Selasa, 31 Mei 2016

Ironi Seleksi perguruan tinggi negeri: “Pintar” semakin pintar dan “bodoh” semakin bodoh

Seperti biasa, setiap tahun pemerintah kita mengadakan seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Banyak isitilah atau singkatan yang digunakan untuk menyebut ini misalnya SNMPTN , SBMPTN, ujian mandiri atau jalur non subsidi atau sebutaan-sebutan lainnya. Tapi substansinya adalah sama, yakni mekanisme seleksi bagi calon mahasiswa baru untuk masuk di perguruan tinggi negeri yang diinginkan.

Menurut system seleksi ini, untuk bisa lolos di kampus negeri, calon mahasiswa harus bersaing dengan begitu banyak peserta dari berbagai pelosok negeri bahkan peserta internasional. Mereka berusaha untuk menduduki kuota kursi yang disediakan. Misalnya jika kuota yang disediakan hanya untuk 100 (seratus) orang maka nilai tertinggi dari seratus orang teratas akan dinyatakan lulus.



Disinilah yang cukup menggelitik dalam pikiran. Saya ingin kembali mendefinisikan hakekat pendidikan atau tujuan pendidikan. Setahuku pendidikan dalam perspektif akademik adalah bagaiamana mendidik orang dari tidak tahu menjadi tahu atau dari sedikit tahu menjadi lebih banyak tahu. Mungkin dalam perspetif moral, orang mendefinisikan juga pendidikan adalah bagaiamana mentransfer nilai-nilai moral atau membangun karakter pada peserta didik. Atau ada yang juga yang mendefinisikan dengan menggabungkan keduanya. 

Karena kita sedang membicarakan tentang seleksi masuk perguruan tinggi negeri, maka saya ingin mengerucutkan diskusi kita pada defiinisi yang pertama atau perspektif akademik. Karena nilai akademiklah yang dijadikan tolak ukur untuk menentukan bisa atau tidak bisanya peserta berkuliah di perguruan tinggi impiannya. Disinilah, saya melihat keironisan dalam seleksi ini. Saya tidak melihat pada jumlah kuota yang disediakan. Letak keironisan itu adalah cara pemerintah menentukan mekanisme seleksi berdasarkan nilai akademik.

Maksudnya saya, kenapa harus nilai yang tinggi nilai akademiknya yang harus lulus? Mengapa orang-orang yang di tidak memenuhi kuota karena nilai akademiknya tidak cukup harus tersingkir? Supaya lebih memudahkan, mari ktia gunakan isitilah “pintar” dan “bodoh”. “Pintar” ditujukan untuk mereka yang lulus karena nilai akademiknya mampu memenuhi kuota yang disediakan, sedangkan”bodoh” ditujukan untuk mereka yang tidak lulus karena nilai akademiknya tidak mampu bersaing berebut kuota. Perlu diingat, peristilahan ini (pintar dan bodoh) bukan untuk membuat pengklasifikasian intelektual karna bagi saya semua manusia hebat dalam bidangnya masing-masing. Pengistilahan ini hanya untuk memudahkan diskusi  dalam tulisan ini.

Mari ingat kembali definisi yang pertama, bahwa tujuan pendidikan untuk merubah orang dari tidak tahu menjadi tahu dan menjadi lebih tahu. Jika yang lulus adalah mereka yang sudah “pintar” secara akademik, bagaimana dengan yang “bodoh” tadi? Artinya mereka yang “pintar” inilah akan semakin pintar karena mereka akan belajar di perguruan tinggi yang di cita-citakan dengan faisilitas yang disediakan oleh pemerintah. Bagaiamana dengan mereka yang “bodoh” ? Mereka akan tetap dalam keadaan “bodoh” karena tidak diluluskan oleh mekanisme dan parameter seleksi pemerintah yang ada. Dengan kata lain, nantinya orang “pintar” akan semakin pintar dan orang “bodoh” yang tidak lulus akan semakin bodoh.

Okelah, kan ada kampus swasta? Pertama, saya tidak sedang menyoroti kampus swasta. Saya mengkonsentrasikan pada kiritikan terhadap system yang dibangun pemerintah dalam seleksi calon mahasiswa baru. Kedua, jika ingin berbicara swasta maka perguruan tinggi swasta pun menerapkan system seleski yang sama (baca: sama dengan system seleksi pemerintah). Mungkin ada pengecualian bagi kampus swasta tertentu yang sangat membutuhkan mahasiswa untuk menghidupi kampusnya sehingga ada kesan jika ada yang mendaftar kemungkinan besar akan lulus atau peserta yang mendaftar secara otomatis akan lulus. Karena sudah jadi rahasia umum, kampus swasta bukan hanya tujuan pendidikan melainkan ada tujuan bisnis yang mengikut.

Solusi

Saya membayangkan, suatu ketika calon mahasiswa baru akan mengikuti seleksi berdasarkan potensi atau minat yang dimiliki. Perguruan tinggi akan menerapkan system seleksi bukan hanya berdasarkan nilai akademik, melainkan bagaiamana mendeteksi calon mahasiswa berdasarkan bakat. Misalnya jika ingin masuk di jurusan ekonomi bisnis, system seleksinya  bagaiamana mengetahui minat peserta di jurusan tersebut. Jangan sampai harusnya ingin kuliah di jurusan farmasi namun nyasar ke jurusan bisnis. Ini akan lebih manusiawi karena berkuliah sesuai dengan minat dan bakat membuat mahasiwa lebih bahagia dan akan berefek pada kreativitas dan prestasi. Sayangnya, hari ini pilihan jurusan banyak karena alasan gensi atau prestise sosial. Jika kuliah di kedokteran berarti anda pintar dan “waow”, kuliah di jurusan lain kurang “waow”. 

~Makassar, 31 Mei 2016, hari terakhir seleksi bersama perguruan tinggi negeri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar