Rabu, 25 Mei 2016

Supaya tak ada dusta di antara kita

Saat Samuel P Huntington, seorang profesor ilmu politik dari Universitas Harvard Amerika mengemukakan karyanya yang cukup monumental tentang peta politik dunia, sontak menimbulkan pembicaraan di kalangan ilmuwan sosial politik terutama yang fokus pada masalah-masalah dunia. “The Clash of Civilizations”, atau di Indonesia di kenal dengan isitilah “Benturan antar Peradaban”. Setidaknya buku ini menggambarkan akan ada benturan antar peradaban di dunia. 

Bermula ketika berakhirnya perang dingin antara dua peradaban besar dunia, yakni peradaban komunisme dan peradaban liberalism (kapitalisme). Perang dingin itu melahirkan peradaban liberalism (kapitalisme) sebagai pemenang yang di pimpin oleh Amerika dan eropa barat sebagai simbol dari “barat”. Dengan kata lain peraban liberalism selalu diidentik dengan peradaban barat diamana mayoritas warganya beragama kristen. Sehingga ada kesan bahwa peradaban barat dibangun di atas penyerapan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran kristiani. 

Inilah simbol persaudaran dan perdamaian antar dua tokoh agama dunia

Menurutnya, kekuatan peradaban barat ini ditandai dengan massifnya globalisasi yang mengalir keseluruh dunia. Disinilah peradaban barat semakin berkuasa mencengkram seluruh masyarakat dunia. Namun, menurutnya peradaban barat tidak akan berkuasa dengan tenang karena ada peradaban lain yang akan lahir untuk menyaingi. Disinilah nantinya akan terjadi konflik (benturan) antar peradaban. Salah satu peradaban besar dan paling sengit melawan adalah peradaban Islam.

Salah satu Implementasi dari teori ini adalah penyerangan (invasi) militer AS terhadap Iraq yang saat itu Iraq dipimpin oleh Saddam Husain. Ada frame yang terbangun bahwa AS adalah symbol barat (Kristen) dan Iraq adalah symbol timur (islam). Secara tidak langsung, teori yang dikemukakan oleh Huntington ini ingin mengatakan bahwa konflik keduanya adalah hal yang wajar karena dunia telah masuk dalam fase perang (benturan) peradaban.

Namun, teori ini melahirkan banyak kritik. Oleh para kritikus, terori ini sangat bermakna politis. Teori ini seolah hanya dilahirkan untuk memberikan ke absahan (legitimasi) atas kejahatan perang AS terhadap masyarakat Iraq. Juga menurut mereka, Huntington terlalu menjebak teorinya pada persoalan konflik. Padahal derasnya aliran globalisasi keseluruh dunia akan melahirkan interaksi antar masyarakat dunia. Perbedaan yang menjadi benih-benih konflik justru akan buyar dengan adanya saling pemahaman karena adanya komunikasi (interkasi). Bahkan orang-orang akan saling kerja sama karena saling membutuhkan satu sama lain sehingga konflik pun akan diminimallisir bahkan hilang. Ini yang absen dari Huntington.

Hari ini masyarakat dunia di perhadapkan pada konflik sosial yang berlarut-larut dan belum jelas kapan usai. Agama dijadikan symbol perlawanan atau symbol organisasi teroris bahkan ada yang menyalahkan agama sebagai sumber konflik. Lahirpun istilah konflik antar agama, misalnya Kristen vs Islam atau Sunni vs Syiah. Sebagai contoh, oleh banyak orang yang masih berpikiran sempit dan picik, melihat konflik timur tengah hanya sebagai konflik agama. Padahal konflik tak sesederhana itu. Konflik melibatkan banyak faktor yang cukup kompleks.

Konflik melahirkan banyak kerugian kemanusiaan dibanding keuntungan. Lihatlah jutaan orang yang mengungsi karena ketiadaan harapan hidup di tempat asal mereka. Kematian dimana-mana. Hak-hak pendidikan yang terabaikan. Orang tua, wanita, anak-anak dan masyakat sipil yang tidak berdosa lainnya jadi korban kekejaman konflik. Singkatnya konflik telah banyak melahirkan kepedihan dan kehancuran kemanusiaan.Tidak salah jika banyak elemen-elemen masyarakat dunia mulai berteriak lantang agar konflik ini segera di selesaikan.

Melihat situasi ini, “benturan peradaban” yang diperkenalkan oleh Huntington, kini banyak yang menggantikan dengan “Dialog antar peradaban”. Dialog peradaban adalah salah satu solusi untuk mengatasi konflik ini. Kita diharapkan agar membuka sekat-sekat perbedaan di antara kita. Kita harus saling terbuka untuk mempertemukan titik-titik kesamaan sehingga perbedaan yang dapat melahirkan konflik dapat dieliminasi. Saling komunikasi dan saling memahami harus dilakukan agar tidak terjadi kekakuan dan kecurigaan.

Kita harus melihat silaturahmi dan dialog antar tokoh-tokoh agama sebagi hal yang perlu di hargai (apresiasi). Hal ini harus terus di dorong meskipun telah banyak tokoh-tokoh yang melakukannya. Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh dua tokoh agama baru-baru ini yakni Grand Syekh Al Ahzar Kairo, Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb dan Pimpinan Katolik dunia, Paus Fransiskus. Pertemuan keduanya akan menjadi bagian symbol perdamaian dunia. Terlebih keduanya adalah tokoh yang kharismatik dan dihargai di dunia sehingga banyak masyarkat dunia akan menginspirasinya. Kekakuan yang selama ini menjadi hambatan berkomunikasi dan berinteraksi akan segara mencair menjadi persaudaraan dan saling kepahaman satu sama lainnya.

Mungkin, ada orang yang masih melihat pertemuan atau dialog ini (baca: dua atau lebih agama) sebagai ke-tabu-an. Bagi islam, pertemuan (persaudaraan) dalam perbedaan agama tidak dilarang bahkan diwajibkan. Rasul Muhammad SAW sangat baik kepada orang yang bukan penganut islam. Misalnya dalam sebuah kisah yang pernah ada. Ketika setiap Rasul melewati sebuah jalan, ada seroang Yahudi yang selalu menghinanya bahkan melemparnya dengan batu atau kotoran. Rasul tidak pernah dendam apalagi membalas. Suatu ketika Rasul agak keheranan karena hari itu tidak ada lagi orang yang biasa menghinanya. Ternyata si Yahudi sedang sakit. Rasul segera menjenguknya. Si Yahudi pun kaget dan terharu. Si Yahudi mengatakan, selama ini orang yang selalu saya hina dan sakiti ternyata adalah orang yang pertama membesuk saya bahkan saudaranya pun belum ada yang datang membesuk. Akhirnya si Yahudi memeluk islam.

Inilah pentingnya saling menghargai dan menyambung persaudaraan (silaturahmi) satu sama lain. Kita tak perlu memandang mereka dari golongan mana atau agama apa. Dengan itu, tak akan ada dusta di antara kita.

~Makassar, 25 Mei 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar