Sabtu, 10 Februari 2018

Perlu Ruang Publik dan Keahlian Seni Fotografi

Hujan masih penuh tanda tanya apakah akan benar-benar turun dengan deras atau tidak. Memang inilah yang terjadi dengan hujan di Makassar seminggu terakhir ini yang kadang menjadi batu sandungan untuk melakukan aktivitas out door.

Matahari mulai menampakan wajahnya meskipun mulai menuju ke kaki-kaki langit di ufuk barat. Pada saat yang sama, awan-awan hitam saja terus berseliweran di langit. Tampak seolah ada kompetisi untuk siapa yang akan menguasai langit saat itu. Tiba-tiba seorang kawan menanyakan keberadaanku melalui aplikasi WhatShapp. “Posisi?”. Di mabes (markas besar). Balasku. 



Singkat cerita, kami menyepakati suatu tempat yang bagus untuk nongkrong. Memang moment saat itu adalah saat dimana orang-orang mulai usai dari aktivitas hariannya. Benarnya saja, tempat tujuan kami itu memang dipadati orang dari berbagai latar belakang. Mereka sama dengan kami: Refreshing. 


Universitas Hasanuddin (Unhas). Inilah salah satu destinasi wisata bagi masyarakat Makassar dan mungkin juga orang-orang luar Makassar. Unhas memang salah satu lembaga pendidikan artinya aktivitas utama dalam peruntukannya adalah untuk pendidikan. Tapi konsep penataan lingkungannya dengan pohon-pohon yang begitu rimbun sehingga menjadikannya bukan hanya sebagai kawasan pendidikan melainkan wisata. Saya sering kali menanyakan pendapat banyak orang tentang suasana lingkungan Unhas, diluar masalah pendidikan Universitas ini. Semua jawaban yang saya dapatkan adalah Unhas punya suasana yang rindang dan banyak tempat yang membuat orang nyaman untuk menikmatinya. Bahkan hal ini membuat Unhas dimasuk dalam program Pemerintah Kota Makassar sebagai kawasan Hutan Kota.


Melihat fungsinya sebagai ruang publik dimana orang-orang dapat bertemu, bersosialisasi atau sekedar datang bereakreasi untuk rehat dari rutinitas, maka penting untuk menghadirkan banyak tempat seperti ini. Sayangnya ruang publik seperti ini kurang menjadi prioritas di kota ini. Itu bisa dilihat dari perbandingan jumlah ruang publik dan jumlah penduduk di suatu kota. Terlebih lagi, hari ini pola kehidupan manusia bergerak menuju masyarakat yang individual dan secara perlahan kebersamaan dalam dunia rill - akibat massifnya tekhnologi dengan segala perangkatnya semisal media sosial dimana orang-orang cenderung hanya bertemu di dunia maya - semakin terkikis. Maka perlu digalakan keberadaan ruang publik sebagai wadah untuk pertemuan dan sosialisasi untuk mengimbangi gerak masyarakat yang meninggalkan pola hidup kebersamaan. 


Terlepas dari itu, saya apresiasi Unhas yang mendesain dirinya bukan hanya sekadar lembaga pendidikan tapi juga sebagai tempat rekreasi. Saya katakan rekreasi karena memiliki banyak hal yang mengundang daya tarik banyak orang untuk berkunjung menikmati suasana lingkungannya. 


Karena alasan inilah saya dan kawan berkunjung kesini (baca: Unhas) meskipun saya bisa dikatakan tiap hari berada di kampus ini tapi sulit untuk menemui kejenuhan. Salah satu kebutuhan manusia modern di era industrialisasi adalah hiburan dan juga aktualisasi. Salah satu perwujudan aktualisasi adalah mengambil gambar kemudian diabadikan dalam jepretan-jepretan kamera dan pada akhirnya di upload di media sosial untuk disaksikan oleh kawan-kawan di media sosial. Tentunya untuk mendapatkan gambar yang bagus, salah satu faktor penentunya adalah keahlian fotografer. Maka berjalanlah dengan orang yang ahli dibidang ini agar gambar diinginkan sesuai harapan. 


Saya pernah punya pengalaman berjalan/rekreasi/berpetualang dengan kawan-kawan yang tidak punya skill dan seni di bidang fotografi, sementara saya punya skill dan seni di bidang ini (hehe..). Konsekuensinya adalah saya menjadi fotografer bagi mereka dan gambar mereka pun lumayan bagus dan kebalikan dengan saya. Tapi untungnya direkreasi kali ini, saya dan kawanku sama-sama punya keahlian dalam memotret. Harus diakui. Haha.


~Makassar, 10 Februari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar