggalan dari peradaban hari ini, terutama para pelaku peradaban. Kita terlampau berlagak, tapi tidak tahu apa manfaatnya. Kita terlampau berperangai, pun tak tahu apa efek positifnya bagi kebaikan peradaban.

Sayang,,, saat aku menuliskan ini, dentuman belum saja berhenti. Uang banyak terhambur sia-sia. Kata salah seorang sahabatku, jumlahnya puluhan miliaran. Ini baru untuk kotaku sayang.  Belum kota-kota lain bahkan di desa-desa yang mulai terkontaminasi oleh budaya yang ‘aneh’ ini. Ini tanda bahwa kita benar-benar tidak merdeka secara budaya, sayang. Padahal bung Karno bapak pendiri bangsa ini pernah berkumandang: kita harus berkarakter secara budaya. Budaya yang di maksud adalah budaya kearifan lokal yang kita milliki, sayang. Budaya kebaikan dari identitas yang kita miliki. Bukan budaya-budaya hedonisme yang kapilitalistik itu, sayang.

Sayang,,, negeriku Indonesia terlampau terlilit oleh pelbagai masalah. Masalah yang masih membutuhkan banyak uluran tangan dari para pelaku peradaban di dalamnya. Jika kebanyakan pelaku peradaban sudah begini adanya, bagaiamana nanti nasib bangsa ini sayang. Aku juga melihat fenomena ini bukan hanya menjangkiti rakyat kecil nan biasa-biasa saja seperti saya, melainkan sejumlah elit-elit negeri ini pun merayakan perayaan-peryaan yang miskin makna ini, secara berlebih-lebihan.

Sayang,,, bukankah alangkah bagusnya uang itu di gunakan kepada kegiatan kemanusiaan bukan? Tuh, di banyak tempat di kota maupun di desa masih membutuhkan makanan yang layak. Tempat tinggal yang layak. Pakaian yang layak. Pendidikan yang layak. Kesehatan yang layak. Dan banyak lagi kebutuhan yang layak-layak lainnya, sayang.

Itu baru di negeriku sayang. Atau mungkin negeri ini juga negerimu, sayang. Entahlah. Tapi di sana, jauh dari di luar negeri ini, banyak pula yang membutuhkan uluran tangan para penderma. Sebagai contoh aku ingin mengajakmu melihat ke negeri syam, Surya. Di sana dentuman di seantero langitnya, sering terdengar. Sama dengan yang saya dengar malam ini. Tapi di seantero langit negeri syam itu, dentumannya hampir tiap saat. Tidak siang, tidak malam. Dentumannya pun jauh lebih dasyat, dan mematikan.

Bukan. Bukan kembang api seperti yang ada dinegeriku malam ini, sayang. Dentuman itu karena mesin-mesin senjata yang selalu saja ‘memanggil-manggil’ sang izrail untuk mencabut nyawa anak-anak kecil dan rakyat biasa yang tak berdosa di sana, sayang. Mereka membutuhkan rumah yang layak karena sudah terkoyak, makanan yang layak, pakaian yang bersih dan menutup aurat disebabkan oleh kekejaman mesin senjata.

Sayang,,, sampaikan surat ini kepada siapa saja yang engkau temui. Agar uang-uang yang terhambur hanya pada satu malam itu, setelahnya tidak seperti ini lagi. Smoga di gunakan untuk kebaikan kemanusiaan. Sayang,,, jika suratku ini kurang begitu baik menuturmu, abaikanlah. Tapi jika bermanfaat ambillah dan penuhilah amanahku.

Sayang,,, meskipun aku tidak tahu siapa engkau dan dimana engkau. Tapi aku yakin bahwa aku dan engkau sama-sama saling merindu.

Sayang,,, jika surat ini terlampau panjang, maafkanlah. Karena ini adalah kegelisahanku yang selain kepada Tuhan, aku tidak tahu lagi harus aku sampaikan pada siapa selain kepadamu, sayang.

Sayang,,, Setelah engkau membaca surat ini, saya tidak berharap engkau membalasnya. Tapi aku yakin engkau akan mengerti dan menerima hati ini yang tengah merindukan kebenaran dan kebaikan.

~Makassar, masih di markas besarku. Pukul 00: 51. 1 januari 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar