Selasa, 24 Mei 2016

Waisak dan Indahnya saling menghargai

Tidak seperti biasa, suatu sore di hari minggu di kota Makassar. Tepatnya dua hari yang lalu, terhitung saat menulis artikel ini. Biasanya kendaraan kurang memenuhi jalan raya, seperti hari-hari kerja yang sering memacetkan jalan raya. Tapi sore itu tiba-tiba jalan macet.

Awalnya saya kurang tahu apa yang sedang terjadi. Kebetulan saat itu, saya sedang mengendarai motor. Terlihat ada kerumunan orang-orang yang sedang berjalan kaki. Ada juga sebuah panggung yang cukup besar yang ikut digerakan oleh orang-orang. Semacam ada demonstrasi, tapi bukan demonstrasi.

Asumsi awal, ini ada demonstrasi karena di Makassar kegiatan seperti ini jamak terjadi. Tapi ketika saya semakin mendekat ternyata asumsi yang terbangun tadi, salah meskipun agak mirip. Pasalnya ada pertunjukan di atas panggung yang di tengah jalan raya. Di depannya ada gerombolan orang-orang yang berpakaian seragam seperti anggota organsasi yang sedang mempertunjukan sesuatu. Yah, memang sepeti mahasiswa yang tengah berdemonstrasi.

festival perayaan waisak di kota makassar

Sampailah motor, yang saya dan adik saya, kendarai di lokasi yang memacetkan jalan itu. Saya bertanya pada orang-orang disekitar situ, “ada apa?” sembari saya membaca baju beberapa orang-orang yang mendorong panggung dari belakang. Terdengar jawaban dan terbaca tulisan tersebut hampir bersamaan. Ada Festifal perayaan Waisak. Perayaan hari besar agama Budha. Saya baru ingat, hari minggu ini, saudara kita dari umat budha sedang merayakan hari besar agamanya.

Jalan-jalan diruas jalan itu macet. Pengendara yang melewati ruas jalan itu, dipastikan terhambat. Mungkin sebagian dari mereka terganggu. Tapi tidak bagi saya. Saya melihat peristiwa ini adalah keunikan tersendiri. Ini sebuah peristiwa seni dan budaya pertama yang saya saksikan secara langsung, dilakukan oleh umat budha. Karenanya, menikmatinya adalah hal pantas untuk dilakukan dibanding cemberut atau protes atas kemacetan jalan. Terlebih jarang hadir hiburan semacam ini di tengah kota besar seperti Makassar. 

Di atas panggung terlihat ada seekor “moyet” yang sedang menari-menari memainkan tongkatnya. Saya sedikit terkejut, dia mirip jagoan dari film yang pernah saya nonton. Kebetulan lagi, film itu adalah salah satu film favorit saya sampai sekarang. Dialah “sungkokong”, jagoan dari film “kera sakti”. Dan orang-orang yang berjalan dengan kostum yang seragam di depan panggung itu, semacam pasukan dari negeri kahyangan. Sungguh, mengasikan !!!

Saya kurang begitu tahu lebih dalam tentang ajaran Budha. Menonton kera sakti dan menyaksikan festifal waisak, menambah pengetahuan saya tentang ajaran agama ini. Mungkin tidak ada salahnya jika ingin sedikit membangun asumsi tentang ajaran budha dari film kera sakti. Film itu menceritrakan tentang perjalanan dan perjuangan sungkokong dan kawan-kawannya serta di temani dengan seorang guru yang suci. Berbagai halangan dan rintangaan yang menentang mereka hadapi, yang hampir semuanya adalah siluman yang mengajak pada keburukan. Mereka harus mengalahkan dan menuntaskan rintangan dari siluman ini. Atas bantuan dari gurunya yang sabar dan selalu mengajarkan tentang kebaikan, mereka akhirnya sukses mendapatkan kitab suci untuk diajarkan ke umat manusia. 

Saya juga tidak akan protes kenapa mereka harus memacetkan jalan raya. Cara yang mereka lakukan bukanlah tanpa alasan. Jika kita berpikir positif, mereka ingin mengingatkan kita tentang nilai-nilai kebaikan yang dibawa oleh agama yang diyakininya. Apalagi hari ini di era modernitas terutama yang paling di rasakan oleh masyarakat urban (kota), secara perlahan telah mengikis bahkan membunuh nilai-nilai moral setiap agama. Kita harus melihat mereka secara bijak.

