Minggu, 26 Juli 2015

Kos-kosan dan Otokritik Gerakan Mahasiswa Makassar

Kian hari kebutuhan manusia selalu meningkat. Apalagi jumlah penduduk yang semakin meningkat selalu berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan. Terlebih lagi tuntutan zaman yang juga selalu menawarkan kebutuhan-kebutuhan baru yang seolah memaksa kita untuk memiliknya. Karena kebutuhan terlampau banyak, tulisan ini dikerucutkan pada kebutuhan akan tempat tinggal (papan). Untuk lokasinya pun saya batasi hanya pada kasus kos-kosan di sekitar kampus di Makassar, lebih khusus lagi di sekitar kampus Universitas Hasanuddin (Unhas).

Kos-kosan; dulu dan sekarang 

Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, harga akomodasi di sini bisa disewa dengan harga sejutaan bahkan ada yang kurang dari itu. Untuk harga sejutaan, standar kualitas bisa terkategori layak dalam parameter mahasiswa saat itu. Tentunya harga selalu bersaing dengan menampilkan kualitas-kualitas, harga yang tiinggi akan menampilkan kualitas yang lebih tinggi dibanding harga dibawahnya. Saat itu harga yang lebih tinggi rata-rata sekitar 3 jutaan, tentunya sepeti yang disinggung sebelumnya bahwa kualitas sudah lebih dari cukup untuk dikatakan telah mumpuni.

Nah, bagaiamana kondisi sekarang??? Fluktuasi ekonomi mengakibatkan fluktuasi harga. Namun, harga kebutuhan ini (baca: kos-kosan)selalu menunjukan kenaikan dari tahun ketahunnya. Sebenarnya, kondisi ini hal yang alami dalam dinamika ekonomi masyarakat. Yang menjadi masalah adalah tidak semua mahasiswa (keluarga mahasiswa) akan mampu mengaksesnya dengan mudah karena tingkat ekonomi masyarakat (mahasiswa) berbeda-beda. Belum lagi beban kebutuhan lain seperti kebutuhan ‘pakan’, ‘sandang’ serta urusan kuliah dan sebagaianya, yang harus dipenuhi.

Setelah saya melakukan survey kecil-kecilan, ada tren yang jelas bahwa rata-rata pemilik kos selalu menaikan biaya kos dengan angka yang cukup signifikan tanpa ada perbaikan kualitas yang memadai. Sehingga tidak mengherankan, umumnya harga berkisar diangka 4 hingga 8 jutaan, terlepas dari harga air dan listrik yang harus dibayarkan tiap bulannya oleh penghuni.

Secara ekonomi, tidak ada yang salah dari realitas ini. Para pemilik kos berhak memainkan harga sesuai keinginannya dalam koridor yang tidak menabarak regulasi. Apalagi hari ini, sisitem ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah sangat permisif terhadap para pelaku pasar (ekonomi pasar) untuk memainkan harga sesuai kehendak hati. Pemerintah terkesan tidak kuasa untuk mengintervensi ekonomi (pasar). Pasar dibiarkan bebas bergerak dan pemerintah hanya menjadi penonton karena keyakinan para penganut teori ekonomi ini (baca: kapitalisme), intervensi pemerintah atas ekonomi akan menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Pejuangan kos-kosan”; Otokritik gerakan mahasiswa Makassar

Ada hal yang perlu dijadikan evaluasi dari gerakan mahasiswa hari ini. Kadang kala mahasiswa harus berhenti sejenak, lalu melihat apa yang telah dilakukan selama ini. Terlebih mahasiswa Makassar yang oleh banyak media selalu diindentikan dengan mahasiswa yang sering terlibat dalam demonstrasi memperjuangkan nasib rakyat. Sering mereka (baca: mahasiswa) terjun langsung dalam realitas yang dialami oleh mayasrakat kelas bawah, selanjutnya hadir sebagai penggerak memberikan solusi. Ini tidak salah dan sangat baik.

Namun, kadang-kadang kita harus berani melihat kedalam diri. Apakah mereka pernah melihat secara real nasib sendiri? Kembali pada perihal kos-kosan yang merupakan kebutuhan primer (papan) yang tidak bisa tidak, harus dipenuhi. Masalah ini menjadi masalah serius yang harus segera diatasi. Pasalnya, tiap tahun harga tempat mahasiswa berdiam diri ini, semakin meningkat tanpa ada regulasi yang jelas sedang kondisi ekonomi kebanyakan mahasiswa masih memprihatinkan.

Disinilah para mahasiwa harus berani lantang atas nasib mereka yang berhadapan dengan harga pasar (kos-kosan) yang semakin meroket. Tidak bijak jika mahasiswa hanya terus melihat berbicara secara makro, di satu sisi mereka luput atas yang dekat dengan mereka. Memang masalah kos-kosan bukan hanya masalah ‘mikro’ yang tidak memiliki kausalitas dengan system ekonomi politik yang telah terintegrasi dengan system global. Bahwa masalah ini hanyalah masalah ‘percikan’ dari sebuah system yang besar sehingga oleh banyak kalangan meyakini harus ada perubahan sistemik dengan alternatif system yang lain. Tapi hemat saya, tidak salah dan akan lebih bijak jika kita menggunakan analisis mikro untuk mencari jalan keluar atas soal ini.

