Kamis, 26 Maret 2015

Zikir india

Akhirnya menulis juga. Setelah sekitan lama berlarut-larut dalam kemalasan dan mungkin juga kurang waktu yang kondusif untuk menulis.

                                              ***

Malam ini, malam jumat. Malam yang menurut islam adalah malam yang cukup special di antara malam-mala lain. Di sini umat islam di anjuurkan untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Beribadah horizontal maupn vertical.

Saat menulis artikel ini, saya sedang berada di Kediri pare provinsi jawa timur. Tidak jauh dari kabupaten ini, terdapat kota Surabaya yang terkenal dengan sebutan kota santri atau semakin dekat lagi dengan kampong asal salah satu presiden republic Indonesia, GUsdur. Cukup berasalan apalagi jika di tarik kebelakang tentang sejarah lahirnya salah satu organisasi islam besar di Indonesia bahkan di dunia, nahdatul ulama. bisa dikatakan daerah inilah atau dalam skop proviinsi maka provinsi jawa timurlah yang merupakan basis Nahdatul ulama ini.

Salah satu cara yang digunakan NU dalam mempertahankan dan menyebarkan agama adalah dengan mendirikan pesantren-pesantren. dalam perkembangan NU, tentunya mengalami pergualantan dengan zaman. Mungkin dahulu terkesan eksklusif namun hari ini hal itu tidak dapat dihindarkan lagi dari arus modernitas yang semakin membesar.

Kembali ke situasi malam ini (baca: jumat). Zikir dilakukan di masjid-masjid. Bukan hanya di masjid melainkan di rumah-rumah pun dilakukan. Namun ada yang menarik untuk di telisik. Malam ini dikumandangkan zikir darimasjid-masjid. Saya melihat kreatifitas dan upaya keluar dari sikap tradisional yang umum disematkan kepada warga nahdiyin (NU).  Jika dahulu zikir dilakukan dengan ‘kaku’, tapi tidak dengan mala mini.

Terdengar zikir yang dilantunkan saat ini ada nuansa music dari Negara lain. Mungkin bagi pencinta film india tidak akan asing mendengar instrument zikirnya. Zikir yang diucapkan di kombinasikan dengan instrument lagu india, yang jika tidak salah judulnya kuchu-kuchu ho tahe (hehe… maaf jika salah tulis judul). 

Hemat saya ini cukup menggelitik. Saya yakin jika hal ini di bawa pada masyarakat tradisional yang lain akan menimbulkan resistensi.  Tapi bagi saya ini kreatifitas yang mencoba memasuki “suasana kebatinan” masyarakt modern yang hari ini secara perlahan terus di tarik dalam pusaran budaya modernitas terlebih hari ini arus budaya india mulai menyerang budaya Indonesia. 

Selama tidak menghilangkan nilai-nilai islam atau substansi dari islam itu sendiri, maka sah-sah saja. Karena islam bukanlah agama yang lahir dalam ruang hampa. Islam lahir dalam pergulatan budaya, ruang dan waktu yang begitu besar dan lama. 

*karena malas membaca kembali dan meng-edit maka jika ada kata, kalimat dan penyusunannya yang kurang tepat, tolong maafkan. Silah masukan saran saja agar diriku memperbaikinya. Hehehe…

*tulisan ini terjadi saat mendengar lantunan zikir di seantero langit Pare, Kediri. 26 Maret 2015.

2 komentar:

  1. Kursus bahasa inggris di situ kha. Jadi ingat sama rumah Omku di Surabaya. Suasana di situ enak dan mesjid-mesjid kebiasaannya sudah seperti itu. Jadinya selalu buat saya selalu ikut shalat berjamaah di mesjid. Apalagi imam mesjidnya rata-rata lulusan pesantren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. hehehe...
      disiini daerah pesantren. ;)

      Hapus