Terlebih kita sedang hidup di negara yang berlandaskan pancasila. Pancasila mengajarkan tentang kebersamaan dan penghargaan terhadap perberbedaan. Semua perbedaan yang terhampar dari merauke sampai sabang telah diakomodasi oleh pancasila. Karenanya pancasila tidak hanya dimiliki oleh satu golongan atau kelompok saja melainkan miliki kita semua, milik semua warga Indonesia. Kita semua punya hak dan kewajiban untuk  memilikinya.  Sehingga negara wajib melindungi dan menghargai perbedaan-perbedaan itu. Kemudian, pun perbedaan-perbedaan itu harus saling menghargai satu sama lain. 

Menghargai bukan berarti secara otomatis mengikuti ajaran yang mereka bawa. Jika ada yang berpikir demikian, mereka perlu memahami ilmu logika terlebih dahulu. 

Dalam buaian asiknya menyaksikan pertunjukan itu, saya harus meniggalkan lokasi itu. Pak polisi yang mengawal acara tersebut menginstruksikan agar saya yang sedang di atas motor, mencari tempat lain untuk menepi. Maklum saja, di belakang ada banyak kendaraan lain yang ingin melintas. Tentunya sebelum meninggalkan lokasi itu, kamera yang selalu saya bawa, harus membidik dahulu.

Sesaat setelah meninggalkan lokasi, saya tersadarkan bahwa festival yang sempat memacetkan jalan tadi adalah tempat saya dan umat islam lain sering melaksanakan shalat Id, shalat hari raya umat islam. Kami pun menggunakan jalan hingga saat shalat tak ada kendaraan bermotor yang melintas. Jadi jika jalanan macet atau terganggu karena festival ini, saya dan umat islam lain tak perlu protes. Lagian islam pun mengajarkan untuk menghargai dan tidak mengganggu pemeluk agama lain untuk beribadah. Ah, Saling menghargai itu indah 

~Makassar, 24 Mei 2016

1 komentar:

  1. PENGAKUAN SAYA BERSAMA KELUARGA BESAR SAYA,INI BUKAN REKAYASA ATAU PUN CERITA BENE BENER TERBUKTI SAMASAYA.
    ASSALAMU ALAIKUM WR.WB....
    Perkenalkan nama saya MBAK MASUJI saya sangat berterimah kasih banyak kepada AKI atas bantuanya angka ghoib yang aki berikan (4D) benar-benar tembus 100 mohon maaf AKI ini pengalaman saya...waktu itu saya pernah minta bantuan pada seseorang yang mengaku pintar meramal angka jitu...dan saya harus belajar untuk mendapatkan angkanya sampai saya hutang sana sini tapi apa yang terjadi angka yang saya terimah ngak ada yang keluar mampus dalam hati kecil saya....dimana saya harus bayar hutan yang terlanjur menumpuk ,hingga akhirnya saya di kasih info kepada teman saya untuk menjadi member AKI SALMAN,dan ternyata angka ritual ghoib yang AKI kirim kepada saya ternyata jitu..akhirnya terbayar hutang saya ini dan akhirnya saya Membeli 1 unit rumah di Karawang, Tanah Kavling, dan franchise minimarket .hanya sekedar pengalaman saya...bagi anda yang mau mencoba angka ghoib dari AKI SALMAN silahkan hub/sms di nomor ( 082-310-623-559 ) ngak usah ragu-ragu...karna saya sudah merasakanya..terimah kasih AKI SALMAN..Maka dari itu.

    Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini !!!!

    1"Dikejar-kejar hutang

    2"Selaluh kalah dalam bermain togel

    3"Barang berharga anda udah habis terjual Buat judi togel

    4"Anda udah kemana-mana tapi tidak menghasilkan solusi yg tepat

    5"Udah banyak Dukun togel yang kamu tempati minta angka jitunya
    tapi tidak ada satupun yang berhasil.

    Solusi yang tepat jangan anda putus asa....AKI SALMAN akan membantu anda semua dengan Angka ritual/GHOIB:
    2D_3D_4D SGP / HKG / MALAYSIA / TOTO MAGNUM / dijamin 100jebol
    Apabila ada waktu
    silahkan Hub: AKI SALMAN DI NO: ( 082-310-623-559 )

    INGAT...!!! JANGAN SIA-SIAKAN KESEMPATAN YANG ADA SEBAB

    KESEMPATAN TIDAK MUNGKIN DATANG KE 2 KALINYA...........

    SALAM MAS YANG PUNYA ROOMYA ..

    BalasHapus