Jihad Konstitusi; Perda kos-kosan; Sebuah Keharusan

Dalam hal lebih mikro, masalah ini sebenarnya bagaiamana pemerintah kota Makassar seharusnya mengambil andil. Tentunya mahasiswa juga harus sesering mungkin memberikan masukan dan mengingatkan kepada pemegang kebijakan ini. Jika menggunakan analisis ekonomi di atas, tentang bagaiamana konsep ekonomi yang dijalankan hari ini, seharusnya pemerintah segera merubah cara pandang ekonomi yang kapitalistik ini. Bahwa pemerintah harus terlibat langsung dalam perekonomian sebagaimana yang diamanatkan dalam pancasila, tidak hanya sekedar menjadi penonton atas ‘keliaran’ pasar yang sesuka hati.

Pemerintah harus kembali menjalankan amanat pancasila bahwa ekonomi harus diselenggarakan atas asas kekeluargaan (ekonomi kerakyatan) dimana pemerintah harus turun langsung untuk mengontrol pasar (harga kos-kosan). Keliaran pasar ini akan teratasi jika pemerintah menciptakan regulasi / peraturan daerah (perda) yang adil sehingga ada keadilan pemilik dan pengguna jasa kos-kosan. Perda sebagai alat kontrol bagi kebengisan spekulan dan pemain dalam system ekonomi pasar. Agar para pengelolah kos-kosan tidak bebas menaikan biaya yang cenderung berfokus pada akumulasi profit yang begitu besar.

Jika ketiadaan perda yang mengatur, saya yakin harga akan semakin tak terkontrol dan akan membebani mahasiswa. Karenanya campur tangan pemerintah dalam pasar dengan menciptakan perda yang memihak pada kepentingan mahasiswa adalah sangat mendesak dilakukan dan bagian dari amanat konstitusi. Karena perda adalah cara lain me-moralitas-kan para pelaku bisnis agar tidak hanya fokus pada pemburuan modal (uang) dengan mengurangi pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan. Ketiadaan campur tangan pemerintah, pasar akan semakin kejam dan melibas siapa yang tak berdaya.

Masalah kos-kosan adalah masalah primer yang harus segra diselesaikan. Malasah kos-kosan adalah persoalan hajat hidup mahasiswa dan tentunya juga adalah persoalan hajat hidup rakyat secara umum. Sudah seharusnya mahasiswa melihat kebutuhan yang melekat padanya serta memperjuangkannya dalam segala perspektif.

*Tulisan ini tercipta setelah berjuang mencari kos-kosan yang murah, tapi tak kunjung dapat :D 

~Makassar, 9 Syawal 1436 / 25 Juli 2015

1 komentar:

  1. ..............KISAH NYATA..............
    Ass.Saya Bpak.Apri Yanto Dari Kota Surabaya Ingin Berbagi Cerita
    dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak
    saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,
    saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka
    internet dan menemukan nomor Ki Kanjeng,saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya dikasi solusi,
    awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Ki Kanjeng alhamdulillah sekarang saya dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,
    sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Ki,mau seperti saya silahkan hub Ki
    Kanjeng Taat Pribadi di nmr 085325576777 Kyai Dari Probolinggo,ini nyata demi Allah kalau saya bohong,indahnya berbagi,assalamu alaikum.


    KEMARIN SAYA TEMUKAN TULISAN DIBAWAH INI SYA COBA HUBUNGI TERNYATA BETUL,
    BELIAU SUDAH MEMBUKTIKAN KESAYA !!!


    ((((((((((((DANA GHAIB)))))))))))))))))


    Pesugihan Instant 10 MILYAR
    Mulai bulan ini (juli 2015) Kami dari padepokan mengadakan program pesugihan Instant tanpa tumbal, serta tanpa resiko. Program ini kami khususkan bagi para pasien yang membutuhan modal usaha yang cukup besar, Hutang yang menumpuk (diatas 1 Milyar), Adapun ketentuan mengikuti program ini adalah sebagai berikut :

    Mempunyai Hutang diatas 1 Milyar
    Ingin membuka usaha dengan Modal diatas 1 Milyar
    dll

    Syarat :

    Usia Minimal 21 Tahun
    Berani Ritual (apabila tidak berani, maka bisa diwakilkan kami dan tim)
    Belum pernah melakukan perjanjian pesugihan ditempat lain
    Suci lahir dan batin (wanita tidak boleh mengikuti program ini pada saat datang bulan)
    Harus memiliki Kamar Kosong di rumah anda

    Proses :

    Proses ritual selama 2 hari 2 malam di dalam gua
    Harus siap mental lahir dan batin
    Sanggup Puasa 2 hari 2 malam ( ngebleng)
    Pada malam hari tidak boleh tidur

    Biaya ritual Sebesar 10 Juta dengan rincian sebagai berikut :

    Pengganti tumbal Kambing kendit : 5jt
    Ayam cemani : 2jt
    Minyak Songolangit : 2jt
    bunga, candu, kemenyan, nasi tumpeng, kain kafan dll Sebesar : 1jt

    Prosedur Daftar Ritual ini :

    Kirim Foto anda
    Kirim Data sesuai KTP

    Format : Nama, Alamat, Umur, Nama ibu Kandung, Weton (Hari Lahir), PESUGIHAN 10 MILYAR

    Kirim ke nomor ini : 085325576777
    SMS Anda akan Kami balas secepatnya

    Maaf Program ini TERBATAS hanya untuk 25 Orang saja..

    BalasHapus