Kamis, 28 April 2016

Sabangka Asarope; Tradisi Pelayaran Orang Buton

Saya ingin bercerita tentang film sabangka Asarope, lebih tepatnya meresensi film dokumenter ini. Kebetulan saya adalah salah satu peserta dalam bedah dan diskusi atas film ini. Film ini di produksi oleh seorang Antropolog yang dimiliki oleh Kampus besar yang berada di kawasan timur Indonesia, Universitas Hasanuddin. Tak banyak ilmuan sosial yang turun langsung melihat realitas lapangan yang sesungguhnya. Banyak dari mereka yang hanya duduk dalam ruang-ruang yang dibatasi tembok-tembok akademik kampus dengan teori-teori yang yang kadang sudah usang dan kaku. Padahal ilmuwan sosial haruslah mampu mengimbangi realitas kekinian dan yang akan datang, dengan mengombinasikan teori yang ada bahkan mereka dituntut untuk merevisi dan mencipta konsep baru jika konsep yang lama tidak relevan lagi. Bukan sebaliknya, dimana realitas lapangan harus dipaksakan atau disesuaikan dengan teori dalam tulisan-tulisan akademik. Alasan itulah, saya sangat apresiasi pada kehadiran film dokumenter ini apalagi hari ini globalisai, disatu sisi, telah menggerus sejarah dan kebudayaan masyarakat lokal. Juga tak kalah pentingnya adalah apresiasi kepada Antropolog, Bapak Dr. Tasrifin Tahara, yang beliau bersedia mendedikasikan tugas ilmuwannya untuk mengingatkan kita pada kearifan lokal yang dimiliki nusantara.
 
                                                                           ***
 
Dengan diiringi musik-musik tradisional yang cukup sejuk didengar, munculah seorang anak kecil yang mendayung di atas perahu kecil dengan berseragam pemain sepakbola kondang yang bertuliskan “Messi” dengan nomor 10. Beberapa perahu-perahu tradisional juga sedang berlabu, ada pula yang berlayar. Beberapa lokasi wisata bahari juga tak kalah menarik. Inilah beberapa gambaran awal yang muncul dalam film dokumenter ini.
 
Film ini bercerita tentang tradisi pelayaran masyarakat buton. Karena buton adalah teritori yang cukup luas dan terdiri dari variasi masyarakat, maka film ini dikhususkan pada kisah para pelaut Wakatobi, yang kita tahu bersama Wakatobi adalah kabupaten yang terdiri dari gugusan empat pulau utama: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. 
 
Sebelum film in diputar, terlebih dahulu pak antropolog memaparkan secara garis besar proses pembuatan hingga hambatan-hambatan yang hadir dalam peneletian hingga akhir pembuatan film dokumenter ini. Pembuatan film dokumenter tidaklah semuda pembuatan film fiksi yang produser dan pemeran filmnya dapat bermanufer sesuai dengan skenario yang dituliskan. Juga, mereka dapat menghadirkan suasana yang rill dengan bantuan tekhnologi yang semakin pesat perkembangannya sehingga tampilannya terasa lebih sempurnah. Sedangkan film dokumenter pada prinsipnya adalah adegan dan kejadiannya diupayakan harus se-alami mungkin serta tanpa rekayasa. Contohnya jika dalam skenario film mengharuskan ada aktivitas lumba-lumba secara bergerombolan, maka kameramen harus menunggu para lumba-lumba tersebut hadir di lokasi secara alami sehingga kadang membutuhkan waktu yang sangat lama bahkan berhari-hari atau berminggu-minggu tapi jika para lumba-lumba tidak hadir, mungkin skenarionanya harus dirubah. Sulitkan ? Wajar jika film dokumenter antara scenario dan kenyataan tidak selalu klop.
 
Film diawali dengan tayangan secara umum pelaut di Wakatobi. Bagaiamana kehidupan pelaut wakatobi termasuk nelayan. Diceritakan, nenek moyang masyarakat Wakatobi adalah pelaut yang tidak hanya berpetualang dalam teritorial nusantara melainkan hingga ke luar negeri, Singapura misalnya. Untuk memperjelas itu, dihadirkan testimoni tokoh-tokoh baik pemerintah wakatobi, adat, masyarakat biasa maupun saksi sejarah dalam hal ini pelaut yang telah puluhan tahun mengarungi lautan.
 
“Fangka”. Term ini adalah bahasa daerah (wakatobi) untuk menyebut “perahu”. Fangka tradisional adalah moda transportasi yang digunakan untuk berlayar. Hebatnya, di tengah globalisasi tekhnologi yang belum semassif sekarang, nenek moyang Wakatobi hanya menggunakan layar tanpa mesin untuk menggerakan fangka. Mereka lihai dalam membaca tanda-tanda alam. Bagaimana arah angin, cuaca, kondisi lautan tanpa bantuan tekhnologi moderen. Padahal lautan yang mereka arungi bukanlah lautan yang dengan jarak tempuh yang pendek dan tantangan yang kecil karena jejak-jejak sejarah mereka telah menembus hingga ke luar nusantara.
 
Mistis juga adalah bagian yang selalu melekat pada masyarakat tradisional, tak terkecuali wakatobi. Dalam film diceritakan pula sebuah kisah yang dialami pelaut Wakatobi yang harus menghadapi dasyatnya tantangan di tengah laut dengan terpaan ombak dan badai yang begitu kuat sehingga membuat fangka yang mereka gunakan nyaris tenggelam. Cerita yang dituturkan langsung oleh pelaku sejarahnya (baca: Pelaut/ABK fangka) cukup menimbulkan misteri karena menurutnya, nyaris tenggelamnya fangka karena ada kucing yang ikut menumpang di dalam fangka tersebut. Dijelaskan bahwa saat badai dan ombak itu menerpa, fangka segera dinavigasikan ke pulau untuk berlindung. Saat fangka menepi tepat di pulau tersebut, serta merta si kucing langsung lompat dan lari ke pulau tersebut. Saat kucing itu meninggalkan fangka, ada seseorang yang memberitahukan agar mereka tidak takut lagi berlayar karena menurutnya, sebab nyaris tenggelamnya fangka tersebut karena ada kucing yang ikut bersama mereka. Badaipun berlalu.
 
Poros maritim dan tradisi inklusif
 
Secara singkat dalam film ini bisa dikatakan Nilai-nilai tradisi yang bersemayam di masarakat Wakatobi cukup unik. Adat menjadi bagian dari pemain penting dalam menjaganya. Beberapa pemuka adat menjelaskan itu, apalagi secara pragmatis wakatobi yang dilebih dikenal sebagai salah satu destinasi wisasta menarik di Indonesia sangat memerlukan kelestarian tradisi untuk kepentingan ekonomi pariwisata. 
 
Jika ditelisik lebih dalam film dokumenter ini sesungguhnya menggambarkan bahwa tradisi dan kehidupan maritim sudah berlangsung lama pada masyarakat Wakatobi. Kampanye pemafaatan laut dalam menunjang ekonomi nasioanal yang dilakukan oleh pemerintah kita hari ini (Jokowi-JK) sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Wakatobi. Kita di anjurkan untuk membangun Indonesia dengan memanfaatkan segalam potensi laut yang kita miliki, kemudian di persingkat dengan istilah “poros maritim”. Saya teringat saat awal pidato pelantikan Jokowi-JK, pak presiden Jokowi melontarkan sebuah kalimat “sudah lama kita memunggungi laut”. Hemat saya, pernyataan ini tidak berlaku bagi masyarakat wakatobi karena laut adalah bagian yang tak terpisahkan dari wakatobi. Laut adalah ibu kehidupan bagi mereka. Lautlah yang menjadi sumber kehidupan. Menangkap ikan, menyebrangi lautan, menemukan keluasan wawasan hingga keluar batas-batas geografis Indonesia adalah ciri dari masyarakat Wakatobi sejak dahulu.
 
Alasan inilah, masyarakat Wakatobi adalah tergolong masyarakat yang cukup terbuka (inklusif) dan berpikiran maju. Mereka lebih dahulu dan cepat terglobalisasi dibanding masyarakat lain yang tidak mengenal tradisi petualangan dan pelaut. Tidak mengherankann banyak tradisi kebudayaan di Wakatobi adalah hasil serapan dari kawasan lain saat mereka melakukan petualangan laut. Perjumpaan dengan pikiran-pikiran baru itu, kemudian mereka bawa ke dalam wakatobi dan menciptakan kebudayaan baru sehingga tak salah jika dikatakan Wakatobi adalah bagian dari episentrum silang budaya di kawasan Buton. 
 
Hal ini ditegaskan pula oleh penjelasan lebih lanjut dalam sesi Tanya jawab oleh peneliti/intelektual sekaligus pembuat film ini (baca: pak Antropolog). Saya juga teringat waktu melakukan penelitian kecil-kecilan tentang kebudayaan Wakatobi khususnya pulau Tomia. Saya berdiskusi dengan seorang tokoh masyarakat tentang asal muasal tari daerah pulau Tomia. Tokoh tersebut mengatakan tari “eja-eja” yang dikenal dengan tari daerah milik orang Tomia, sesungguhnya berasal dari kerajaan Bone di Sulawesi selatan. Karena menurut beliau nyinyian asli pengiring tarian ini adalah berbahasa Bone. Hal ini semakin memperkuat tesis bahwa pada dasarnya masyarakat Wakatobi adalah masyarakat inklusif yang terbuka dengan berbagai tradisi lain di luar dirinya. 
 
“Sabangka Asarope” adalah isitilah dalam bahasa lokal Wakatobi yang memiliki makna yang cukup arif dalam tradisi kehidupan masyarakat Wakatobi. Banyak nilai kebijksanaan yang dapat dipelajari. Itulah yang tergambar dalam film ini, jika digali dan dimaknai dengan baik. Bagaiamana kita diajarkan tentang pola kehidupan ‘po asa-asa po hamba-hamba’ (slogan yg hidup di masyarakat Wakatobi ini, dalam film digambarkan sebagai kehidupan yang gotong royong), kebersamaan, saling menghargai, kebulatan tekad, semangat memperluas wawasan, termasuk mistisme yang kerap mengandung pesan kearifan dan masih banyak lagi. Seiring perkembangan zaman, banyak perubahan sosial yang terjadi. Banyak hal yang memaksa baik secara langsung maupun tidak, tradisi serta nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya mulai berubah bahkan ditinggalkan. Ini menjadi tantangan setiap generasi, untuk menjaga, menggali dan mungkin memperbaharuinya. Setidaknya film ini telah mengingatkan kita akan hal itu.
 
*Mungkin resensinya kurang komprehensif menggambarkan isi film, kurang fokus soalnya. Ada yang bikin gagal fokus. Heuheuheu…
 
~Makassar, 28 April 2016

3 komentar:

  1. Yang seperti ini yang patut di diskusi oleh anak rantau, khususnya Wakatobi. Karena saya yakin, banyak yang nggak tahu mengenai sejarah daerah di sana.

    Jujur, saya saja banyak nggak tahu. Perlu terobosan untuk menghadirkan cerita-cerita tentang daerah ke anak-anak sekolah dan remaja, agar tidak buta dengan sejarah daerah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, betul. anak-anak sekolah di kampung harus tahu sejarah2 seperti ini

      Hapus
  2. PENGAKUAN SAYA BERSAMA KELUARGA BESAR SAYA,INI BUKAN REKAYASA ATAU PUN CERITA BENE BENER TERBUKTI SAMASAYA.
    ASSALAMU ALAIKUM WR.WB....
    Perkenalkan nama saya MBAK MASUJI saya sangat berterimah kasih banyak kepada AKI atas bantuanya angka ghoib yang aki berikan (4D) benar-benar tembus 100 mohon maaf AKI ini pengalaman saya...waktu itu saya pernah minta bantuan pada seseorang yang mengaku pintar meramal angka jitu...dan saya harus belajar untuk mendapatkan angkanya sampai saya hutang sana sini tapi apa yang terjadi angka yang saya terimah ngak ada yang keluar mampus dalam hati kecil saya....dimana saya harus bayar hutan yang terlanjur menumpuk ,hingga akhirnya saya di kasih info kepada teman saya untuk menjadi member AKI SALMAN,dan ternyata angka ritual ghoib yang AKI kirim kepada saya ternyata jitu..akhirnya terbayar hutang saya ini dan akhirnya saya Membeli 1 unit rumah di Karawang, Tanah Kavling, dan franchise minimarket .hanya sekedar pengalaman saya...bagi anda yang mau mencoba angka ghoib dari AKI SALMAN silahkan hub/sms di nomor ( 082-310-623-559 ) ngak usah ragu-ragu...karna saya sudah merasakanya..terimah kasih AKI SALMAN..Maka dari itu.

    Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini !!!!

    1"Dikejar-kejar hutang

    2"Selaluh kalah dalam bermain togel

    3"Barang berharga anda udah habis terjual Buat judi togel

    4"Anda udah kemana-mana tapi tidak menghasilkan solusi yg tepat

    5"Udah banyak Dukun togel yang kamu tempati minta angka jitunya
    tapi tidak ada satupun yang berhasil.

    Solusi yang tepat jangan anda putus asa....AKI SALMAN akan membantu anda semua dengan Angka ritual/GHOIB:
    2D_3D_4D SGP / HKG / MALAYSIA / TOTO MAGNUM / dijamin 100jebol
    Apabila ada waktu
    silahkan Hub: AKI SALMAN DI NO: ( 082-310-623-559 )

    INGAT...!!! JANGAN SIA-SIAKAN KESEMPATAN YANG ADA SEBAB

    KESEMPATAN TIDAK MUNGKIN DATANG KE 2 KALINYA...........

    SALAM MAS YANG PUNYA ROOMYA ..

    BalasHapus